Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Salah Paham


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #38


Oleh Sept


Rate 18+


Tiga tahun yang lalu. Rumah Sakit Medica.


Tanpa sepengetahuan istrinya, Arya diam-diam melakukan sebuah test. Tidak ada yang tahu. Setelah mendapatkan telpon ancaman dari Rama, ia mulai tidak tenang dan gelisah.


Ketika Arya menunggu hasil pemeriskaan, seseorang menyelinap ruangan dengan pakaian dokter. Jas putih serta masker. Barang siapa yang tidak jeli, pasti mengira bahwa itu adalah dokter sesungguhnya. Tapi bukan, itu adalah orang suruhan Rama yang diminta menukar hasil lab milik Arya.


***


Arya terlihat kacau, ia meremas hasil lab yang sesaat lalu diberikan padanya. Kecewa pada nasib, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membalap semua kendaraan di depannya. Tidak peduli pada keselamatan jiwanya lagi. Arya sudah merasa hancur tanpa sisa. Rama benar-benar sudah menciptakan neraka dunia untuknya.


Mulai hari itu, Arya menjaga jarak dengan Nur, istrinya. Tidak menyentuh secara fisik, karena ia ingin menjaga istrinya itu. Arya tidak mau Nur mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dengan berat hati, ia akan meninggalkan Nur saat ini juga.


Kediaman Pramudya.


"Nur ... Nur."


Arya yang baru datang buru-buru mencari keberadaan sang istri, tidak ada di kamarnya. Ia pun mencari di kamar bayi. Dilihatnya wajah Nur yang terlelap sambil menidurkan buah hati mereka. Jangankan kata cerai, membangunkan wanita itu saja Arya tidak tega.


Dilema berat, Arya memilih egois dan bertahan di sisi Nur tanpa sentuhan fisik. Yang menjadi cikal bakal lukanya hati Nur sampai sekarang.


Flashbacks End


Arya terkejut, ia pikir Nur sudah tidur. Tidak tahunya wanita tersebut malah sedang menunggu dirinya di depan pintu kamar mandi.


"Belum tidur?" tanya Arya yang kala itu sedikit terkejut.


Nur menggeleng.


Sedangkan Arya, pria itu mengangguk. Kemudian berjalan melewati istrinya. Arya hendak ganti pakaian. Namun, tidak jadi karena Nur mengikuti dirinya.


"Bisa tinggalkan aku sebentar? Aku mau ganti pakaian."


Arya memasang wajah dingin, seperti tiga tahun terakhir.


"Ganti baju saja, Nur akan tetap di sini."


"Nur?" Arya merasa heran. Pria itu kemudian mengambil pakaian dan mau ganti di kamar mandi.


"Sampai kapan Mas Arya mau menghindar?" tiba-tiba pertanyaan itu lolos dari bibir tipis Nur. Mungkin malam ini ia sudah jenuh dengan sikap dingin sang suami.


Arya berhenti melangkah. Tangannya mengepal, meremas pakaian yang ia pegang. Sebenarnya ia sama muaknya dengan Nur. Tapi bagaimana lagi, ia tidak mau membuat Nur tertular. Lebih baik menghindar meski harus mendapat kebencian dari wanita yang ia cintai itu.


Pria itu pun kembali berjalan, tidak peduli meskipun Nur sedang berbicara kepadanya.


"Apa Mas Arya kembali menyukai pria?" tuduh Nur yang melihat Arya sudah tidak lagi peduli. Saat ia bicara pun, Arya mengabaikannya. Benar-benar pria yang bisa membuat hatinya jadi berkeping-keping. Mana Arya yang dulu lembut dan penuh kasih?


"Siapa pria itu!" teriak Nur karena Arya tidak mengubris pertanyaan darinya.


Nur terisak, ia merosot ke lantai ketika Arya menutup pintu kamar mandi. Arya menahan keras agar tidak berbalik. Ia sama kacaunya dengan Nur Azizah.


KLEK

__ADS_1


Arya membuka pintu, dilihatnya Nur sudah tidak ada di sana. Ada perasaan lega, tapi khawatir di saat yang sama. Dan saat berjalan mendekati ranjang, ia dibuat terkejut mendapati sebuah koper yang sudah siap untuk dibawa. Sebuah koper besar warna silver, sepertinya Nur sudah menyiapkan sejak lama. Tinggal angkut dan meninggalkan rumah yang ditinggali selama ini.


Arya tersenyum miris, mungkin ia harus membiarkan Nur pergi kali ini.


KLEK


Nur masuk, wanita itu berjalan tanpa mau menatap wajahnya. Ia menarik koper tanpa bicara pada Arya.


"Tetap di sini, aku yang akan pergi," suara Arya memecah keheningan di kamar itu.


"Tidak usah! Ini rumahmu, bukan rumahku!" ucap Nur dengan benci. Ia lalu menarik koper dengan kasar tepat di depan suaminya. Malam ini Nur sudah tidak bisa menahan lagi. Tiga tahun cukup baginya menahan sakit karena Arya.


"Aku bilang tetap di sini!" Arya merebut koper itu, lalu melemparnya keras. Membuat koper itu membentur dinding tembok kamar.


Baru kali ini, setelah sekian lama, Arya berteriak kencang padanya. Nur merasa memang suaminya sudah berubah. Mungkin Arya sudah mencintai pria lain lagi di luar sana.


Membayangkan hal itu, Nur semakin membenci suaminya. Ia lantas berbalik, dia akan pergi dengan atau tanpa membawa koper itu.


"Nur!" teriak Arya saat wanita itu meninggalkan kamar.


Ia mengikuti Nur yang berlari keluar.


