Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
I Believe


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #32


Oleh Sept


Rate 18+


Beberapa orang sulit percaya jika sudah meyakini sesuatu. Dan membuat orang lain percaya setelah kecewa, itu tidaklah mudah. Karena itu, Arya langsung saja ke intinya.


"Sesuai maumu, Nur. Akan aku tunjukkan langsung."


Nur menggeleng panik.


"Mas Arya mau apa? Jangan macam-macam!" Wanita itu terus saja mundur, hingga menyentuh dinding. Jelas sekali ia terlihat begitu panik.


"Bukankah tadi kamu ingin tahu, dan sekarang akan aku tunjukin. Bedanya ... dia melakukan itu dengan sejenis!"


Nur membekap mulutnya sendiri. Ia shok dan terkejut.


"Kalian ..." Nur tak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka suaminya terjerumus pada pergaulan bebas seperti itu. Di luar nalar dan tidak dapat dipercaya.


"Tidak usah begitu heran, Nur. Dunia ini tidak sebagus yang kamu pikirankan. Kamu pasti makin shok setelah aku ajak tinggal di sana."


Cepat-cepat Nur menggeleng kepalanya.


Arya tersenyum tipis.


"Itu dulu ... dulu sekali. Sebenarnya sampai beberapa waktu yang lalu, aku tidak tertarik pada keduannya. Tapi ..."


Arya berhenti bicara, ia kemudian menatap Nur.


"Tinggal bersamamu nyatanya membuat hatiku yang semula kosong kembali penuh ... Aku mau kamu, Nur! ... Dan anak Kita. Lucu sekali, bukan? Aku kira tidak akan menikah sampai aku tua. Dan anak ... mana pernah aku berpikir akan memiliki seorang anak?"


Arya mendekat, ia mengusap perut Nur dengan sayang.


"Bagaimana? Apa kamu masih mau menjauh dariku? Tapi coba saja ... karena aku tidak akan melepasmu!"


Arya langsung membopong tubuh Nur, lalu naik ke atas ranjang. Dengan perlahan ia meletakkan Nur di atas sana.


"Mas sekarang suka apa?" celetuk Nur, polos.


Arya mengeryitkan dahi, kata-katanya yang panjang lebar tadi apa tidak bisa dipahami oleh anak itu? Ah ... sepertinya Nur memang minta bukti.


"Aku Kira kamu sudah paham," gumam Arya.


Nur menatap tanpa kedip.


"Aku suka ini!"


CUP


Arya mengecup singkat bibir Nur, terasa lembut meski sesaat. Membuat Nur tertegun dan menelan ludah.


Ehem ... ehemm ...


Nur berdehem karena Arya terus saja menatap dirinya tanpa berpaling sedikit pun.


"Tapi ... aku lebih suka yang seperti ini!" Arya lalu memegang dagu lancip itu.


Baru dicium, Nur sudah berdesir, jantungnya mulai bergemuru.


Sesaat kemudian, Arya melepaskan tautan bibir mereka. Wajah mereka masih berdekatan, bahkan keduanya bisa merasakan hembusan napas yang menerpa wajah masing-masing.

__ADS_1


"Dari sini ... kamu sudah tahu jawabannya, kan?"


Nur mengangguk pelan.


"Anak pintar!"


Arya mengusap rambut Nur dengan sayang. Kemudian menegelamkan wajah Nur ke dalam pelukannya.


Nur tersipu ketika menyadari degup jantung Arya yang sangat cepat, karena sama persis dengan miliknya. Reflek, tangannya semakin memeluk erat tubuh Arya.


"Bagaimana, apa kita lanjutkan?"


Nur langsung beringsut, ia mendorong lembut dada bidang itu.


"Aku mau turun!" Nur begitu cemen, ia malah mau kabur.


Srekkkk


Arya menarik tubuhnya, membuat Nur oleng dan jatuh tepat di pangkuan Arya.


"Mau ke mana? Tadi kamu ingin tahu, sekarang aku kasih tahu."


"Nggak Mas Arya, Nur sudah percaya."


Buru-buru Nur melepas lengan Arya yang melingkar si pinggangnya.


"Tetap saja, biar nanti kamu nggak meragu lagi."


"Eh ... nggak. Nur sudah percaya!" Nur memegangi kancing bajunya. Hampir saja Arya mau melepasnya. Namun, Arya sudah niat dari tadi. Mau Nur sudah percaya apa tidak, ia langsung saja menarik Nur agar lebih mendekat.


