Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Tak Ada Kayu Rotan Pun Jadi


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #56


Oleh Sept


Rate 18+


Matanya terbelalak, berani sekali Irna menyentuh bibirnya. Rama teriak dan langsung marah.


"IRNAAA!" sentak Rama dengan kasar.


Sedangkan Irna, wanita itu tersenyum tipis. Kecupan singkat barusan terasa hambar. Ia mengecup bibir manusia atau besi hampir tidak ada bedanya. Ia semakin penasaran, harus dengan cara apa agar perhatian Rama beralih pada dirinya. Sebab bagi Irna, Nur gak cantik-cantik amat. Sampai detik ini, ia masih mengira Rama menyukai istri Arya tersebut.


"Ada yang salah denganmu!" desis Irna kemudian.


"Sekali lagi kau main-main, akan ku pecat!" ancam Rama.


"Baiklah ... Baiklah ...!" Irna mundur. Ia pergi dengan muka sebal.


***


Di kamar tetangga.


Ternyata Nur dan Arya sedang menonton film. Sebuah film romantis sepanjang jaman. Mereka saling bersandar, menikmati kebersamaan yang hangat. Jadi, dikuping Rama sejak tadi adalah dialogue sebuah film.


Karena sudah larut, Nur pun akhirnya tertidur. Lelah rasanya menikmati keindahan panorama alam di Kota mala dewa tersebut.


Pagi harinya.


"Mama ... pulang," rengek Cua yang tidak betah di pulau eksklusif tersebut.


Anak itu merengek, bosan karena tidak ada teman main di sana. Hanya mama, papa dan bibi. Otomatis bocah kecil itu merasa jenuh.


"Kan baru kemarin, sayang. Tuh ... pantainya bagus banget, kenapa buru-buru pulang?" Nur mencoba membujuk sang putri


"Cua mau pulang ... pokoknya pulang."

__ADS_1


Nur dan Arya akhirnya saling menatap.


"Iya, Kita pulang. Tapi nggak sekarang ya. Gak ada kapal yang lewat." Arya mencoba menipu putrinya.


"Itu!" Cua langsung menunjuk ke laut lepas.


Nur hanya tersenyum, kemudian menepuk dada suaminya. Sepertinya mereka harus pulang. Tapi sayang banget, karena baru saja tiba kemarin. Masa langsung balik.


"Itu kapal mogok, Cuaaa!" bujuk Arya kembali.


"Nggak, itu kapalnya jalan YAH!" rengek Cua.


"Sudahlah, Mas. Besok kita balik saja." Akhirnya Nur mengalah. Besok mereka pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


***


Hari sudah berganti, cuaca cerah menghiasi seluruh langit di pantai Maldives.


Rama sejak tadi mengintip lewat teropong dari kamarnya, ia menatap sepanjang pesisir pantai. Tapi tidak melihat Nur maupun Arya.


Tok tok tok


"Jangan masuk!" teriak Rama dari dalam kamarnya.


KLEK


Dasar Irna, dikatakan jangan malah ia trabas. Dengan santai ia masuk ke kamar Rama.


"Cih ... Keluar!" bentak Rama yang geram melihat Irna.


"Kamu belum makan, tidak makan siang dan makan malam. Aku dibayar bukan untuk merawat orang sakit!" cetus Irna.


"Ish! Pergi sana!" Rama mengusir Irna dengan gusar.


"Semua makanan sudah siap, keluar atau makanannya aku bawa ke sini."

__ADS_1


"Jangan mengaturku, dan jangan masuk ke sini!" Rama menyeret lengan Irna dengan kasar. Ia mengeluarkan wanita itu dengan paksa.


Lagi-lagi Irna hanya tersenyum dalam hati, wanita tersebut kemudian menepis tangan Rama.


"Aku bisa jalan sendiri!" Irna mendesis kesal. Ia tidak suka Rama menyeretnya dengan kasar.


Bruakkk


Ketika Rama sudah masuk ke dalam kamar, ia menutup pintu dengan kencang. Menghempaskan daun pintu dengan keras karena sengaja, ia kesal sebab Irna bikin gara-gara akhir-akhir ini.


Di luar sana, Irna mengutuk sikap Rama.


"Jual mahal sekali, sepertinya aku harus memberinya sesuatu." Irna tersenyum licik, wanita itu kemudian kembali ke kamarnya, mengambil sesuatu dari dalam tas. Setelah itu, menaruh sesuatu ke dalam minuman dan makanan untuk Rama.


***


Tengah malam, terlihat di atas meja makan, sebuah gelas telah kosong tanpa isi. Dan begitu juga dengan makanan di atas piring. Sepertinya Rama sudah memakannya.


Sedangkan Irna, ia sedang pura-pura tidur di atas sofa. Dengan sengaja ia menjatuhkan selimut, agar sebagian kakinya yang jenjang terlihat.


"Lama sekali tuh orang," batin Irna yang sudah menunggu sejak tadi.


"Apa ia membuang makanan dan minuman itu?" pikir Irna yang sudah memastikan gelas tadi sudah kosong. Tapi ia ragu, karena belum ada reaksi sama sekali. Sejak tadi pintu kamar Rama terkunci dari dalam. Mau menerobos masuk seperti biasa, ia tidak bisa.


Wanita itu hanya bisa menunggu.


KLEK


"IRNA!"


Begitu namanya dipanggil, Irna langsung pura-pura tidur.


"Kau main-main lagi rupanya!" Rama mendesis, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benci perasaan seperti saat ini. Rasa gerah dan panas.


Mana sedang di pulau di tempat yang private, mau menyewa pria di mana lagi? Kesal, Rama langsung mengangkat tubuh Irna. Tidak ada kayu, rotan pun jadi. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2