
Suamiku Pria Tulen #46
Oleh Sept
Rate 18+
Ada beberapa orang, terlihat manis dan seperti Malaikat di depan. Tapi, di belakang ia seolah memegang pisau, siap menikam dan tak segan membunuh dengan lisan atau tindakan.
Salwa sedang berada di kamarnya, wanita yang terlihat baik dan sama sekali tidak mencurigakan itu mencari sesuatu. Ia membuka isi lemari, dan tersenyum licik.
***
Esok harinya.
"Papa itu nggak seneng lihat Mama happy, baru juga nginep satu hari. Papa sudah nyariin, Nur ... Mama pulang dulu. Nanti Mama ke sini lagi."
"Iya, Ma."
"Cuaa ... sini peluk Oma. Oma masih kangen, minggu depan. Kalian sempetin nginep di rumah Mama ya?"
"Iya, Ma," sahut Arya yang keluar dari kamar sambil membetulkan posisi dasinya yang nampak miring.
Nur langsung bangun dari duduknya, ia kemudian ikut merapikan.
"Sudah ... sudah oke!" Nur mengacungkan jempol tangannya.
"Makasih!"
Cup
Arya langsung mengecup pipi Nur. Sedangkan Nur, ia langsung mendorong dada Arya. Malu, di sana ada Mama dan juga Salwa yang sedang menemani Cua bermain.
"Arya sekarang tidak punya malu ya, Nur?" celetuk mama.
Arya hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju ke tempat di mana Cua berada. Ia kemudian mengangkat badan Cua yang munggil itu.
"Malu sapa siapa?" cetus Arya.
Pria itu malah memciumi Cua, "Wangi banget anak Papa."
Nur yang sempat tersipu, kini tersenyum melihat betapa sayangnya Arya pada putri mereka.
"Tuan, ini kopinya," Salwa mengulurkan secangkir kopi yang asapnya masih megepul. Sudut matanya melirik tangan Arya yang akan meraih kopi buatannya.
Saat akan menyeruput, tiba-tiba Cua tidak sengaja mendekat. Reflek Arya menjauhkan minuman panas itu.
"Hati-hati, ini panas."
Cua malah merajuk mau digendong lagi. Alhasil, Arya sudah lupa dengan kopinya. Dalam hati Salwa mengutuk kesal, kalau begini ia bisa gagal mendapat transferan dari Rama.
"Tuan ... kopinya."
"Nggak usah, aku mau berangkat. Cua ... Papa kerja dulu ya." Arya menurunkan Cua dari gendongan.
__ADS_1
"Nur ... " Arya memanggil istrinya, tadi masuk ke kamar untuk mengambil tas miliknya. Tapi kok belum muncul juga.
"Lama sekali?" tanya Arya saat melihat Nur muncul dengan menenteng tas warna hitam miliknya.
"Sabar, lagian masih pagi."
"Ada pertemuan penting, lama aku tinggal. Pekerjaan menumpuk."
"Paling juga cuma bolak-balik kertas," celetuk Mama yang sudah siap-siap mau pulang.
Nur malah tersenyum, "Bener kata Mama."
"Kalian ini ... ya sudah, aku berangkat Nur."
Nur meraih tangan suaminya, mengecup punggung tangan pria itu. Melihat hal itu, mama merasa senang. Kebahagiaan keluarga kecil Arya adalah kebahagiaan dirinya juga.
"Ya sudah, Mama juga pulang ya Nur. Papa udah nyari-nyari."
"Hati-hati, Ma." Nur memeluk mertuannya.
"Daaa .... Cua sabtu besok main ke rumah Oma ya." Mama langsung menciumi Cua yang terlihat seperti boneka hidup tersebut.
Cua mengangguk, ia tersenyum lucu. Memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
Mereka akhirnya berpisah, tinggal Nur, Cua dan Salwa dan juga penjaga di luar rumah.
Matahari mulai meninggi, hari pun sudah siang. Cua sudah istirahatlah dan lelap di kamar bayi. Sedangkan Nur, ia sedang mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.
"Non, ini jus jeruk segar." Salwa datang membawa makanan dan minuman.
"Nggak apa-apa, Non. Silahkan diminum, mumpung masih dingin."
"Terima kasih," Tidak enak bila membiarkan begitu saja. Akhirnya Nur pun meminum jus itu sampai habis.
