
Suamiku Pria Tulen #111
Oleh Sept
Rate 18+
"Lea ... sekarang kamu sudah menikah, kamu nggak bisa tidur sampai siang seperti ini," ucap Nur lirih. Ia lemas, anak gadis yang ia jaga selama ini ternyata sudah tidak gadis lagi. Nur merasa sudah kecolongan.
"Ya ampun, Ma. Semalam Lea nggak tidur. Biarin Lea tidur sebentar lagi!"
Kepala Nur langsung nyut-nyutan. Ia pikir Lea semalam bergadang karena melakukan malam pertama.
"Sudah-sudah, bangun dan mandi. Bersihkan tubuhmu. Keramas sana!"
Lama-lama Nur jengkel, karena Lea membuatnya kesal, marah dan kecewa.
"Ih Mamaaaa!"
Dengan gregetan, Lea akhirnya membuang guling yang tadi ia peluk. Akhirnya terpaksa ia mandi juga.
***
Selesai mandi Lea turun ke lantai bawah, rumahnya nampak sepi. Papanya ada di sudut ruangan sedang baca koran sambil minum kopi. Sedangkan sang mama, sibuk merangkai bunga.
"Baru bangun kamu, Lea?"
"Hemmm ... iya, Pa."
"Sana, sarapan sekalian makan siang."
Mendengar sindiran halus dari sang papa, Lea berjalan manyun ke dapur.
Selesai makan, Lea kembali ke kamarnya. Ia kemudian ingat dengan hadiah dari sang kakak. Tiba-tiba Lea ingin belanja.
Tap tap tap
Terdengar suara kaki Lea menuruni tangga rumahnya.
"Mau ke mana kamu? Kelapanya lagi?" suara Arya membuat Lea menelan ludah dengan kasar. Dah Lea langsung mengerem kakinya mendadak.
"Enggak ... Lea mau ke kantor suaminya Lea," elak gadis tersebut. Ia memilih berbohong. Kalau papanya tahu ia mau shopping gila-gilaan, nanti kartunya direbut sang papa.
"Minta anterin sopir, tidak usah mengemudi sendiri dulu."
"Loh ... Pa," protesnya.
Begitu melihat mata papanya sudah mau keluar, Lea hanya bisa menerima keputusan pria yang kini jauh terlihat sangat galak tersebut. Sang papa kini sudah berubah seperti banteng, siap nyeruduk Lea kapan saja.
"Iya .... iyaaaa!" ujarnya kesal.
***
Petrova Cooperation
"Selamat datang Nyonya." Willi langsung menyambut tamu dadakan tersebut.
"Lea masih muda, jangan panggil nyonya dong. Telinga Lea geli Mas Willi ... em ... orang itu ada di ruangan, kan?"
Willi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Oh ... Ya sudah," Lea langsung berbalik. Membuat Willi heran. Baru datang kok sudah pergi. Ini kan memang akal-akalan Lea. Pamitnya ke kantor Kevin. Padahal maunya sih ngelayap.
***
JKT Grand Plaza
Tenyata Lea sedang janjian dengan teman-temanya. Mereka semua bertanya, Lea selama ini kok nggak pernah hang out bareng sama mereka. Lea yang pinter bikin alasan, menjawab sibuk ngerjain proyek di tempat barunya. Ia kan sibuk karena harus kerja. Padahal aslinya kan dikurung oleh papanya.
Di mall itu, Lea mentraktir teman-temanya. Dan belanja apa saja yang ia mau. Puas main sampai sore akhirnya ia pulang. Pulangnya pun pinter, ia menelpon sekretaris Willi terlebih dahulu.
"Mas, dia belum pulang kan?"
"Belum, Nyonya."
__ADS_1
"Ish ... jangan nyonya-nyonya! Aku geli dengernya," gerutu Lea.
"Ah ... baik. Baik Nona Alea."
Setelah memastikan Kevin masih di kantor. Lea pun naik taksi menju Petrova Cooperation.
