Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
America


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #41


Oleh Sept


Rate 18+


Hopkins Hospital, Amerika Serikat.


Keluarga kecil Arya sudah sampai di USA, beberapa waktu yang lalu, Arya pun sudah berada di dalam sebuah bangsal VIP, kelas terbaik di rumah sakit terbaik tersebut. Sebuah rumah sakit yang pelayanan dan kualitas medisnya tidak diragukan lagi.


Arya sengaja memilih rumah sakit di sana, karena ia tahu bahwa di sana lah salah satu rumah sakit terbaik dengan dokter-dokter lulusan terbaik di seluruh dunia. Dan andai kata hasilnya tidak sesuai harapan mereka, mereka masih punya harapan dengan segera berobat.


***


"Bagaimana, Mas? Kapan hasil test ulangnya keluar." Nur tidak sabar menunggu hasilnya.


"Sebentar lagi," jawab Arya yang kala itu sedang memangku Cua yang lagi makan kue nectar.


Tap tap tap


Jantung Nur berdebar hebat saat tim medis datang dan masuk ke bangsal suaminya. Nur menatap satu persatu pria berjas putih yang rata-rata tinggi dan besar itu. Bila berdiri sejajar, Nur mungkin hanya setinggi ketek para tenaga medis tersebut.


Dilihatnya dengan wajah serius dan terkesan tegang, ketika Arya menerima map bersegel dari salah satu dokter. Tanpa menunggu, Arya langsung bergegas membuka map tersebut.


Krekkkk


Langsung saja Arya sobek, sudah sangat penasaran dengan hasilnya. Dan ketika puas membaca hasil test, Arya yang hampir tidak pernah menangis, hari itu terlihat mengusap wajahnya.


Nur jelas panik melihat mata suaminya mengembun, dengan buru-buru ia mengambil kertas dari tangan suaminya. Nur membacanya dengan teliti dan berkali-kali. Ia pun malah ikut menangis, Nur langsung memeluk tubuh suaminya.


Para dokter bagai penonton bayaran, mereka terharu atas pemandangan di kamar VIP tersebut.


***


Setelah para tim medis pergi, Arya kini berdiri menatap jendela yang menghadap kota. Tangannya mengengam tangan Nur Azizah, istri yang memiliki kesabaran penuh dalam menghadapi dirinya selama ini. Sedangkan tangan satunya, menggendong Cua, yang senang menatap barisan gedung seperti miniature lego.


"Kapan kita kembali?" tanya Nur sembari menatap pemandangan ke luar jendela kaca yang besar.


"Kenapa buru-buru sekali?" Arya mengeryitkan dahi.


"Ah ... itu, bagaimana dengan pekerjaan Mas Arya di Jakarta?"


"Biarkan saja, perusahaan tidak akan bangkrut bila aku tinggal," cetus Arya enteng.


"Em ... kuliahku?"


"Ya ampun Nur, setelah pekerjaan, kuliah, apalagi yang kamu pikirankan? Apa kamu tidak merindukan aku?"

__ADS_1


Sudut matanya menyipit, Nur seketika tersenyum.


"Sangat ... sangat rindu!" Nur melepas tangannya, kemudian memeluk pinggang Arya. Mencium Cua dalam gendongan Arya dengan sayang.


Arya pun ikut tersenyum, dikecupnya kening Nur sambil menunduk. Kemudian merangkul bahu wanita yang selama ini setia di sisinya.


"Terima kasih, terima kasih karena memilih bertahan." Terdengar Arya sangat menyesali perbuatannya. Kenapa ia bodoh dan takut pada kenyataan. Hingga harus menyakiti hati Nur selama bertahun-tahun.


Nur merapat, mempererat pelukan. Yang lalu sudah berlalu. Yang paling penting adalah hari ini dan hari esok.


***


Pulang dari rumah sakit ternama dengan hasil akurat tanpa bisa direkayasa, Arya langsung menuju apartemen mewah di pusat kota. Ia memboyong keluarga kecilnya ke sana.


"Mas, ini apartemen punya siapa?" tanya Nur begitu melangkahkan kakinya ke dalam. Sebuah karpet merah bahkan sudah menyambut mereka.


"Punyamu dan Cua."


"Hah?" Nur malah bengong, mana dia tahu kalau suaminya punya hunian di Amerika.


"Kapan Mas Arya beli? Mas kan nggak pernah ke sini?" tanya Nur polos.


"Aku bahkan bisa membelikanmu pulau buatan di Dubai tanpa ke sana, Nur."