Duuuuarr


Di luar sana terdengar langit bergemuru, petir menyambar-nyambar. Detik berikutnya, hujan turun dengan lebat. Bukannya masuk ke dalam rumah. Nur malah bergegas meninggalkan rumah yang seperti neraka tersebut.


"Berhenti!" teriak Arya di tengah hujan lebat.


Nur terus saja berlari, hingga ia tidak hati-hati dan membuatnya terpeleset karena jalan yang licin. Mereka masih di area halaman rumah yang luas tersebut.


Nur bangkit, tidak peduli pada lututnya yang sakit. Ia kemudian kembali berlari menuju pagar yang menjulang tinggi.


Arya menarik tangan Nur dengan paksa. Ia memegang pundak istrinya.


"Kamu tidak dengar? Cepat masuk!" sentak Arya.


Dengan rasa benci yang sudah memuncak, Nur menepis tangan suaminya.


"Untuk apa? Untuk apa Nur di rumah itu? Nur lelah jadi kedok menutupi ketidaknormalan Mas Arya!"


Arya mengusap wajahnya yang basah karena tetesan hujan.


"Kita bicara di dalam!" Arya mencoba meraih tangan Nur. Namun, wanita itu beringsut. Nur mundur tidak mau disentuh. Nur percaya, penyakit suaminya sudah kambuh. Nur kini meyakini bahwa Arya pasti punya pria lain di luar sana.


Melihat betapa kerasnya hati Nur, Arya langsung membopong tubuh istrinya yang ringan itu masuk ke dalam rumah lagi. Awalnya Nur meronta, ia memukuli dada Arya sampai puas.


Bukkkk


Setelah meletakkan Nur di atas ranjang, Arya lalu mengunci pintu kamar mereka.


"Dengar kata-kataku! Tetap di rumah ini. Bila kamu tidak tahan, aku yang pergi!"


Bugh


Nur melempar bantal tepat ke arah Arya. Ia sangat membenci pria itu.


Melihat Nur seperti ini, tangannya kembali mengepal. Ingin rasanya ia menegelamkan Nur dalam pelukannya. Arya dilema.

__ADS_1


Nur semakin marah, karena Arya diam saja. Kali ini ia melempar lampu tidur di sebelahnya.


PRANGGG


Arya tidak berkutik, ia memejamkan mata menahan rasa yang terpendam. Dilihatnya Nur yang lepas kendali, membuang apa saja, mengobrak-abrik tempat tidur mereka. Ranjang yang sekian tahun hanya untuk tempat tidur tanpa aktifitas lainnya menjadi berantakan dan seperti kapal pecah.


Puas melampiaskan kemarahan, Nur kemudian menangis. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mengigil karena kehujanan dan karena dinginnya sikap Arya selama ini.


Arya pun mengambil selimut dari lemari, ia kemudian memberikan pada Nur.


Bukkk


Nur langsung melempar benda itu, ia tidak mau menatap wajah Arya lagi.


Sedangkan Arya, ia memungut kain tebal itu. Kemudian kembali menyelimuti Nur.


"Lebih baik ganti bajumu!" seru Arya.


Nur tidak peduli, ia malah merebahkan tubuhnya. Menyingkur Arya.


Arya kembali mengangkat tubuh itu. Ia membawa Nur ke kamar mandi.


"Ganti pakaianmu!"


Nur diam saja, sedangkan Arya. Pria itu memunguti serpihan dan barang-barang yang berserakan di atas lantai.


Setelah kamar sedikit rapi, Arya kembali ke kamar mandi. Sudah lama Nur tidak keluar, dan tidak terdengar bunyi shower sama sekali.


KLEK


Dilihatnya Nur malah diam membatu duduk di atas kloset yang tertutup. Arya menghela napas panjang. Kemudian mengambil handuk milik Nur.


"Lepaskan pakaianmu!" Arya melempar handuk ke pangkuan Nur.


"Apa wanita sudah tidak menarik lagi di matamu?" tanya Nur saat Arya berbalik hendak keluar.


Nur tidak bisa melihat ekspresi wajah Arya yang tersenyum miris dengan tatapan nanar.


"Apa aku sudah tidak menarik di matamu?" suara Nur serak, tangannya sibuk mengusap pipinya yang basah sejak tadi.


"Anggap saja begitu," ucap Arya kemudian melangkah kembali.


Bruakkk


Nur melempar gayung di dekatnya, tepat mengenai punggung pria tersebut. Pria itu lantas berbalik, meraih gayung dan memberikan pada Nur.


"Dewasalah, Nur. Jangan bersikap seperti ini."


Tangis Nur kembali pecah, ia memukuli Arya. Sedangkan Arya, ia diam saja saat Nur terus menghujamnya dengan banyak pukulan. Ia merasa pantas mendapatkannya.


"Katakan! Siapa pria itu?" tanya Nur dengan suara lirih, masih terus memukul dada Arya.


Arya membuang muka, dalam hati tersenyum kecut. Nur mengiranya menyimpang.


"Seberapa hebat dia? Hingga membuat Mas Arya tidak mau menyentuhku?" Nur menatap nanar pada suaminya.


Nur sudah berhenti memukul Arya, ingin mengetes dengan kemampuannya sendiri. Apa Arya sudah tidak bisa disembuhkan, dengan berani ia melapas pakaiannya di depan Arya.

__ADS_1


Menyadari Nur yang melepas baju di depannya, Arya berbalik. Ia akan keluar. Tapi tangan Nur menahannya.


"Jika malam ini tidak bisa denganku, aku akan menyerah!" Bersambung.


__ADS_2