***
"Untuk apa ke sini?" Kevin mendesis kesal melihat Lea muncul di ruangannya.
"Mau nebeng pulang. Nanti kalau papa tanya-tanya bilang aku seharian ini di sini, ya?" Lea tersenyum semanis mungkin. Ia mau merayu Kevin agar tidak mengadu pada papanya.
"Sekarang apa lagi?" tanya Kevin yang sudah kesal pada istri barunya itu.
"Nggak ada apa-apa, cuma nebeng. Papa taunya aku di sini. Awas ya, jangan ngadu aneh-aneh."
Lea malah jadi mengancam, membuat Kevin menghela napas berat. Sepertinya hidup kedepannya akan sangat susah dan merepotkan.
***
Sampai rumah sudah mulai malam. Dan Kevin langsung pamit, ia berniat akan kembali ke apartemen miliknya sendiri.
"Maaa ... Lea di sini aja, ya?" Lea merajuk. Bila dulu ingin keluar dari rumah itu, kini malah sebaliknya. Dan sukses membuat Arya meliriknya dengan tajam.
"Hati-hati kalian!"
Arya memberikan koper milik Lea pada Kevin untuk dibawa oleh pria itu. Mulai sekarang, Lea sudah jadi tanggung jawab suaminya. Meski berat, Arya harus rela. Biarkan Lea belajar dewasa dengan hidup jauh dari mereka.
"Paaaaa!" Lea langsung memeluk papanya. Berharap papanya luluh. Tapi papanya malah memberikan tangannya pada Kevin.
"Jaga putriku baik-baik!"
Kevin mengangguk dengan tak enak hati, benar-benar suasana yang kaku.
Sedangkan Nur, ia langsung memeluk Lea. Sepertinya berat melepas Lea. Nur tidak percaya Lea harus pergi dan tinggal dengan suaminya.
"Kalau begitu Kevin permisi Ma, Pa."
***
Apartemen.
Sampai di apartemen dan hanya tinggal berdua, Lea tiba-tiba merasa ngeri.
"Aku tidur di sana." Lea menunjuk kamar tamu.
"Hem!" response Kevin cuek. Ia langsung masuk kamarnya sendiri.
Lea bernapas lega, ia kira pria itu akan memaksa satu kamar. Ternyata dugaannya meleset. Karena sudah malam, keduanya pun langsung tidur di kamar masing-masing.
Pagi harinya.
Jam tujuh tepat, Nur sudah bertamu di apartemen mereka. Membuat keduanya kelimpungan. Saat Nur masih berdiri menunggu di depan pintu, Lea buru-buru merapikan kamar tamu. Membawa kopernya ke mara utama. Dua pasangan baru itu dibuat kerepotan oleh kunjungan dadakan tersebut.
"Mama gak bilang-bilang mau ke sini?" tanya Lea basa-basi.
"Semalam Mama gak bisa tidur, boleh ya Mama menginap di sini."
"Ngapain?"
"Nggak boleh, ya?"
"Boleh, Ma," sela Kevin dengan senyum palsu. Ia tahu, pasti mamanya Lea khawatir dengan putrinya. Kevin jadi ingat mamanya sendiri.
"Makasih, Vin."
Kevin hanya mengangguk.
"Anggap rumah sendiri, Ma. Kevin berangkat dulu."
"Hati-hati," pesan Nur pada menantunya.
"Hem."
__ADS_1
Saat Kevin sudah ngantor, Nur pun mulai menceramahi ini itu pada putrinya. Sebuah nasehat yang biasanya dikatakan oleh orang tua pada anaknya yang baru saja mengarungi bahtera rumah tangga.
Bagi Lea ia seperti mendengar pemaparan pelajaran PPKn, Lea mendengar nasehat mamanya dengan ogah-ogahan. Sebentar-sebentar ia menguap. Dasar Lea!
Lea bosan, mamanya banyak mengatakan jangan ini, jangan begitu. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Dan harus sopan dalam memanggil suami.
"Lea manggilnya apa?" Nur kurang memperhatikan selama ini. Ia sekarang baru menyadari dan nampak penasaran.