"Astaga!!!"


Melihat Nur yang sepolos dulu, membuat Arya gemas dan makin sayang. Begitulah Nur. Tidak tahu dan tidak mau tahu sekaya apa dirinya. Bahkan dikasi kartu tanpa batas limit saja tidak pernah digunakan. Arya sampai heran, Nur ini hemat apa pelit? Karena mereka beda tipis.


"Cua main dulu ya, Mama beres-beres dulu."


"Beres-beres apa? Udah ... duduk manis. Sudah ada beberapa asisten di apartemen ini."


"Asisten? Mana?"


"Nanti juga datang kalau dipanggil. Aku katakan pada mereka, untuk pergi sejenak karena nggak mau ada yang ganggu."


"Hah?"


"Jangan heran begitu, selesai istirahat nanti aku ajak jalan-jalan." Arya mengusap rambut Nur. Menatapnya penuh cinta. Seperti dilahirkan kembali, Arya juga merasa jatuh cinta lagi tanpa rasa bersalah.


***


Mall Of America


Nur menggeleng keras saat Arya menunjuk barang-barang branded yang akan dibeli.


"Nur nggak butuh, untuk apa? Ini nggak penting, Mas!"

__ADS_1


Ia shock dengan deretan angka dolar. Otaknya langsung seperti kalkulator. Mengalihkan menjadi rupiah. Astaga, mana bisa? Harga sebuah tas setara dengan rumah di Jakarta. Gila, Nur bukan pemuja barang mewah yang bersifat duniawi. Jelas ia menolak keras.


"Anggap saja hadia dariku."


Nur menggeleng, "Lebih baik sumbangkan ke yayasan atau apa pun itu. Nur nggak mau."


"Masa aku nyumbang bilang-bilang, Nur? Kamu tahu yayasan Pelita harapan di kawasan Menteng dan sekitarnya?"


Nur menggeleng


"Kamu harusnya tahu, group KCF juga menjadi donatur terbesar dalam dunia pendidikan di daerah pedalaman Kalimantan dan Papua, pasti kamu tidak tahu."


Nur kali ini tersenyum, kalau yang itu ia tahu. Sebab ia pernah merapikan file-file di meja suaminya. Ia sekilas membacanya hanya tidak pernah bertanya.


"Jadi ... ambil ini, jangan lihat harga. Anggap saja itu tas beli di tanah abang," canda Arya yang melihat keenganan wajah Nur saat memegang tas mahal tersebut.


Sedangkan Nur, ia sayang sekali mengeluarkan banyak uang demi sebuah tas? Ah, ia sampai tidak habis pikir. Apa bagusnya tas ini hingga dibandrol M-Man.


Karena Cua merengek, Arya pun mengajak mereka ke restaurant di dalam sana. Nur berjalan dengan kaki yang berat, seperti diseret dari belakang. Ini gara-gara tas yang ia pegang. Rasanya ingin menukar benda itu, tapi Arya langsung melotot ke arahnya. Argh, Nur dilema. sayang banget beli tas seharga rumah.


Restaurant cepat saji.


"Mau makan apa?" tanya Arya menatap Nur dan Cua yang sedang menikmati permen coklatnya.


"Apa saja, penting kenyang."


"Oke!" Arya melempar senyumnya.


Pria itu lalu menoleh, Arya hendak memanggil pelayan. Namun, matanya malah tidak sengaja menangkap sosok wanita cantik yang juga terkejut saat mata mereka bertemu tanpa sengaja.


Wanita itu mencoba tersenyum, terlihat kaku dan canggung. Sedangkan Arya, wajahnya tanpa ekspresi. Tidak ada gurat senyum untuk membalas senyuman wanita tersebut.


"Mas ... Mas Arya!" sentak Nur yang melihat suaminya bengong.


Arya lantas berbalik, kini ia sedang menatap wajah Nur.


"Pesan apa?" bisik Nur saat pelayan sudah ada di dekat meja mereka.


Untuk sesaat, Arya tidak bisa berpikir. Pria itu kemudian kembali menoleh saat wanita yang tak asing itu melewati meja mereka. Wanita itu berjalan sambil menggandeng tangan anak perempuan yang beranjak remaja. Mereka kembali saling menatap, kemudian wanita itu berjalan menjauh.


"Tunggu di sini sebentar," ucap Arya pada Nur.


Pria itu kemudian menyusul wanita dengan anak gadisnya tersebut.


"Tunggu!"


Arya meraih lengan wanita tersebut. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2