
Bonus Chapter
Kelahiran Baby Levin (Lea Kevin)
Di sebuah salah satu rumah sakit terbaik di ibu kota. Terlihat Lea mengusap seorang bayi yang masih merah. Ia hampir menangis, bukan karena sakit pasca melahirkan secara normal. Lea hanya tersentuh, beginikah rasanya melahirkan. Beginikah bisa melihat anak yang baru kita lahirkan. Ya Tuhan, tahu begini Lea tidak akan pernah membantah pada mamanya.
Perjuangan melahirkan benar-benar merupakan taruhannya adalah nyawa. Lea jadi menyesal, betapa seringnya ia selama ini melukai sang mama.
Sedangkan Kevin, pria itu pun sama mellownya. Hampir saja ia mau keluar saat baby Levin mau launching. Kevin tidak tega menemani Alea yang menahan kesakitan. Mulai dari titik itulah, ia bersumpah tidak akan melukai hati mamanya. Melukai hati Alea, karena melihat betapa berat perjuangan seorang wanita melahirkan anak ke dunia.
"Ganteng, Mas. Mirip sekali sama Mas Kevin."
"Hemm ...!" Kevin memalingkan muka. Iq mengusap sudut matanya.
"Hei, kenapa menangis?"
"Siapa yang menangis? Debu ... hanya kena debu."
Lea tersenyum, kemudian fokusnya kembali ke paras mungil baby Levin. Keduanya sedang mengagumi hadiah yang paling indah dalam hidup mereka.
Levin bagai obat bagi hati Kevin, anak itu menghilangkan segala sakit, luka dalam diri pria itu. Sedangkan bagi Lea, Levin seperti permata yang berharga. Akan ia jaga, sebagai karunia yang tidak ternilai harganya.
***
Apartment Kevin.
__ADS_1
Lea dan Kevin baru saja tiba beberapa saat lalu dari rumah sakit, semua anggota keluarga menyambut dengan suka cita. Semua hadir, kecuali Kendra dan keluarga kecilnya, serta Rama.
Rama memilih pura-pura check up ke luar negri. Ia tidak mau Arya menyadari dia siapa. Rama tidak mau merusak kebahagian putranya. Meski Kevin hanya anak sambung, bagi pria itu Kendra dan Kevin tetap putranya, keduanya tidak ada bedanya.
Sementara itu, Arya tidak curiga. Ia pikir memang begitu adanya. Yang penting Lea dan keluarga barunya terlihat bahagia menyambut anggota baru.
"Papa mau gendong, Lea."
Lea yang semula duduk sambil bersandar, memberikan baby Levin pada papanya.
"Ganteng sekali," Arya mengusap pipi cucunya dengan sayang.
"Mirip papanya," sela Irna yang juga berdiri untuk mengantri. Ia juga mau mengendong cucunya yang tampan itu.
"Kok nggak ada mirip-miripnya sama kamu, Lea?" celetuk Nur sambil tersenyum.
"Ih .... Mama. Penting mirip papanya." Lea melempar senyum yang sama untuk mamanya. Ia meraih tangan mamanya. Mengelayut manja di sana.
Nur mengusap kepala Lea, tidak terasa. Akhirnya Lea jadi ibu juga.
Terdengar bell apartment berbunyi.
"Itu pasti Cua atau Kalen!" tebak Nur kemudian membuka pintu.
Benar saja, yang datang adalah putra putrinya. Mereka pun berkumpul bersama, merayakan kehadiran anggota keluarga yang baru dengan hati gembira.
Tidak lama kemudian, sebuah paket datang. Kali ini Irna yang membuka pintu, dilihatnya alamat pengirim dan naman pengirim paket. Irna sempat was-was saat memberikan paket itu pada Kevin.
"Dari siapa, Ma?"
Irna nampak ragu. Namun, kemudian mengulurkan paket yang dikemas cantik itu pada Kevin.
Kevin menerima benda tersebut, kemudian menarik lembar ucapan yang terselip di antara pita.
[Selamat untuk kelahiran putra kalian, kami ikut bahagia mendengarnya. Semoga kebahagian selalu menyertai keluarga Mas Kevin dan Mbak Lea]
__ADS_1
"Dari siapa, Mas?" tanya Lea penasaran karena dilihatnya Kevin malah tertegun cukup lama.
Kevin tidak menjawab, ia hanya memasukkan kartu itu dalam saku celana. Kemudian memberikan hadiah tersebut pada Lea.
"Wah ... bagus sekali," seru Lea melihat hadiah dari seseorang yang tidak ia ketahuai siapa pengirimnya.
Sedangkan Kevin, wajahnya terlihat lebih cerah. Ada gurat kebahagian yang terus memancar dari wajahnya yang tampan.
Kelahiran baby Levin, menyempurnakan kebahagiaan semua orang.
Bye bye bye ....
Terima kasih banyak sudah membaca tulisan Sept.
Matur suwun.
Baca juga novel Sept yang lain.
Rahim Bayaran
Dea I Love You
Istri Gelap Presdir
Menikahi Majikan
Wanita Pilihan CEO
Kesetiaan Cinta
__ADS_1
Sampai jumpa di novel berikutnya.