"Mas lah, Ma. Mau panggil apa lagi. Dia kan jauh lebih tua dari pada Lea."
"Bagus," komentar Nur. Padahal Lea bohong. Ia kalau manggil Kevin kan tidak pernah ada sopan-sopannya. Malah lebih sopan pada willi. Karena Lea merasa Willi lebih baik dari pada manusia sombong dan belagu tersebut, pikir Lea.
Setelah lama mengobrol, mereka sampai tidak sadar. Hari sudah menjelang sore, Nur langsung ke dapur. Memeriksa kulkas dan memasak dengan bahan yang ada.
"Lea! Sini. Perhatian Mama. Usahakan sekali-kali tetap memasak, jangan makan di luar saja. Atau pesan makanan. Mama mau ajari kamu masak."
"Ngapain repot-repot, Mama."
Selama ini dilayani asisten, bagi Lea memasak bukanlah bidangnya.
BUGHHH
Akibat perkataannya, Lea mendapat pukulan dari mamanya. Dengan terpaksa, ia berdiri di samping sang mama. Melihat apa saja yang mamanya lakukan.
Tidak terasa malam telah mengelar jubahnya. Dan rembulan mengantung indah di langit yang gelap.
Kevin baru pulang, dan Nur menyuruh Lea untuk membantu suaminya.
"Tuh suamimu pulang, siapain handuk, air hangat atau apa saja. Jangan nonton TV saja!" Nur menyengol Lea dengan sikunya.
"Ya ... yaaaaa!" gerutu Lea kesal.
KLEK
"Kenapa kau masuk!" Kevin terkejut karena ia sedang melapas kemeja.
"Astaga! Lepas di kamar mandi saja."
Bukkkk
Bukannya melakukan apa yang mamanya perintah, Lea malah merebahkan tubuhnya.
"Hei ... sedang apa kau ini? Keluar dari kamarku!" desis Kevin kesal.
"Kamu pikir aku sudi lama-lama di sini? Tuh ... mama yang suruh. Aku sebentar saja, nanti akan pergi. Cepat mandi." Lea memerintah bagai pemilik rumah. Kevin sampai tidak bisa berkata-kata.
Tidak sampai di situ. Setelah makan bersama, kesialan kembali menimpa Kevin. Malam ini mereka harus berbagi kamar lagi.
"Ini batasnya! Jangan melewati! Awas!"
Lea menaruh guling di tengah-tengah ranjang. Ia memakai benda itu sebagai pagar pembatas.
"Terserah!" timpal Kevin dengan dongkol.
Pukul tiga pagi.
Guling yang semula di tengah sudah hilang entah ke mana rimbanya. Dengan nyaman Lea justru tidur sambil memeluk Kevin. Seolah pria itu adalah guling yang bisa dipeluk-peluk.
Terbiasa tidur sendirian sampai sekarang, Kevin merasa sesak, karena ada yang memeluknya dengan erat.
Begitu membuka mata, ia dibuat terkejut karena Lea memeluk tubuhnya. Susah payah ia melepas. Namun Lea malah semakin erat memeluknya.
"Ish! Lea ... Lea ... aduh!"
Lea kalau tidur sudah mirip kebo, susah dibangunkan. Alhasil Kevin pun membiarkan Lea tidur dalam pelukannya.
"Manis juga kalau diam. Anak nakal!" batin Kevin ketika melihat Lea yang lelap bagai bayi tanpa dosa. Tapi, kalau bangun membuatnya snewen dan naik darah.
Sinar matahari menerobos masuk lewat cela di jendela, Lea mengerjap. Ia mengusap dan mengosok matanya. Pelan-pelan Lea menajamkan mata, dan ia terkejut ketika bangun di atas dada Kevin yang bidang. Ditambah pria itu tidak memakai baju. Lea panik dan langsung mendorong tubuh Kevin.
Brukkkkk
Tubuh Kevin seketika jatuh dari atas ranjang, bersambung.
__ADS_1