Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Tragedy Berdarah


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #82


Oleh Sept


Rate 18+


Bulir keringat sudah memenuhi dahi Irna yang ketakutan. Ia tidak menyangka, mungkin inilah akhir dari hidupnya.


"Kau sudah melewati batas, Irna."


"Ram ... tolong jangan begini. Kamu nggak mungkin nyakitin aku, kan?" tanya Irna dengan wajah penuh kepanikan.


"Ciihh!"


Rama tersenyum hambar, kemudian mengulurkan tangan. Memberikan botol kecil berisi racun pada Irna.


"Mau aku paksa atau minum sendiri?"


Irna menatap tak percaya, "Ram!"


"Minum ini!"


Pyarrr


Irna menepis tangan Rama. Membuat benda itu jatuh dan terlempar ke lantai. Membuatnya pecah dan tak bisa dipakai lagi.


Rama hanya tersenyum sinis, kemudian berjalan ke lemari. Ia membuka laci paling atas, kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Apa kau mau dengan cara seperti ini?" tawar Rama sambil mengusap ujung pisau tajam seperti pisau bedah milik dokter.


Makin paniklah Irna. Wanita itu beringsut, merangkak sambil terus menjauh dari Rama.


"Mau lari ke mana?"


Rama bisa menangkap kaki Irna dengan mudah, karena wanita itu sudah lemas. Sekujur tubuhnya bergetar melihat sifat Rama yang asli, Irna shock tidak percaya.


"Ram ..."


"Jangan sebut namaku lagi!" sentak pria itu. Suaranya mengema, membuat hati Irna semakin bergetar dan menciut.


"Kau tahu Irna ... sudah bertahun-tahun aku tidak membunuh orang."

__ADS_1


Wanita itu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan. Matanya memerah ketika Rama mulai mengacungkan ujung pisau ke arahnya.


Jrussss


Rama menyeringai.


Irna menangis sambil menutup mata, tubuhnya kembali bergetar hebat. Ia kira ia sudah mati. Saat membuka mata, Rama menatapnya.


Seekor tikus putih berikutnya menjadi korban pria psikopat tersebut.


Rama memotong-motong, mencincang tikus yang sempat mencicit minta tolong tersebut. Ngeri, Irna memalingkan wajahnya.


"Aku sudah memperingatimu sebelumnya, jadi tanggung akibatnya."


Irna hanya menangis dalam diam. Jujur ini kali pertamanya takut pada pria seperti Rama.


Melihat pipi Irna yang basah, Rama mengulurkan tangan. Sebuah tangan yang habis dipakai untuk menghabisi tikus percobaan di dalam ruang rahasia miliknya.


"Kau takut?" tanya Rama dengan senyum remeh.


"Kau akan lebih takut, bila tahu masa laluku seperti apa, Irna."


"Dan ... mungkin kau akan lari setelah akan ku ceritakan semua."


Rama terus saja berbicara sendiri sambil memainkan pisaunya yang tajam. Tidak peduli pada Irna yang sudah ketakutan setengah mati.


Mumpung Rama sedang fokus pada pisaunya itu, Irna melirik ke samping. Ada sebuah balok kecil. Memang tidak cukup kuat jika dipakai senjata. Tapi, bilai dipakai memukul mungkin cukup sakit. Ketika Rama sibuk berbicara sendiri lah, Irna mencoba meraih balok tersebut. Dengan gerakan cepat, ia meraih benda itu.


Irna menguatkan hati, dan berusaha berdiri.


Bugh


Bugh


Bugh


Dengan kesal ia memukuli suaminya sendiri. Kejam sekali Rama mengancam dan membuatnya mati ketakutan. Kesal dan marah, Irna memukul sembari membabii buta.


"Ish!"


Rama berdiri tegap dan mengangkap balok tersebut.

__ADS_1


Bruakkk


Setelah merebut balok itu, Rama langsung melemparnya jauh.


"Beraninya kau!!!!"


Irna langsung berbalik, ia berlari ke sembarang arah. Yang jelas ia hanya ingin menghindar dari kejaran Rama. Ruangan itu menjadi sangat kacau, tak kala kedua orang itu malah saling berkejaran seperti bocah PAUD.


Kesal karena lari Irna sangat gesit, Rama langsung berjalan menjauh. Pria itu menuju lemari besar dekat keranjang tikus.


"Keluar kau!" teriak Rama yang kehilangan jejak.


Ia menyusuri sepanjang lemari yang berjejer berantakan. Kemudian membuka setiap pintu-pintunya.


"Keluar!" teriak Rama sekali lagi.


Irna menutup mulutnya, ia bersembunyi di dalam lemari kosong.


Bruakkk


Rama menendang apa saja yang menghalangi langkahnya. Pria itu mencari Irna dengan sikap siaga, di tangannya sudah ada sebuah senjata yang tinggal menarik pelatuknya.


Irna dapat melihat dari cela, bagaimana Rama mengacungkan senjata ke sembarang arah.


Ia tidak bisa menahan rasa gugup dan rasa takutnya. Apalagi ketika derap langkah Rama sudah semakin mendekat.


Yakin akan mati bila tetap diam di sana. Maka, ketika Rama sudah ada di depan lemari tempatnya bersembunyi. Irna membuka pintu lemari itu dengan keras. Membuat Rama jatuh terjungkal.


"Sialll!" pekik Rama yang merasa sakit pada punggungnya.


Sedangkan Irna, ia terus berlari dan lari. Hingga sampai ujung ruangan dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.


"Lari ke mana lagi?"


Irna melihat sekeliling, kemudian mengambil botol-botol di meja dan melemparnya ke arah Rama. Satu yang kena, melukai pelipis pria tersebut.


Rama mendesis kesal, ia lalu menembak ke atas karena marah. Belum saatnya ia mengakhiri Irna, ia akan menyiksa Irna perlahan. Rama tidak sadar, tembakan barusan membuat lampu di atasnya bergoyang-goyang. Sedikit saja, lampu besar itu akan jatuh.


Irna menelan ludah, sembari melirik ke atas.


PYARRR

__ADS_1


Benda itu jatuh dan pecah, berserak di atas lantai yang dingin. Sedangkan Rama, matanya terbelalak. Ia menatap tak percaya. Sebelum benda itu mengenai kepalanya. Irna telah mendorong tubuhnya hingga terjatuh dan menjauh dari bahaya. Menjauh dari bahaya yang ia ciptakan sendiri.


Lalu bagaimana dengan Irna? Lampu hias dan segala pretelannya yang jatuh, malah mengenai Irna. Wanita itu pingsan dengan punggung yang mengeluarkan darah. Bersambung.


__ADS_2