
Suamiku Pria Tulen #45
Oleh Sept
Rate 18+
Ada beberapa perempuan akan luluh dengan rayuan gombal, dan ada beberapa juga yang malah enek dan mual bila mendengar kata-kata tersebut. Nur adalah jenis perempuan nomor satu, di mana ia langsung tersipu, hidungnya kembang-kempis ketika suaminya mengatakan bahwa ialah masa depan Arya.
"Kalau Mas Arya macam-macam, Nur nggak akan diam." Meskipun tersipu dan termakan bujuk rayu, Nur tetap menyelipkan kalimat ancaman.
"Ish!"
Arya lalu melepas pelukannya, pria itu menatap dua bola mata yang masih menyalak tersebut. Ia memandanginya dengan dalam. Hingga Nur tak tahan dan memalingkan muka.
"Pegang kata-kataku!"
Nur seketika lupa segalanya, lupa kalau tadi ia sempat marah. Keduannya malah berakhir sambil berpelukan dengan erat kembali.
***
Dua minggu kemudian.
"Sudah diperiksa? Yakin nggak ada yang ketinggalan?" tanya Arya.
Ia memperhatikan Nur yang memasukkan dan merapikan beberapa barang ke dalam koper. Hari ini mereka akan kembali ke tanah air.
"Sudah, Mas. Udah nggak ada yang ketinggalan." Nur yakin, semuanya sudah dipacking dengan rapi dan beres semuanya.
"Ya sudah, sebentar lagi kita berangkat."
"Iya, ini juga sudah beres semuanya, Mas."
__ADS_1
Setelah memeriksa semua barang, sopir yang akan mengantar mereka datang.
"Sudah siap, Tuan? Di mana koper yang mau dibawa?"
Arya melirik ke arah koper di sampingnya. Melihat Nur membawa tas, ia langsung meraih Cua. Ganti menggendong balita berwajah imut dan mengemaskan tersebut. Mata sipit, bibir munggil kemerah-merahan. Sangat lucu dan membuat hati ingin mencubitnya.
"Cua, sini ... sama Papa!"
Balita itu langsung merentangkan tangannya lebar, menuju gendongan sang papa. Ia ikut tersenyum ketika sang papa menatapnya sambil melempar senyum penuh sayang.
"Kita naik pesawat lagi, ya." Arya lantas mengecup pucuk kepala Cua yang dihiasi pita warna merah muda. Aromanya harum, khas wangi anak-anak.
***
Bandara.
Mereka bertiga berjalan bersama-sama, sebentar lagi pesawat akan berangkat. Sempat macet sesaat, membuat Arya dan Nur terlihat buru-buru.
INDONESIA
Arya menarik koper, sedangkan tangan satunya mengengam tangan Nur. Mereka sudah tiba beberapa saat lalu.
"Akhirnya sampai juga." Nur lega, setelah beberapa minggu di negara super power, sekarang ia kembali ke negaranya sendiri. Negara berflower, tanah air beta. Yang khas dengan kearifan detergent julidnya.
"Itu Mama," seru Nur ketika mertuanya yang menjemput sendiri. Sepertinya mereka benar-benar kangen. Mereka pasti merindukan Cua, cucu pertama dan satu-satunya.
Saat mama melihat dari jauh keberadaan Arya, Nur dan sang cucu, wanita itu langsung mendekat. Dan di belakang mama ada pak supir yang mengikuti.
"Sayang ..."
Mama langsung merentangkan tangannya, ia kangen berat sama Cua.
__ADS_1
"Aduh ... Nggak ketemu lama, bikin Oma kangen. Besok-besok kalau ke mana-mana Oma sepertinya mesti ikut," canda Mama sambil menciumi pipi Cua.
Setelah lepas kangen, mereka akhirnya pulang. Mereka langsung menuju kediaman Arya Pramudya. Dan sepanjang jalan, mama tidak henti-hentinya menatap dan memeluk Cua.
"Mama tersiksa saat kalian di Amerika, buru-buru deh, buat adik buat Cua. Biar Mama nggak kesepian," celetuk mama saat di dalam mobil.
Wajah Nur langsung kaku, sedangkan Arya. Ia bisa melihat mimik wajah Nur yang canggung lewat spion dalam.
"Usaha udah, Ma. Nunggu hasil," cetus Arya yang semakin membuat Nur salah tingkah.
"Bagus ... jangan KB, Nur. Mama mau cucu yang banyak," terang mama sambil mengusap rambut Cua yang halus. Balita itu akhirnya tertidur juga dalam pangkuan sang oma.
"Nggak, Ma. Nur nggak KB kok," jawab Nur sedikit gagap. Sudah mirip Aziz.
Arya makin tersenyum puas, melihat Nur yang bersemu karena malu. Hingga tidak terasa, akhirnya mereka sampai di depan rumah dengan halaman yang luas.
***
"Mama nginep sini ya, masih kangen," ucap mama setelah menidurkan Cua di dalam kamar.
"Iya, Ma. Mau nginep sebulan juga nggak papa," timpal Arya.
Dari belakang Salwa datang dengan membawa camilan dan minuman untuk mereka semua.
"Makasih, Sal."
Nur tersenyum pada asisten yang sudah menjaga rumah mereka saat pergi ke luar negeri cukup lama.
Salwa hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam lagi. Ketika sudah sepi, Salwa menoleh kanan kiri, wanita muda itu langsung mengambil ponselnya.
[Mereka sudah kembali, Tuan]
__ADS_1
Salwa mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang. Bersambung.