
Suamiku Pria Tulen #95
Oleh Sept
Rate 18 +
"Apes banget sih gueee!"
Lea mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mondar mandir di depan ruang UGD.
KLEK
Begitu dokter keluar, Lea langsung menghampiri pria berjas putih tersebut.
"Dia nggak mati kan, Om?"
Dokter Irawan spontan tersenyum.
"Kenapa harus mati?" Pria dengan uban di rambutnya tersebut mengusap kepala Lea. Dokter Irawan adalah dokter kenalan keluarga Pramudya.
Begitu Lea mendapati pria pingsan di tangga darurat bersamanya, ia langsung membawa pria tersebut ke rumah sakit. Dan kebetulan ada dokter Irawan di lobby. Sungguh kebetulan, Lea langsung menyeret jas dokter yang sudah seperti pamannya sendiri tersebut.
"Terus kenapa dia tiba-tiba nggak sadar? Pakai acara pagang dadanya. Kan Lea takut, Om."
"Jangan khawatir, tekanan darahnya sangat rendah. Bisa jadi karena begitu stres. Ngomong-ngomong siapa dia? Cowok kamu, Lea?" Dokter Irawan menggoda Lea. Ia senang dengan kepribadian Lea yang paling berbeda di antara saudaranya. Paling ceplas-ceplos, kalau bicara tanpa filter dan jiwa mudanya yang membara.
"Astaga Om! Jangan ngarang ... Mana ada pacar Lea model begitu! Ish!"
Bagi Lea pria yang ada di dalam ruangan tersebut bukanlah kriteria Lea. Kurang laki dan manly. Kurang menantang! Pria di depan terlalu rapi dan kaku, sudah jelas mirip dengan karakter sang papa. Oh, No. Jangan sampai ia terlibat dengan pria seperti itu. Benar-benar bencana dunia.
"Ya sudah, Om nangani pasien lain dulu. Salam buat papamu."
"Iya, Om!"
Setelah dokter Irawan pergi, Lea langsung menuju kamar pasien. Pria itu sudah dipindah ke ruang perawatan.
Ruang Mahameru Nomor 88
Begitu masuk, Lea langsung mendapat tatapan tajam.
"Siapa kamu?"
"Eh ... Ak .. a ..." Mendadak ia jadi gagap.
"Maaf kamu siapa? Mengapa masuk kamar orang tanpa permisi?"
"Astagaaaa naga! Eh Mas, tadi yang bawa Mas ke mari itu saya! Bukannya terima kasih malah songong!" omel Lea.
Pria itu langsung mengambil ponsel, ia memencet pangilan cepat nomor satu.
"Datang ke sini, sekarang! Jangan lupa, bawa tas hitam di dalam mobil."
Setelah mengatakan itu, ia langsung memasukkan ponselnya dalam saku. Sedangkan Lea, ia hanya mengamati dari jauh.
"Sepertinya si Masnya udah baikan, okel ... kalau begitu saya permisi. Dan tidak usah bilang terima kasih." Lea pun berbalik.
"Tunggu! Sepuluh menit. Hanya sepuluh menit!"
"Apanya sepuluh menit? Nih orang ngigau atau apa? Gara-gara pingsan deh kayaknya. Ada yang konslet," batin Lea.
"Maaf ya, Mas. Saya sibuk!"
"Saya bilang tunggu!"
__ADS_1
"Ya ampunnn, nih laki galak banget!" umpat Lea sembari menoleh.
Karena sebenarnya memang nggak ada acara, alhasil Lea menunggu saja. 10 menit Kan? mungkin pria itu takut sendirian. Dan ia butuh teman. Mungkin sebentar lagi keluarganya datang. Pikir Lea.
"Mas ... sudah 10 menit. Saya pulang dulu. Nanti saya pangilin suster kalau masnya takut sendirian!" ujar Lea kemudian. Karena sudah menunggu 10 menit lebih beberapa detik.
KLEK
Saat akan membuka pintu, malah pintu itu sudah terbuka sendiri. Seorang pria berpakain rapi datang dan langsung menghampiri pria yang sedang dia atas ranjang rumah sakit tersebut.
"Ini, Tuan. Dan apa kita pindah rumah sakit? Atau pindah bangsal?" tanya pria yang baru datang.
"Tidak! Urus saja semua administrasinya. Aku mau keluar hari ini."
"Hey ... kemari!"
"Sial!" rutuk Lea. "Karena keluarga Mas sudah ada, saya permisi!"
"Will, serahkan ini pada gadis itu!" pria tersebut menorehkan sebuah tanda tangan pada sebuah cek. Setelah ia ingat-ingat, sepertinya ia sudah merusak hp gadis tersebut.
Sekretaris Willi langsung menghampiri Lea.
"Ini Nona dari Tuan Kevin. Dan mohon accident ini agar dirahasiakan."
"Hah? Rahasia apa?" Lea bengong menatap cek 20 juta di tangannya.
"Itu pasti cukup untuk membeli ponsel baru!" sahut Kevin dengan datar.
"Astaga, sombong sekali ... nggak minta maaf malah ngasih uang? Eh ... Elo pikir gue butuh duit dari elo?" Seketika Lea menyobek cek tersebut dan melemparnya dengan kesal.
***
Medan, Kediaman Bima.
Sesuai janji, pernikahan mereka hanya formalitas. Begitu anak itu lahir, kedua belah pihak memutuskan untuk bercerai. Yang tahu hanya pihak ibu keduanya. Sedangkan pihak ayah, sama-sama tidak mengerti perjanjian konyol tersebut.