"Alhamdulillah ... Seger banget. Makasih, Sal."
Salwa tersenyum puas, kemudian ia pamit ke belakang.
***
Malam hari.
Arya sudah pulang jam lima sore tadi, sekarang mereka sedang asik nonton TV di ruang keluarga bertiga. Mereka nonton SpongeBob SquarePants. Kartun kesukaan Cua. Anak itu paling suka dengan benda kuning yang terdampar di dasar laut tersebut.
Lagi-lagi Salwa datang dengan berbagai minuman di atas nampan.
"Aku nggak minta kan, Sal?" Nur merasa aneh. Salwa dari tadi kok memberikan minuman ini itu untuknya dan juga Arya.
"Anu ... Non. Banyak buah segar di kulkas. Salwa bingung mau buat apa. Kalau lama tidak dimakan takut busuk. Jadi dijus saja sama Salwa."
"Oh, nanti kamu makan aja ya, Sal. Lama-lama aku kembung. Sehari dibikinin jus berkali-kali," ucap Nur sambil bercanda.
Salwa tersenyum datar, kemudian ia pergi lagi ke belakang. Namun, sebelum berbalik, ia memastikan apa Nur dan Arya sudah minum minuman buatannya.
__ADS_1
Tengah malam.
Salwa masih terjaga, ia sedang menanti panggilan telpon masuk.
Drettt drettt drettt
Melihat layar ponselnya menyala, Salwa bergegas mengeser ke arah warna hijau.
"Hallo, Tuan."
"Sudah lakukan perintahku?"
"Sudah, Tuan."
"Besok aku kirimkan lagi."
"Di tempat biasa, Tuan?"
"Tidak, nanti ada aku hubungi lagi."
Tut Tut Tut
Telpon terputus. Detik berikutnya, bibir Salwa langsung merekah. Saat ada pesan masuk dari M-banking. Sejumlah uang sudah dipindahkan ke rekening pribadinya. Ia memeluk ponselnya dengan senyum penuh kepuasan.
Hari berikutnya, Nur selalu dicekoki minuman yang mengandung zat asing pemberian Salwa. Sedangkan Arya, karena pria itu hanya di rumah saat malam, Arya tidak terlalu banyak mengkonsumsi. Hanya Nur yang sepertinya mulai merasuk dan terlihat effectnya.
Hari itu, Nur merasa hatinya tidak tenang. Pikirannya kosong melayang. Tubuhnya terasa sakit semua. Lama-lama ia menggigil, harusnya ia ada kuliah. Tapi merasa tubuhnya tidak bisa kompromi, ia akhirnya bolos.
Di mana Arya? Hari itu kebetulan Arya sedang melakukan kunjungan ke kantor cabang di kota Medan. Ada peresmian kantor cabang baru. Dan sepertinya ia akan pulang besok.
Melihat Nur menahan rasa sakit, Salwa pura-pura tidak melihat. Dengan sengaja ia tidak menengok Nur di dalam kamarnya. Salwa hanya fokus mengurus Cua. Ketika anak itu mau bertemu mamanya. Salwa hanya bilang mama lagi sakit, lebih baik main dengannya. Bukannya memanggil dokter, Salwa benar-benar menutup pintu hatinya.
Salwa kira Arya akan pulang besok, tidak tahunya. Tengah malam bosnya itu datang. Ia panik saat mengintip dari jendela. Agar tidak ketahuan, Salwa memasang muka polos tidak tahu apa-apa.
KLEK
"Nur mana? Aku hubungi kok nggak bisa?" tanya Arya saat Salwa membuka pintu.
"Di kamar, Tuan."
"Oh ... ya sudah. Kamu bisa tidur lagi sekarang."
Arya langsung ke kamarnya.
"Nur ... Nur ..."
Arya tidak melihat istrinya di mana-mana, penasaran ia terus masuk ke dalam. Menyusuri ruangan kamar yang cukup luas itu.
"Nur ... Ngapain mandi malam-malam?" Dahinya mengkerut, saat mendengar percikan air dari kamar mandi.
KLEK
Dibukanya pintu yang tidak dikunci tersebut.
__ADS_1
"NURRR! pekik Arya lalu menghabur pada Nur. Diangkatnya tubuh Nur yang meringkuk dalam bathtub. BERSAMBUNG.
Kira-kira Nur kenapa?