
Suamiku Pria Tulen #61
Oleh Sept
Rate 18+
"Aku bilang, aku nggak minta kamu ngawinin aku! Jangan terlalu percaya diri. Hanya karena kamu punya uang banyak, kamu jadi kelewat PD. Lagi pula, bukan perkara mudah ketika tidur denganmu. Susah tegang dan cepet loyo!" cetus Irna sesuka hati. Dan hal itu membuat Rama mengepalkan tangan.
"Jaga bicaramu!" Rama menatap seperti biasa, tajam dan mencekam. Pria itu terlihat marah mendengar perkataan Irna.
"Sudahlah, untuk apa ikut ke sini. Sana, kuntit saja tetangamu yang bersuami itu. Tidak usah ikut campur. Lagian aku juga mau gugurin janin ini," ucap Irna asal. Ia hanya gertak sambal. Jujur, tidak ada niat untuk mengugurkan janin dalam kandungannya. Ia mengucapkan kata-kata itu agar Rama menyerah dan pergi.
Hubungan mereka tanpa dasar cinta, hanya sebatas partner ranjang. Dan itu sudah jadi resiko Irna, karena tidak memakai pengaman. Kalau hamil, itu sudah jadi resiko penumpang. Dan ia sama sekali tidak akan menuntut. Karena ia melakukannya atas dasar kemauannya sendiri.
"Ikut denganku!" Rama menyeret paksa Irna.
"Lepaskan! Tasku masih di dalam!" Irna mencoba menepis tangan Rama. Ia lalu masuk ke dalam ruangan.
Lima menit kemudian.
Irna melirik ke samping, dilihatnya Rama sudah menunggu.
"Aku akan pulang sendiri!" ucap Irna mendahului Rama. Ia berjalan dengan gusar melewati pria yang sejak tadi menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Aku bilang aku pulang sendiri!" protes Irna yang diikuti Rama dari belakang.
Bruakkk
Irna menutup pintu mobil dengan kencang. Ia lalu terkejut ketika melihat Rama membuka pintu samping. Rama langsung duduk di sebelahnya.
"Hey! Apa yang kamu lakukan? Masuk mobilmu sendiri!" perintah Irna. Sejak tau kalau ia hamil membuatnya gampang marah-marah pada Rama.
"Cih! Sejak kapan ia jadi berani sekali?" gumam Rama kesal. "Tutup saja mulutmu! Cepat nyalakan mesin. Akan aku tunjukkan tempat terbaik untuk membunuh janin!"
Seketika Irna panik, "Laki-laki gila!"
"Kenapa? Katanya kau mau membunuhnya, lakukan. Aku ingin melihatnya."
"Mana ada seorang ayah mau melihat darah dagingnya dilenyapkan? Aku rasa kamu sudah tidak waras!" Irna yang marah, mencengkram kemudinya.
Dengan jengkel, Irna menyalakan mesin mobil. Hitungan detik, mobil melaju dengan kekuatan maksimal. Seperti pembalap, mobil melaju melewati kendaraan di depannya.
Dengan tenang, Rama mengambil ponselnya. Kemudian meletakkan tepat di depan Irna.
"Ikuti GPS, hanya 10 menit kita sampai ke tempat yang kamu mau!"
Irna melirik sekilas, sebuah klinik yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Dua orang itu sudah sampai di depan klinik ilegal. Berkedok klinik kecantikan, ternyata di sana melakukan abosrie yang dilarang hukum dan agama. Rama benar-benar memiliki channel yang tidak diragukan lagi. Dari sini, Irna tidak berhenti mengutuk pria tersebut.
Irna berjalan sambil merutuk dalam hati. Ternyata, Rama sangat sadis. Harusnya ia bisa merahasiakan kehamilannya ini. Agar anak itu bisa selamat. Lalu sekarang bagaimana? Lihat! Bahkan ayah dari janin yang ia kandung, sudah merekomendasikan tempat untuk melenyapkan mahluk tanpa dosa tersebut. Astaga, bahkan janin itu masih sangat kecil. Baru sebiji semangka.
"Masuk!" ujar Rama sembari membuka pintu.
Rasanya Irna ingin lari saja.
"Ayo masuk! Kau tadi yang bilang ingin membunuhnya, bukan?" tantang Rama dengan muka dingin yang khas.
"Brengsek!"
Irna mendorong dada Rama dan memilih berbalik.
"Jangan bilang, kau mau aku menikahimu! Tidak akan!" teriak Rama ketika Irna sudah berbalik dan melangkah meninggalkan dirinya.
Irna terus berjalan, tangannya mengepal. Rama memang pria brengsek. Harusnya ia sudah kebal dan memprediski semua ini. Jadi ia tidak usah sakit hati. Tapi tetap saja, ia merasa sesak. Ingin rasanya menampol mulut pria kasar itu.
Setttt
Seseorang menarik lengan Irna dan mencengkramnya.
__ADS_1
"Kenapa? Masuk ke dalam! Kau sendiri yang bilang akan membunuh anakku!" sentak Rama yang sudah naik darah. Bersambung.
Rama dan Irna lagi dilema makkk.