
Suamiku Pria Tajir #35
Oleh Sept
Rate 18+
Rama meminum anggur dari gelas yang ada di tangannya. Ia tersenyum puas, melihat Arya tidak berdaya. Sudah lama ia merencanakan hal ini, menanti pria itu lengah. Obsessinya pada Arya terlalu besar. Membuat Rama bertindak tanpa logika.
Sesaat kemudian, Arya mengerjap. Ia menatap langit-langit kamar yang nampak asing. Pria itu kemudian berusaha bergerak. Tapi tidak bisa, tangan dan kakinya sudah terikat.
"Sial!" Arya marah, ia berusaha melepas ikatan yang sudah menjeratnya.
"Sudah bangun rupanya?"
Arya mendongak dengan wajah kesal, dibalik lakban yang menutupi mulutnya. Ia mengutuk tindakan Rama.
"Tenang ... tenanglah dulu."
Rama tersenyum licik, pria itu kemudian mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sebuah kotak berisi jarum suntik yang sudah ada cairan darah di dalamnya.
"Brengsek! Apa yang kamu lakukan?" setidaknya itu yang bisa Rama tebak di balik mulut Arya yang ia bungkam.
Pria itu berusaha melepaskan diri dengan menendang dan meronta. Tapi, ikatan Rama terlalu kuat. Membuat Arya tak bisa melepaskan diri.
"Ini bayaran karena kamu sudah berhianat!"
Jrusss
Arya memejamkan mata menahan sakit, ia menegang ketika jarum itu menembus kulitnya. Darah dalam jarum itu kini berpindah dan mengalir ke pembuluh darah Arya.
"Aku sudah meminta baik-baik, bukan? Tapi kamu tidak mendengarku. Kini kamu pantas mendapatkannya!" ujar Rama menyeringai jahat.
Detik berikutnya, Arya mulai hilang kesadaran. Pria itu kembali pingsan.
***
Rumah sakit.
Tuan Brotoseno dan istrinya sudah berada di rumah sakit. Semua administrasi sudah diurus. Dan sekarang Nur berada di ruang operasi.
Di luar ruang operasi, mama mulai mengintrogasi Salwa.
"Arya mana?"
"Tidak tahu, Nyonya. Biasanya sudah pulang jam segini. Nomornya juga tidak aktif."
Mama langsung mendekati suaminya.
"Pa ... lapor polisi, Pa. Perasaan Mama nggak enak."
"Ma ... Arya baru tidak ada kabar beberapa jam. Mana bisa kita lapor polisi."
__ADS_1
"Tetep, Pa. Sewa detective. Pokoknya temukan Arya. Hati Mama udah gak tenang dari tadi."
"Mungkin macet, atau jamuan mendesak bersama klien." Tuan Brotoseno berusaha berpikir positive.
"Pa! Aku Mamanya! Ini pasti ada yang nggak beres. Cepat Papa hubungi detective swasta. Pokoknya temukan Arya segera."
"Arya sudah dewasa, Ma. Dia pasti tahu jalan pulang."
Mama berkacak pinggang, kemudian marah pada suaminya.
"Oke! Aku akan mencarinya sendiri!" tantang mama yang sangat marah.
Melihat istrinya marah-marah di saat situasi genting. Tuan Brotoseno akhirnya mengutus orang-orangnya malam itu juga. Di mulai dari kapan terakhir Arya terlihat. Semuanya mulai mencari keberadaan Arya.
***
KLEK
Pintu ruang operasi terbuka, terdengar suara tangisan bayi.
"Pa ...!" Mama langsung mendekati suaminya. Ia memeluk tubuh tuan muda. Menangis haru, mendengar tangisan cucu mereka. Baru mendengar, mama sudah terenyuh. Ditambah tidak ada Arya, ayah sang bayi. Mama tambah melow. Nanti bagaimana kalau Nur tanya di mana suaminya?
Setelah berada di ruang pemulihan, Nur akhirnya dibawa ke ruang perawatan. Sebuah kamar yang cukup besar, padahal isinya hanya satu orang.
"Cantik sekali, Nur. Seperti papanya. Persis sekali dengan bayinya Arya dulu." Mama mencium cucu pertamanya dengan penuh rasa haru yang mengebu. Matanya pun terus berair.
Nur menatap sekeliling, kemudian meraih bayinya yang mulai minta asi. Ia meletakkan Arya junior ke atas dadanya.
