Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Menikah Lalu Berpisah


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #94


Oleh Sept


Rate 18 +


Malam itu juga Irna menyusul suami serta anaknya ke Medan. Ia tidak sabar jika harus menunggu besok. Irna pun langsung pesan ticket saat itu juga, saat Kendra cerita apa yang terjadi di sana.


Di dalam penerbangan malam itu, Irna nampak gelisah. Mengapa ia begitu semangat? Lalu bagaimana dengan perasaan Kevin? Ibu dua anak itu merasa sangat berat sekali. Serasa ada di persimpangan jalan. Galau sejadi-jadinya. Satu sisi ia tidak tega dengan Kevin, satu sisi ia ingin masalah Kendra cepat beres.


Bayang-bayang penjara pasti akan meliputi Kendra selama anak itu tidak bertanggung jawab. Bila keluarga Bima sampai melaporkan tindakan Kendra, mungkin putranya tersebut akan habis sudah.


Sekarang, setelah mendengar bahwa Dita sedang hamil. Makin paniklah Irna, rasanya ingin segera menikahkan keduanya. Ia jadi terkenang masa lalu. Bagaimana Ken lahir tanpa ayah. Lalu ia bayangkan hal itu pada Dita. Rasanya hal itu tidak boleh terulang. Cucunya harus memiliki ayah sebelum lahir ke dunia.


***


Hotel Marriott Medan


Irna sudah berada di salah satu kamar hotel president suit. Wajahnya nampak serius mendengar kata-kata Rama.


"Bagaimana dengan Kevin? Kevin pasti kecewa bila calon istrinya malah menikah dengan adiknya sendiri."

__ADS_1


Tumben Irna memikirkan nasib putra pertamanya, batin Rama.


"Lalu bagaimana dengan nasib gadis yang sudah dirusak oleh Ken? Apa kamu membiarkan saja? Sudah bagus keluarga Bima tidak menuntut."


"Kendra bagaimana?"


"Anak itu mau tanggung jawab. Tadi Dita tidak mau."


Irna diam sesaat.


"Biar aku yang urus!" cetusnya kemudian.


Esok harinya.


Keluarga Rama diterima dengan terbuka oleh tuan Bima dan istrinya. Sebenarnya hubungan mereka sudah terjalin baik, hanya karena Kendra. Hubungan itu rusak dan menimbulkan ketidaknyamanan antara kedua belah pihak.


"Boleh saya bicara denga Dita?" tanya Irna dengan hati-hati. Sebab sejak tadi calon mantunya itu tidak kelihatan.


Nyonya Bima, mengangguk. Kemudian mengantar Irna ke kamar Dita.


KLEK

__ADS_1


"Dit, mamanya Kevin datang."


Mendengar kata Kevin, mata Dita langsung perih. Ya Tuhan, mengapa nasib asmaranya jadi begini?


"Dita nggak mau, Tante."


Gadis yang sudah ternoda dan kini hamil tersebut menggeleng keras. Bersikeras tidak mau menerima lamaran Kendra.


"Maafin Tante, Tante mungkin ibu paling egois di dunia ini. Tapi tolong ... bantu Tante untuk membayar dosa-dosa anak Tante. Tante mohon sekali lagi, demi anak itu. Tante tidak bisa membayangkan. Kamu melahirkan tanpa suami, lalu bagaimana nasib cucu Tante? Jangan biarkan dia lahir tanpa ayah, Dit."


"Nggak Tante, Dita nggak mau hidup di neraka. Menikah dengan Kendra artinya hidup Dita sudah berakhir. Maaf bila kata-kata Dita bakal nyakitin Tante Irna. Tapi Dita harus jujur kalau Dita sudah muak dengan putra Tante. Dita bahkan jijik melihat tubuh Dita sendiri."


Gadis itu memalingkan wajah, mengusap pipinya yang sudah berderai air mata.


"Maafin Kendra, Dit ... Maafin Tante yang tidak bisa mendidiknya." Sama seperti Dita, Irna juga tersedu. Ini pasti sulit bagi gadis tersebut. Dan Irna paham betul akan hal itu.


"Sekarang Tante bisa pergi, Dita tetap pada keputusan semula. Dita tidak mau menikah."


Tiba-tiba Kendra muncul.


Pria itu masuk begitu saja dan mendekati Dita. Didekati Kendra, Dita langsung beringsut. Wajahnya terlihat panik.

__ADS_1


"Menikahlah denganku, meskipun kamu sangat membenciku. Setelah anak itu lahir, maka pernikahan itu pun berakhir." Bersambung.


__ADS_2