Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Berdebar


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #73


Oleh Sept


Rate 18+


"Ram ... mau ke mana?" Irna melepas pegangan tangan pria tersebut. Tanpa bicara, mengapa Rama main tarik-tarik begitu saja.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Bukannya kamu tadi yang mencariku?"


"Apa? Aku hanya bertanya, kamu ada di mana, itu saja." Irna mencoba mengelak. Meskipun tadi ia memang sempat mencari sosok Rama.


"Masih mengelak?" Rama langsung membawa Irna ke ruang kerjanya.


"Sudah malam ... aku mau tidur." Irna merasa tidak aman, setiap berdekatan dengan Rama dan bila dalam ruang tertutup, pasti ada saja kejadian yang membuat keduanya mandi keringat.


"Kenapa? Ku kira kau mencari karena ingin," bisik Rama sembari menyentuh pundak Irna dengan lembut.


Irna langsung merutuk di dalam hati, yang ingin sepertinya bukan dirinya. Melainkan Rama sendiri. Dengan kesal, Irna menepis tangan Rama.


"Kamu salah paham, aku mencarimu hanya karena ingin tahu kamu di mana. Dan ada yang ingin aku tanyakan."


Wajah Rama langsung mengeras, ini pasti tentang ayah kandung Kevin.


"Jangan bahas pria lain di depanku!"


"Jadi itu kamu, kan?"


"Aku bilang, jangan bahas pria lain di depanku!" Nada bicara Rama kembali meninggi.

__ADS_1


Melihat reaksi Rama yang berlebihan, Irna terdiam sejenak.


"Jangan kotori tanganmu," pinta Irna tulus.


"Irna, kau tahu bukan? Aku tidak suka diperintah!"


Irna menghela napas panjang, sepertinya ia selalu salah. Apa yang ia katakan berakhir dengan emosi Rama yang semakin tersulut.


"Aku hanya tidak ingin kau terlibat dengan pria brengsek itu."


Meskipun tahu Rama akan marah, Irna masih tetep menjelaskan bahwa ia tidak suka Rama terlibat dengan ayah kandung Kevin, anak pertamanya itu.


"Aku bilang jangan membahas pria lain di depanku!" sentak Rama kasar.


"Bisa tidak, jangan teriak kalau bicara?" sentak Irna balik.


"Kau yang membuatku emosi!" protes Rama sambil berkacak pinggang.


"Kalau begini ceritanya, mana tahan aku menikahi pria sepertimu!" cibir Irna yang kesal karena Rama selalu marah-marah padanya.


"Kalau kau mematuhi seluruh aturanku, aku tidak akan emosi seperti ini."


"Dasar kamu saja yang mudah marah!" sindir Irna tanpa takut.


Rama mendesi kesal, mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian memegang kedua pundak Irna.


"Aku tidak akan marah, kalau tidak ada yang memulai."


"Tetap saja, jaga emosimu. Terlalu emosional membuatku tidak nyaman saat berada di dekatmu," ujar Irna lirih.

__ADS_1


Seketika wajah Rama nampak kecewa.


"Kau tidak nyaman di sampingku? Benarkah?" tanya Rama disertai senyum kecut.


"Ya ... aku sangat terganggu dengan temperamenmu!" ketus Irna dengan berani.


Mendengar Irna yang berkata jujur, Rama hanya bisa tersenyum kecut di dalam hati. Inilah dirinya, Rama dengan semua sifat di dalamnya. Ia sempat kecewa saat mendengar Irna merasa tak nyaman di dekatnya. Tapi, detik berikutnya ia tersenyum dengan ekspresi dingin.


"Lalu, pria bagaimana yang bisa membuatmu nyaman? Hemm?"


Rama berbalik, pria itu kemudian memegang dagu Irna. Menatap ke dalam mata wanita tersebut. Seakan menanti jawaban yang akan Irna katakan.


"Lepasin!" Irna menepis tangan Rama. Tapi pria itu kembali menyentuh dagunya yang lancip dan tirus.


"Katakan dulu, pria seperti apa yang bisa membuatmu merasa nyaman?"


Bola mata Irna berputat, otaknya mulai berpikir.


"Pria yang mampu membuatku berdebar!" jawabnya asal.


"Astaga! Bodoh sekali kamu Irna, mengapa mengatakan hal omong kosong seperti itu!" pekik Irna di dalam hati. Ia memaki dirinya sendiri.


Irna gelisah. Apa yang ia katakan, mengapa dadanya malah berdebar saat matanya menatap mata bening Rama.


Keduanya saling menatap, lama dan dalam.


"Akan kubuat kau berdebar!" ucap Rama dengan yakin sembari meraih tengkuk leher Irna.


CUP

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2