***


Nur sedang berjalan ke dapur, ia mencari sesuatu untuk dimakan. Tiba-tiba perutnya lapar.


Mama maju ke depan, membuka kulkas dan mengambil sebuah kotak roti dari dalam sana.


"Tidur, Ma," jawab Nur dengan tak enak.


"Tidur? Apa dia sakit? Tapi sepertinya dia tadi baik-baik saja."


Dahi mama berkerut, bibirnya mengulas senyum saat melirik rambut Nur yang masih basah.


"Oh ... tidur ya. Ya sudah, kasihkan ini buat Arya."


"Jamu lagi, Ma?"


"Hem ... pastikan dia minum, ya."


Dengan canggung, Nur meraih sebuah botol pemberian sang mama mertua.


"Dan ini ... bawa ke kamar. Mama dulu pas hamil Arya, bawaannya lapar terus." Sepertinya mama tahu tujuan Nur ke dapur. Biar Nur tidak malu, ia menyuruh Nur membawa makanan ke kamarnya.


"Nggak ... Ma. Nggak usah."


"Udah ... Nggak apa. Kamu mau camilan apa? Biar Mama suruh bibi siapkan."


"Ini aja, Ma. Cukup." Nur pun pamit, ia canggung kalau lama-lama dekat mertuannya. Masalahnya, sang Mama sejak tadi menatap aneh. Seolah sedang memindai kejujur tubuhnya.


KLEK


Nur mengunci pintu dari dalam, ia kemudian memilih duduk di sofa, sambil makan kue ia melirik ke ranjang. Dilihatnya Arya masih terlelap, Arya sepertinya kelelahan.

__ADS_1


Melihat wajah Arya yang tampan sedang terlelap, Nur makan kue sambil tersenyum. Berasa kuenya semakin manis karena makan sambil menatap pria tersebut.


"Jangan menatapku terus, Nur!" suara Arya serak.


Buru-buru Nur pura-pura makan kue lagi, ia tidak mengira kalau Arya ternyata sudah bangun, dan sadar bahwa ada yang sedang mengamatinya.


"Makan apa? Aku mau."


Arya beranjak, ia kemudian duduk dan menyandarkan pungungnya.


"Mau? Kue dari mama."


Arya mengangguk.


Nur pun mengambil kotak itu, dan membawanya ke hadapan Arya.


"Ini, Mas."


Arya hanya melirik. Sedangkan Nur tidak paham arti lirikan itu.


"Katanya mau?"


Nur menyodokan kotak roti beserta isinya.


Hak ...


Arya membuka mulutnya. Astaga, mana Nur mengerti kalau suaminya minta disuapin. Dengan pipi yang kemerah-merahan karena menahan malu, Nur mengambil potongan kue paling kecil dan menyuapkan roti itu kepada suaminya.


Hidung Arya jadi kembang-kempis melihat betapa malunya Nur Azizah.


"Enak ..." komentar Arya saat Nur akan memberikan suapan berikutnya.


"Bentar, Nur ambilin minum lain."


"Itu aja!"


"Itu jamu, Mas."


"Bukan, yang di gelas ada itu ..."


"Jangan, itu milik Nur."


Arya tersenyum.


"Itu aja."


Nur pun mengambil gelasnya, kemudian memberikan pada Arya.


"Udah ... sudah kenyang, makasih ya. Gerah juga, siapin baju ya, Nur. Aku mau mandi." Arya lantas bangun dan ke kamar mandi.


Nur pun mulai menyiapkan pakaian Arya, ia mencari baju santai untuk sang suami. Karena sepertinya Arya nggak balik ngantor lagi.


Sedangkan di depan pagar rumah mereka, tante Susi sejak tadi mengintip. Ia mau masuk tapi ragu, tidak mungkin Nur keponakannya itu ada di dalam. Sangat mustahil dan tidak mungkin. Bisa jadi info yang ia terima dari seseorang itu palsu.


Dengan lesu, tante Susi berjalan meninggalkan kediaman keluarga konglomerat tersebut.


Chittttt


Karena melamun, tante Susi hampir saja tertabrak mobil tuan Brotoseno. Sang sopir lalu keluar dan minta maaf.


"Aduh Bu ... hampir saja. Hati-hati Bu, Ibu baik-baik saja?"

__ADS_1


Tante Susi yang masih terkejut, terus saja memegangi dadanya. Dan ketika melihat tuan Brotoseno turun dari mobil dengan pakaian mahal dan rapi, tante Susi langsung pura-pura memegangi kepala dan selanjutnya berakting pingsan. Bersambung.


__ADS_2