
Suamiku Pria Tulen #92
Oleh Sept
Rate 18 +
KCF Groups.
Hari ini adalah hari pengangkatan CEO KCF Groups yang baru, Arya sudah turun tahta. Rasanya ia ingin menghabiskan masa tuanya hanya di rumah bersama Nur dan cucu-cucu mereka.
Sembari mengandeng tangan munggil Simi dan Sima, Arya naik ke podium. Ia menyambut CEO penganti dirinya. Kalen Pramudya, putra keduanya. Selang beberapa saat setelah Arya mengucap kata sambutan dan selamat untuk putra keduanya itu, suara tepuk tangan puj langsung bergemuru memenuhi seisi ruangan.
"Selamat, Sayang!" Nur dan Cua memeluk Kalen bergantian.
Mereka ikut senang melihat karir Kalen yang mengikuti jejak sang papa. Sedangkan Cua, ia lebih memilih fokus di bidang pendidikan. Cua sudah menikah, memiliki anak kembar yang cantik dan tampan, Simi dan Sima. Suaminya pun sama-sama seorang dosen di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu.
"Lea mana?" Arya melirik ke sana ke mari. Mencari putri terakhirnya. Harusnya ini momen penting bagi sang kakak. Ke mana si gadis badung tersebut.
"Sudahlah, Mas. Dia nggak ikut. Tadi masih tidur."
"Astaga! Mau sampai kapan anak itu. Ish ... Jangan dimanja-manja!" Arya mendesis, Nur terlalu lunak pada anak terakhir mereka.
"Udah, Mas. Jangan marah-marah, ingat tensi darahnya." Nur malah tersenyum sambil mencubit lengan suaminya. Malu dilihat anak-anak.
Semuanya malah terkekeh, Nur dan Arya jadi tontonan anak dan cucu-cucu mereka.
Arya yang gemas melihat dua krucil kribo ikut tertawa, langsung mengendong salah satunya. Mencubit pipi gembul yang ikut tertawa, tapi tidak tahu apa yang mereka tertawakan itu.
Keluarga Arya benar-benar nampak bahagia. Kecuali satu orang, putri ketiga yang kini di dalam kamarnya. Alea Pramudya, sering dipanggil Lea. Gadis yang beranjak dewasa itu malah menari-nari tidak jelas di atas kasur. Lagu Rock and roll sudah mengudara setelah sang mama pergi beberapa waktu lalu.
Dengan hanya memakai tank top dan celana sobek-sobek, Lea mengerak-gerakkan kepala ke kiri dan kanan. Puas berjoget tak jelas, ia berjalan ke sudut kamar. Memainkan drum dengan cepat dan kencang.
"Aduh .... Non Lea ... Gendang telinga Bibi bisa pecah kalau seperti ini. Ini sarapannya.... Non. Non ALEA!!!" teriak Bibi karena musik terlalu kencang.
Bibi berjalan sambil mengeryitkan kening, setelah meletakkan nampan berisi sarapan untuk Lea. Ia berjalan sambil menutup telinganya dengan kedua tangan.
"APA BIK?" teriak Lea melihat Bibi berjalan ke arahnya.
"SARAPAN NON ... SARAPAN!!!" teriak Bibi, tapi suaranya tengelam, kalah sama suara music yang berisik punya Lea.
Lea menatap meja, kemudian mematikan music.
"Tengkyu Bibi, you are the best."
"Yes ... yes ..." jawab bibi asal.
Lea tersenyum kemudian memakan sandwich yang sudah dibuatkan bibi.
Setelah melihat Lea makan, bibi pun keluar. Baru sampai pintu, Lea kembali menyalakan musik yang penuh hentakan tersebut.
Seketika bibi langsung kabur, kepalanya mau pecah. Betapa berisiknya kamar Alea.
***
Malam hari.
"Lea ... Aleaaaa!" teriak Nur dari bawah tangga.
Tap tap tap
"Iya Mom! I'm coming!" Lea turun dengan duduk di bawah pegangan tangga. Ia meluncur seperti sedang main prosotan. Membuat mata papanya melotot.
"Astaga!!!!" Arya memegangi dadanya. Jantungnya hampir copot.