Setelah acara sederhana itu selesai, Dita menolak keras ikut keluarga suaminya ke Jakarta. Ia ingin menetap berdama keluarganya. Sangat mengerikan bila ia satu atap dengan Kevin. Ini hal paling mengerikan yang tidak berani Dita bayangkan.
"Pa ... Dita mau di sini saja. Dita nyaman di sini."
"Kamu sudah menikah, sudah sepatutnya ikut suamimu."
"Pa ... Ma!" Dita menatap dengan iba. Ia minta diselamatkan.
"Ayo Non. Tuan dan Nyonya sudah menunggu." Asisten Irna sudah siap menarik koper milik Dita. Sepertinya Dita tidak bisa lari lagi. Ia menyesal menerima tawaran Kendra. Ia tambah membenci sosok ayah dari janinnya tersebut.
***
Jakarta. Apartment Kendra. Sebuah hunian mewah yang mengarah ke arah pantai. Sengaja Irna tidak membawa Dita ke mansion. Sekedar menjaga perasaan Kevin. Bahkan sampai saat ini, ia kesulitan menjelaskan nanti bagaimana bilang pada Kevin.
"Kalian berdua tinggal di sini, Mama bakal kirim asisten di rumah ke sini. Ken, jaga Dita baik-baik."
Irna memperhatikan Dita yang sepertinya tidak nyaman.
"Mama bakal sering ke sini. Kamu istirahat saja sekarang, besok Mama antar check up ke dokter kandungan." Wanita itu mengengam erat tangan Dita, seolah menguatkan hati ibu hamil tersebut. Bahwa smuanya akan baik-baik saja.
Dita hanya mengangguk, mereka terlihat sama-sama canggung. Dulu padahal sangat akrab. Ini gara-gara Kendra, merusak semua keadaan.
Begitu mama mertuanya pergi, Dita buru-buru masuk ke kamar. Tentunya kamarnya sendiri, kamar tamu. Melihat hal itu, Kendra tidak betkutik.
Pagi harinya.
Dita tidak kunjung keluar kamar untuk sarapan, padahal bibi asisten pagi-pagi sudah datang. Memasak dan beres-beres apartment sesuai perintah Irna. Sampai jam delapan, barulah Dita keluar.
__ADS_1
"Apa dia sudah pergi?"
Bibi langsung mengangguk.
Dita lumayan kenal dengan asisten barunya itu. Karena pernah bertemu beberapa kali. Jadi membuatnya merasa nyaman.
"Masak apa, Bik? Kebetulan ... lapar banget!"
Bibi hanya tersenyum.
"Ini, Non. Semua tinggal pilih. Non Dita mau yang mana. Ada nasi goreng sea food, roti bakar atau mau Bibi bikinkan yang lain?"
"Nggak! Itu aja. Laper banget Bik!" Dita tersenyum malu. Sumpah, ia menahan lapar sejak tadi. Tapi harus memastikan bahwa Kendra sudah keluar baru ia mau menampakkan diri.
Ketika asik makan, tiba-tiba Kendra muncul.
"Makanlah! Aku cuma ambil laptop!" Kendra masuk ke kamar, kemudian pergi tanpa menoleh ke Dita. Kendra tahu, gadis itu tak nyaman dengan kehadirannya. Ken akan membuat dirinya seolah tak terlihat mulai sekarang.
Pukul 10 malam.
Dita merasakan perutnya kembali lapar. Ia pun ke dapur. Membuka kulkas, makan apa saja yang bisa di makan. Setelah kenyang, ia pun kembali tidur. Hingga bangun pada esok harinya.
Seperti biasa, ia akan keluar ketika memastikan Kendra sudah keluar dari appointment.
"Masakan Bibi enak banget!" puji Dita menikmati sarapan buatan Bibi.
"Terima kasih, Non."
"Semalam Ken pulang jam berapa, Bik?" Dita tidak ingin tahu, ia hanya ingin memastikan. Bila keluar kamar agar tidak berpapasan dengan suaminya itu.
"Semalam? Sepertinya tuan muda tidak pulang, Non."
"Hah?"
***
"Astaga, Ken!!!! Ngapain kamu tidur di kantor? Jangan bilang kamu diusir dari kontrakan!" cibir Ayu yang mendapati Ken baru bangun di meja kerjanya dengan rambut acak-acakn.
Kendra yang masih belum pulih kesadarannya, ia pun mengosok mata. Kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Maaf Bu Ayu, semalam lembur sampai dini hari." Kendra mencoba berkelit.
"Ya ampun ... masih muda kamu itu, Ken. Kerja si kerja. Tapi tidak begitu juga. Memangnya tugas saya terlalu berat? Lain Kali kerja cepat dan efisien. Time is money. Yang serius! Biar kerjaan cepet selesai. Biar target tercapai. Jadi orang sukses. Kalau begini, mana ada wanita yang mau menikah denganmu!"
Dengan sengaja Ken mengusap rambutnya, ia sengaja memperlihatkan jari manisnya. Di sana sudah melingkar cicin kawinnya dengan Dita. Tapi, hanya Ken yang memakainya. Sedangkan Dita, setelah akad selesai, Dita langsung melepas cincin tersebut.
"Cincin baru? Ish ... sombong lu. Itu bukan cincin kawin, kan?"
Lama-lama Ayu curiga. Apalagi Ken minta cuti mendadak.
"Hem!"
"Hemm apa? Beneran udah nikah?"
Kendra mengangguk pelan.
Buru-buru Ayu langsung keluar ruangan.
"Anak-anak, pulang kerja Kita jangan pulang dulu. Ken mau traktir makan malam. Kemarin baru nikah!"
"Huuuu!" semua orang bersorak. Bersambung.
"Eh ... ke rumah?" Kendra terlihat resah.
__ADS_1