
Suamiku Pria Tulen #90
Oleh Sept
Rate 18 +
Larut malam, terdengar deru mobil di halaman mansion milik Rama. Mobil limited edition warna merah itu parkir sembarang di depan pintu masuk. Kevin berjalan dengan buru-buru masuk ke tempat tinggal orang tuannya. Nampak jelas kegusaran di raut wajahnya yang tampan.
Ia berjalan sembari mengepalkan tangan, urusannya belum selesai dengan Ken. Bahkan sampai menunggu berjam-jam di rumah sakit, Dita belum mau bertemu dengannya. Kesal, Kevin memutuskan untuk kembali pulang. Ia akan membuat perhitungan dengan adiknya tersebut.
Bruakkk
Ia menendang pintu kamar Kendra yang lama tidak dihuni, tapi ternyata kosong. Ia lalu mencari ke lantai atas. Derap langkah Kevin cukup keras, sehingga menimbulkan suara.
Irna dan Rama yang kala itu sudah tidur, mereka sama-sama terbangun karena keributan di mansion itu.
"Vin!" sapa Irna dengan wajah tak enak. Ia tahu hati Kevin pasti sakit, tapi ia juga tidak mau Kevin memukuli anak keduanya.
"Mana Kendra, Ma?" Pandangan Kevin menyusuri semua arah. Ia mencari sosok adiknya yang brengsek tersebut.
"Serahkan sama Papa, Papa yang akan mengurus anak itu."
"Cih!"
__ADS_1
Kevin berdecak, ia menatap marah pada papanya.
"Apa karena Kevin bukan anak Papa? Lantas Papa melindungi anak Papa itu?" ujar Kevin dengan sarkas. Ia merasa papanya sedang menyembunyikan Kendra.
"Kevin!" sentak Irna. Karena apa yang Kevin sangkakan tidak benar. Semua itu malah sebaliknya, selama ini Kevin menjadi nomor satu. Sedangkan Kendra, selalu jadi yang ke sekian. Irna sampai heran, sebenarnya anak kandung Rama ini yang mana? Mengapa Rama terlihat lebih sayang Kevin dari pada darah dagingnya sendiri?
"Mama sepertinya juga memihak Ken. Oke! Lindungi saja anak itu. Mulai sekarang jangan berharap Kevin menhinjakkan kaki di sini!"
Kevin berpaling, ia kecewa dengan sikap orang tuanya yang malah melindungi seorang penjahat. Jujur, Kevin ingin menyeret adiknya itu ke sel penjara.
"Kevin! Tunggu!" Irna berlari menghampiri putra pertamanya.
"Jangan begini, Vin! Adikmu pasti khilaf."
"Khilaf kata Mama?" Kevin menatap tak percaya. Bisa-bisanya sang mama membela Kendra sampai sejauh ini. Oke sepertinya ia memang harus mencari cara sendiri untuk membawa Kendra ke rana hukum.
"Tidak semudah itu! Ken sudah menghancurkan hidup Dita! Dia sudah merusak hidup calon istri Kevin, Ma!" teriak Kevin emosional.
Irna tidak bisa membela diri lagi, karena Kendra memang sangat keterlaluan. Sedangkan Rama, ia hanya bisa memejamkan mata. Mengapa Kendra melampaui batas. Bila tidak kasihan pada Irna, ia juga akan menyeret anaknya itu ke penjara dengan tangannya sendiri.
"Dia ada di kamar paling ujung, silahkan. Temui dia!" Rama mengerahkan kunci kepada Kevin.
Saat Kevin akan meraih kunci itu, Irna langsung merebutnya dengan cepat.
__ADS_1
"Ma!" Kevin menatap benci pada mamanya.
"Nggak! Kalian tidak boleh menyakiti Kendra lagi ... dia anak Mama, Mama yang mengandung dan melahirkan seorang diri. Kalian nggak bisa memukulnya begitu saja. Mama bahkan tidak pernah menyakiti anak Mama yang malang itu! Semua salah Mama ... Mama terlalu memanjakan Kendra. Hukum saja Mama, jangan Kendra ...jangan!
Irna bersimpuh di hadapanku keduanya, seolah meminta maaf untuk kesalahan Ken. Kendra yang malang, karena salah pergaulan sering pindah sekolah. Hingga harus pindah dan pindah. Hingga akhirnya, Rama mengirimnya ke asrama. Asrama di luar negri yang ketat. Namun, semakin dikekang Ken malah brutal.
Begitulah Kendra, dari kecil hingga remaja dan dewasa. Sikapnya berbanding terbalik dengan sang kakak. Dan anak yang paling disayang-sayang oleh Irna itu kini membuat aib keluarga. Bahkan Ken terancam masuk penjara.
Rama berusaha mengirim Kendra ke luar negri lagi. Jujur, meskipun terlihat lebih peduli dan respect pada Kevin. Jauh di lubuk hati paling dalam, ia sangat menyayangi putranya tersebut. Hanya saja, ia keras pada Ken selama ini untuk membentuk pribadi Ken. Agar menjadi manusia yang jauh lebih baik dari pada dirinya di masa lalu.
"Berikan kunci itu pada Kevin, Ma. Mereka sudah dewasa, biarkan mereka mengurus sendiri masalah mereka."
Rama meminta dengan halus. Namun, Irna menggeleng tanda menolak.
"Berikan, mereka butuh bicara."
Irna memalingkan wajah, mengengam kunci itu kuat-kuat.
"Apa Kevin tidak pernah berarti untuk Mama?"
Mendapat pertanyaan dari Kevin, Irna kembali terisak. Dan kunci itu lepas dari jari-jarinya yang semula mengengam erat.
***
__ADS_1
Wiu wiu wiu
Sebuah ambulance masuk ke dalam halaman mansion milik Rama. Begitu tiba, tim medis langsung membawa tubuh Kendra dengan pakaian yang sudah berlumuran darah. Bersambung.