Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
MANJUR


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #123


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu, dua insan itu terlihat canggung satu sama lain. Mungkin tadi jiwa mereka sama-sama mengebu. Melupakan rasa malu yang kini mulai tumbuh.


"Aku ke kamar mandi dulu," Dita bergegas turun dari ranjang. Baru sesaat yang lalu, ia mengeliat bagai cacing kepanasan. Kini, ia harus berjalan ke kamar mandi sambil menahan perih.


Kurang pemanasan, Kendra terlalu buru-buru. Menyisahkan rasa perih pada diri Dita.


Tok tok tok


"Kamu nggak apa-apa kan, Dit?"


Karena lama di kamar mandi, Kendra jadi penasaran. Apa Dita baik-baik saja. Ia pun menyusul Dita, hendak memastikan sendiri.


KLEK


Dita membuka pintu, wajahnya tertunduk. "Silahkan, aku sudah selesai."


Dita langsung berjalan melewati Kendra. Membuat pria itu merasa tak enak hati.


"Apa kamu menyesal melakukannya denganku?"


Dita berbalik, ia mengangkat wajahnya dengan pipi merona.


"Bukan ... Bukan, Ken. Mungkin kurang pemanasan. Membuat terasa kurang nyaman. Agak perih," jawab Dita berterus terang. Ia tidak mau pria itu salah paham.


"Ah ... itu ..."


Dua orang itu pun seperti kanebo kering, sama-sama kaku.


"Maaf," ucap Ken kemudian.


Dita menggeleng.

__ADS_1


"Sudah, bersihkan tubuhmu. Aku ke kamar Rion dulu."


"Hemm."


Dita menghela napas, kemudian berjalan menuju kamar Rion. "Huuuff! Akhirnya," gumam Dita lega.


***


Pagi hari.


Matahari belum muncul ke permukaan, tapi hujan sudah membasahi bumi secara merata.


"Pakai mantel ini!" Dita mengulurkan sebuah mantel abu-abu pada Kendra.


Pria itu tertegun, mendapat perhatian seperti itu. Bagi seorang Ken, itu adalah sesuatu yang berarti.


"Terima kasih."


Dita mengangguk kemudian berlalu. Sedangkan Ken, ia masih tetap berdiri. Pria tersebut tertegun sejenak, menatap mantel di tangannya. Sebuah perhatian kecil, namun sangat berkesan.


***


Dulu benci bisa jadi nanti cinta, dulu cinta esok bisa jadi benci setengah mati. Begitulah kehidupan, sudah ditebak.


Apartment Kevin.


Terlihat Lea sedang asik makan camilan kripik kentang rasa BBQ, entah makanan ke berapa yang ia makan hari ini. Kebetulan hari ini akhir pekan, jadi Kevin ada di apartment itu bersamanya.


"Lea ... makanmu banyak sekali, tapi kenapa BBmu nggak nambah? Apa ada cacing di dalam sana?" canda Kevin.


"Ish!" Lea langsung cemberut, ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Kevin.


"Orang di luar sana pingin diet, nahan makan ini itu karena takut gendut. Mas harusnya bersyukur, meski banyak makan, akunya tetap langsing," celoteh Lea dengan bangga.


"Dih ... bangga!"


Lea terkekeh, kemudian menaruh makanan yang semula ia pegang ke atas meja.

__ADS_1


"Lihat apa sih, Mas? Dari tadi serius banget mantengin tab?" Lea melirik layar tab milik suaminya.


"Ini kan hari minggu, masa masih sibuk begituan!" protes Lea ketika berhasil mengintip apa yang suaminya kerjakan.


"Bentar, Mas harus periksa email masuk dulu. Willi mau nikah, kerjaan dia banyak. Mas coba kroscek sekali lagi."


"Besok lagi lah ... hari minggu juga. Itu waktunya keluarga ... bukan kerja ... kerja terus." Lea mulai merajuk.


Senyum Kevin mengembang, ia paling suka kalau Lea cari-cari perhatian. Kebetulan, ia juga lelah mantengin layar. Matanya sudah perih sejak tadi. Dan sekarang ia butuh hiburan.


Cup


Kevin mengecup kening Lea.


"Ayo ke kamar, di sana ada bibi!" bisik Kevin.


"Terus kenapa ada bibi? Ngapai juga ke kamar? Lea kan cuma mau santai-santai sambil rebahan berduaan nonton TV. Lagian bosan di kamar terus."


Kevin langsung membuang muka. Sudah tiga bulan menikah, Lea belum menunjukkan tanda-tanda. Melihat Sima dan Simi beberapa saat lalu main ke apartment, Kevin kan juga ingin anak kembar yang lucu-lucu itu.


"Mas juga bosan kalau cuma nonton TV," gerutu Kevin kemudian.


"Iya ... iyaaaa ... mau itu, kan?" tebak Lea saat melihat wajah Kevin yang masam.


Seketika Kevin langsung tersenyum tipis, ia lalu membantu Lea bangun dan menariknya masuk kamar.


Baru masuk, Kevin langsung menutup hidungnya.


"Lea, bau apa ini?"


"Bau apa? Bau apa, sih?" Lea lalu menatap sekotak ice cream yang sudah meleleh. Ice cream rasa durian.


"Oh ... aku lupa nggak masukin ke freezer lagi."


Lea lantas mengambil sekotak ice cream tersebut, membuka tutupnya dan mencium aromanya.


"Huekk, singkirkan itu dariku!!" Kevin langsung berlari menuju kamar mandi. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2