
Suamiku Pria Tulen #80
Oleh Sept
Rate 18+
Rama mengepalkan tangan, mengetahui perbuatan Irna di belakangnya. Padahal ia sudah memperingati istrinya itu, agar tidak menyentuh apapun di dalam ruang kerjanya. Tapi, Irna malah melangar aturan darinya. Kini Rama pulang dengan wajah yang sudah mengeras.
Tap tap tap
Terdengar derap langkah yang pelan, seolah sedang mengintai mangsa. Rama menyusuri lorong mansion menuju ruang kerjanya. Sedangkan matanya, masih terfokus pada layar yang ia pegang. Dilihatnya Irna masih membuka ini itu di ruang kerjanya.
Setelah beberapa langkah, akhirnya Rama pun tiba. Dengan pelan ia membuka pintu dengan mudah.
"Mencari apa?"
Itu adalah kata tanya yang membuat jantung Irna berdegup kencang. Wanita itu pun menoleh, dengan jantung yang hampir copot karena terkejut. Mengapa suaminya ada di rumah jam segini? Irna langsung salah tingkah dan sedikit merasa takut. Padahal selama ini ia terkenal berani sekali.
"Katakan! Sedang apa kau di sini?"
"Aku ... aku hanya ..." Irna tidak bisa menjawab. Tiba-tiba dikuasai rasa takut dan gugup.
"Apa yang kau cari, Irna?"
Rama mencengkram lengan Irna ketika wanita itu mundur beberapa langkah.
"Maafkan aku, Ram ... aku hanya ..."
__ADS_1
"Apa kau lupa, apa kata-kataku? Apa yang membuatmu penasaran hingga melangar aturan yang aku buat?"
Irna hanya mampu menelan ludah, wajahnya sudah mulai pucat karena takut. Sorot mata Rama yang kemarin penuh kasih padanya, kini sangat dingin. Membuat Irna merasa ngeri.
"Katakan? Apa yang kau cari? Bila ingin tahu, tanyakan padaku langsung. Aku tidak suka ada pencuri di dalam rumahku."
Deg
Irna makin menciut, disebut suaminya sendiri sebagai pencuri. Membuat Irna semakin takut, sepertinya Rama benar-benar sedang marah padanya.
"Ram ...!"
Irna mencoba meminta dilepaskan, dengan menatap iba pada suaminya.
"Sebutkan, apa saja yang ingin kamu tahu!"
Rama melepaskan cengkraman tangan pada lengan Irna. Kemudian membelai pelipis Irna dengan dingin. Tatapan mata pria itu seolah sudah siap untuk mencabik-cabik tubuh Irna saat itu juga.
Irna memegang tangan pria tersebut. Irna takut lama-lama di ruangan itu.
"Aku lihat Ken dulu, mungkin ia sudah bangun." Irna mencari alasan untuk lolos dari kamar itu.
"Dia masih tidur!" balas Rama dengan tegas.
Lagi-lagi Irna dibuat hanya bisa menelan ludah dan merasakan sensasi takut yang tidak biasa. Meskipun itu adalah suaminya. Entah mengapa, aura Rama kala itu membuat bulu-bulu Irna melambung karena takut.
"Ram ... aku mau keluar."
__ADS_1
Rama tersenyum hambar.
"Siapa yang menyuruh masuk?"
"Rammm."
"Jangan panggil namaku lagi!" ujar Rama dengan dingin.
"Rama ... jangan membuatku takut!" sentak Irna yang sepertinya sudah putus asa dengan rasa takutnya sendiri karena melangar aturan Rama di mansion mewah milik pria tersebut.
"Kau mungkin akan jauh lebih takut, setelah rasa penasaranmu terpuaskan." Rama menatap dengan wajah sinis.
"Janji ... aku nggak akan membuatmu marah lagi."
Irna mencoba merayu agar kali ini dimaafkan.
"Terlambat!"
"Rammm!"
"Jangan sebut namaku lagi!" ujar Rama galak. Ia tidak suka Irna memanggil namanya.
"Jangan marah. Aku hanya penasaran ... mengapa wajah di foto itu sangat mirip Kendra."
Rama langsung memegang kedua pundak wanita tersebut.
"Itu aku, wajah lamaku. Puas? Ku harap kau tidak mencari tahu lagi. Atau ... ada akibat yang harus kau bayar cukup mahal untuk rasa ingin tahumu itu."
__ADS_1
Irna menelan ludah.
"Untuk apa kamu merubah wajahmu? Kamu bukan buronan, kan?" Bukannya diam dan menurut. Irna malah memancing huru-hara. Dan mata pun Rama melotot tajam ke arahnya. Bersambung.