Nur hanya geleng kepala, kemudian menarik lengan putri kesayangannya. Anak terakhir, anak yang dimanja-manja tentunya.
"Duduk, Papa mau bicara."
Lea sudah merasa tidak enak, pasti bakal dikasi ceramah panjang kali lebar. Siraman rohani yang berjilid-jilid tidak ada tamatnya.
"Itu ... bentar, Lea ke atas dulu."
__ADS_1
"Eitss!"
Nur memegangi tangan Lea, membuat anak itu tidak bisa kabur.
"Ish!" Lea mendesis.
"Dengarkan, Papa mau ngomong."
"Hemm!" Wajah Alea ditekut, kusut sudah mirip cucian numpuk di keranjang.
"Berhenti main band. Mau jadi apa kamu?"
"Seniman, Pa ... Seniman!" jawab Lea tanpa melihat wajah papanya. Sudah pasti sang papa mau menelan Lea hidup-hidup.
"Cih ... lihat bajumu. Mau jadi apa? Papa kasih kartu kredit buat apa? Beli baju yang layak."
"Astaga Papa!! Ini jaman now!!! Booming, fashionable. Papa aja yang nggak gaul!" Lea masih saja bisa menjawab. Padahal sang papa udah di ubun-ubun. Baju Lea robek sana robek sini. Benar-benar seperti anak urakan.
"Ma! Tarik semua kartu kredit, ATM semuanya. Kalau nggak begini Lea nggak berubah."
"Loh ... loh. Mana bisa begitu!" Lea melotot pada papanya. Membuat Nur langsung memukul punggung Lea.
BUGH
"Aduhhh!!! Sakit Momyyyy!" pekiknya sambil mengosok punggungnya yang terasa panas.
Arya hanya bisa menghela napas dengan berat. Mimpi apa dia, dua anak sangatlah membanggakan. Tapi yang terakhir, Masyallah!
"Siapkan lamaran kerja besok! Cari pekerjaan. Stop main musik tak jelas itu."
Arya menatap putrinya dengan wajah serius.
"Mbak Cua kerja, Mas Kalen kerja ... semua kerja. Uang Papa buat siapa?"
BUGH
"Aduh Momyyyy, sakit tauuuu!"
Lea kali ini benar-benar kesakitan, Nur memukulnya cukup keras. Sedangkan Arya, ia sampai tidak bisa berkata-kata.
"Apa sihhh Mommm! Ngapain capek-capek kerja." Lea menghela napas kesal.
"Biiikkk, geledah kamar Lea. Keluarkan semua kartu di dalam sana," titah Arya kemudian.
"Paaaa!!!!" Lea menatap nanar pada sang papa. Sepertinya ini adalah akhir dari hidupnya. Hidup yang seru, main-main dan menghabiskan uang papanya.
***
Pagi yang cerah. Namun, tak seperti hati Lea. Hati gadis itu dipenuhi aura mendung yang mencekam.
"Nunggu interview, Mbak?" tanya seorang gadis manis di sebelah Lea.
Lea enggan menjawab, tapi gadis di sebelahnya terus saja mengajak bicara. Padahal ia sedang amat kesal. Mimpi apa dirinya, anak pengusaha sukses disuruh ngelamar kerja di perusahaan orang lain. Lea merasa dirinya ini anak tiri. Tega sekali papanya mengirim ke neraka. Aggrr! Lea mau meledak. Rasanya mau teriak kencang di ruang tunggu tersebut.
"Lea Pramudya!" panggil seorang wanita dengan rok mini di atas lutut.
Lea mendongak, kemudian ikut masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Silahkan duduk!" ucap salah seorang yang duduk di depannya.
Ada tiga orang berpakain rapi yang siap mewawancari Lea. Satu masih muda, dua diantaranya pria tua yang umurnya mungkin empat puluhan.
Cukup sebentar Lea di dalam sana, karena orang-orang yang menginterview Lea terlihat kecewa. Sepertinya Lea salah tempat.
Keluar dari dalam sana, Lea tersenyum penuh kemenangan. Mana ada niat dalam hatinya melamar kerja di tempat itu. Buang-buang waktu, nanti ia akan membujuk mominya. Minta uang tanpa sepengatuan sang papa.
