
Suamiku Pria Tulen #54
Oleh Sept
Rate 18+
"Jangan katakan aku menjebakmu, karena semalam kamu yang minta," cetus Irna dengan enteng. Wanita itu kemudian menarik selimut, menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Meski terlihat tenang dan acuh, sebenarnya ia geli sendiri. Mengapa susah sekali membuat menara itu berdiri dengan kokoh. Astaga! Mengelikan sekali. Tanpa sadar, bibir Irna malah mengembang. Menertawakan kejadian semalam.
"Jangan mengada-ada! Aku tidak akan pernah tertarik dengan manusia sejenismu!" sentak Rama yang marah. Pria itu murka lantaran yakin, bahwa semalam Irna sengaja memasukkan sesuatu dalam minumannya.
"Simpan tenagamu, jangan marah-marah!" Irna malah tersenyum, seolah sedang mengejek Rama.
Bukkkk
Rama melempar bantal ke arah Irna. Diperlakukan seperti itu, wanita tersebut tidak sakit hati. Irna justru puas dan meninggalkan kamar itu dengan bibir yang terus menahan senyum.
"Astaga, tubuhnya saja yang gagah!" batin Irna sambil memunguti baju yang berserakan di atas lantai. Ia pergi dengan senyum meledek.
***
Suatu hari, Rama menyuruh Irna untuk mengundang makan malam keluarga Arya. Ia tidak peduli apapun. Pokoknya Irna harus bisa membuat keluarga Arya ke rumahnya. Dengan alasan apa saja, akhirnya Irna berhasil membujuk Nur untuk menghadiri undangan makan malam di rumahnya.
__ADS_1
Jamuan makan malam di kediaman Rama, yang kala itu memakai identitas palsu, berjalan dengan hangat. Rama menyapa tetangannya itu dengan ramah. Dan tidak ada yang curiga.
"Senang bisa berkenalan dengan kalian," Rama berjabat tangan dengan Arya. Dan saat ia bersalaman dengan Nur, Rama menatap dengan tatapan aneh.
Irna melihat hal itu, dan dari tatapan tersebut, Irna yakin bahwa Rama memang mengincar istri tetangganya.
***
Kediaman Brotoseno
"Bagaimana menurut Mas Arya? Mereka ngajakin kita liburan bareng. Cua pasti senang jalan-jalan ada temannya. Mana gratis menginap di resort milik mereka, mau ya, Mas?" Nur langsung tergiur karena iming-iming gratis.
Bibir Nur langsung mengerucut, apa mungkin ia ngidam jalan-jalan? Padahal hamil Cua pas dulu saja, dia anteng banget. Nggak neko-neko. Apa karena beda pembuatannya? Calon bayi yang ini kan dibuat dengan balutan kasih dan sayang, dan papanya memang betul-betul sultan. Jadi, ngidamnya ya jalan-jalan.
Sudah tiga hari berlalu, Nur terlihat murung. Dan Arya menyadari akan hal itu. Jujur, ia kurang srek bila harus liburan bersama orang yang baru dikenal. Apalagi Rama masih buron, jadi wajar kalau ia over protective pada keluarganya.
Malam harinya.
"Apa ini?"
Nur membuka amplop dari Arya. Matanya langsung berbinar saat melihat beberapa lembar ticket.
__ADS_1
"Makasih, ya."
Bila semula mukanya masam, kini Nur terlihat senang. Arya pun sama, barangkali Nur memang ngidamnya jalan-jalan. Maka ia pun memenuhi permintaan istrinya tersebut. Berlayar ke Maldives.
***
Maldives Ocean Villa
Arya dan keluarga kecilnya sedang menikmati liburan mereka. Liburan khusus untuk Nur yang lagi ngidam. Tanpa mereka tahu, Rama juga ada di sana. Ia sedang mengikuti Arya diam-diam. Tentunya tidak sendiri, ada Irna juga di sana.
Pantai
Nur dan Arya sedang berjalan menyusuri pantai, keduanya menikmati hembusan angin pesisir yang melambai-lambai di tepi pantai. Sedangkan Cua, anak itu masih tidur di resort dengan Bibi.
"Suka pantainya?" tanya Arya sembari memegang tangan Nur. Mengengamnya dengan erat seolah tak terlepas.
"Hemm ... Suka! Suka sekali. Aku suka warna langitnya ... suka warna lautnya .... dan suka ini."
Nur mengangkat tangan mereka yang jari-jarinya masih bertautan. Membuat senyum di bibir Arya langsung merekah.
Tidak jauh dari sana, Rama menatap penuh api cemburu. Bersambung.
__ADS_1