Mama malah menatap suaminya, ia juga bingung mau jawab apa. Sebab orang suruhan mereka belum menemukan jejak Arya. Semua masih mengusahakan misi pencarian pewaris KCF Group tersebut. Tidak mau Nur setres, mama akhirnya berbohong.
"Arya harus menghadiri pertemuan penting, dan tidak bisa ditunda."
Nur tertegun, apa dia dan anaknya tidak penting?
Drettt drettt drettt
Semua menatap ponsel Nur yang berdering di atas meja. Mama buru-buru menyambar benda pipih itu. Barangkali itu adalah Arya.
"Hallo ... hallo ... Arya?"
Di balik telpon, Rama mengepalkan tangan menahan kesal. Mau menghubungi Nur malah terdengar suara wanita tua. Kesal, ia membanting semua benda di depannya. Tidak peduli semahal apa, ia hanya ingin melampiaskan amarahnya.
"Hallo ... Hallo?" Mama terlihat gelisah, jangan-jangan itu memang Arya.
"Pa ... hubungi orang-orang Papa lagi. Mengapa mereka sangat lamban?" Mama yang gelisah, hanya bisa menahan emosinya. Takut Nur curiga.
"Kalian bohong kan? Mas Arya sekarang di mana?" Wajah Nur pucat, feelingnya mengatakan hal buruk sudah terjadi.
"Tidak ... untuk apa Mama bohong." Mama mengalihkan perhatian. Ia pura-pura bicara pada suaminya.
"Salwa, ambilkan ponselku!" seru Nur pada Salwa. Nur mau menelpon sendiri Arya.
__ADS_1
Tut Tut Tut
Nur panik ketika nomor Arya tidak lagi aktive. Sedangkan mama, ia terlihat gelisah, mau jujur takut malah membuat Nur kepikiran. Tapi kalau terus berbohong, pasti Nur akan curiga juga.
"Apa yang terjadi sama Mas Arya, Ma?"
Mama tidak bisa berbohong lagi, ia memejamkan mata dan mulai berbicara jujur.
"Arya ... Arya hilang, Nur," ucap mama terbata dengan mata yang sudah terasa perih. Ia memeluk tubuh suaminya dan terisak di sana.
Sedangkan Nur, ia tertegun dengan tatapan Nanar. Apa maksudnya suaminya telah hilang? Apa yang terjadi? Nur berjibaku dengan pikirannya sendiri.
Oek oek oek
Terdengar bayi di atas dadanya malah menangis, Nur benar-benar merasa kacau. Kepalanya belum bisa berpikir sepenuhnya.
***
Arya mulai mengerakkan jarinya, tubuhnya terasa lemah. Ia kemudian membuka mata. Mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada. Seorang diri di dalam ruangan, membuat Arya berusaha bangkit. Ia harus kabur dari sana.
PRANGGG
Sengaja Arya memecahkan sebuah botol di atas meja. Menjadikan serpihan itu sebagai alat pengantin pisau untuk melepas tali yang mengikat tangannya. Dengan sudah payah, akhirnya ikatan tangannya bisa lepas. Meskipun tangannya harus sedikit terluka dan berdarah.
Arya melepas ikatan kakinya, kemudian mengendap. Dilihatnya tidak ada orang di sekitar sana. Dengan terseok, ia menyusuri mansion milik Rama tersebut.
Tap tap tap
Terdengar suara derap langkah yang semakin jelas. Dengan cepat, Arya bersembunyi di salah satu ruangan.
"Penjagaaa!" teriak Rama yang nampak gusar.
Seorang penjaga langsung berlari menemui Rama.
"Iya, Tuan."
"Bodoh kamu? Di mana dia?"
Penjaga itu langsung terlihat ketakutan. Masalahnya, ia tadi benar-benar ingin ke kamar mandi. Ada panggilan alam yang tidak bisa ia tunda.
"Maaf, Tuan ... Maaf."
"Cepat temukan dia sekarang!" teriaknya tidak mau tahu.
"Baik, Tuan."
"Bila perlu, seret mayatnya ke mari!" titah Rama penuh benci.
Obsessi pria seperti Rama, menjadi sumber bahaya yang mengancam keselamatan Arya. Bila ia tidak mendapatkan pria itu, Nur pun sama. Biar Arya mati sekalian, pikir Rama.
Bersambung.
__ADS_1
Hemmm ... Psikopat lewat.