"Yes!" Ia memekik dalam hati atas ide briliannya.
Yakin tidak akan diterima, Lea pun memutuskan langsung pulang. Ia lantas menuju lantai bawah dengan naik lift.
Tek Tek Tek
__ADS_1
Tangannya berkali-kali memencet tombol lift yang tak kunjung terbuka, sesaat kemudian, pintu tersebut pun terbuka.
Lea langsung masuk, dan ternyata banyak orang di dalam sana. Sepertinya tidak muat, Lea pun mundur. Dan memasang muka sebal.
Kesal, Lea memutuskan turun lewat tangga. Sekalian, ia mau mengumpat karena kesal. Hari ini adalah hari yang menyebalkan baginya.
Baru membuka pintu tangga darurat, mata Lea terbelalak.
"Astaga! Kau kenapa?"
Pria itu menepis tangan Lea.
"Jalan terus, jangan pedulikan aku!" sentaknya dingin sambil memegangi dadanya yang sakit.
"Ish!!! Sebentar. Aku panggilkan ambulan!" Lea menatap sebal. Namun juga kasihan.
Tut tut tut
Baru menekan beberapa angka, tiba-tiba pria itu menepis tangan Lea.
PYARRR
Membuat ponselnya jatuh dan pecah.
"My honeyyyy .... sweetyku!" teriak Lea pada ponselnya yang hancur.
"Pergi sana! Nanti akan ku ganti!" pria itu meringis. Ia mencengkram dadanya. Terasa nyeri di dalam sana.
"Hey ... hey!!"
Buuukkkk
Pria itu terjatuh tepat di kaki Alea. Panik, Lea langsung menjerit keras.
***
Di tempat lain, di sebuah bandara di terminal kedatangan.
Dita sedang berdiri sembari memegangi perutnya. Ia tersenyum ketika merasakan sang anak yang sepertinya menendang.
"Aktif sekali kamu, sayang. Bentar ya, sebentar lagi mama belikan ice cream untukmu. Kita tunggu klien dulu. Sabar ya sayang." Dita mengusap perutnya, ia seolah sedang bicara pada calon bayi dalam perutnya.
Tidak jauh dari sana, Kendra berjalan sambil menarik trollie. Wajahnya terlihat tak bersemangat. Ia berjalan mengekor pada atasannya tersebut.
"Nah ... itu dia. Kita langsung ngafe ya. Aku haus banget." Ayu langsung berlari menuju ke arah pria berbadan tegap dengan pakaian rapi.
"Maaf, harus menunggu. Apa lama?" tanya Ayu basa-basi. Ternyata klien bisnisnya adalah teman lama Ayu. Sehingga mereka berdua terlihat santai dan langsung akrab saat mengobrol. Sedangkan Ken? Ia bagai obat nyamuk.
"Kita minum dulu, ya. Bali panas banget."
Mr. Jerry mengangguk. Kemudian mengikuti Ayu yang langsung duduk di salah satu tempat duduk di cafe Bandara tersebut.
Ayu tidak peduli pada Kendra yang mukanya terlihat masam.
"Bisa saya ke kamar kecil sebentar?" ucap Kendra yang melihat betapa asiknya Ayu mengobrol dengan Mr. Jerry.
Ayu hanya melambaikan tangan. Seolah mengusir Kendra.
"Ish!" Kendra kembali mengumpat.
***
Toilet Pria
Selesai dengan urusannya di dalam sana, Ken pun keluar. Ia memeriksa ponselnya sebentar, barangkali ada panggilan masuk. Ken sampai tidak menyadari, di depannya Dita juga sedang berjalan ke arahnya.
Brukkkk
Seseorang berjalan terburu-buru, membuat paper bag di tangan Dita tumpah. Beberapa ice cream kemasan keluar dari dalam sana. Dan Dita hanya bisa menghela napas dengan kesal, apalagi orang itu tidak mengucap kata maaf.
Melihat hal tersebut, Ken langsung memasukkan ponselnya. Ia membatu Dita memasukkan barang-barang yang berserak.
__ADS_1
Dita yang tadi kesusahan berjongkok, langsung mendongak. Dan berniat mengucapkan kata terima kasih.
"Te ..........!" Bersambung. Hehehe