
Suamiku Pria Tulen #129
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ugh!"
Lea berbalik dengan sebal. Ingin tidak peduli tapi tidak bisa. Melihat Kevin yang malah seperti anak-anak, membuat Lea semakin kesal. Akhirnya Lea masuk ke dalam.
Sedangkan Kevin, pria itu tersenyum kecut ketika ditinggal Lea begitu saja. Rupanya Lea sangat marah saat ini, karena sulit sekali untuk minta maaf.
Tapi, bibirnya kembali mereka saat melihat Lea datang ke arahnya sembari membawa handuk.
"Jangan mengotori lantainya! Kasian bibi, sudah malam!" sindir Lea dengan ketus.
Kevin pun meraih kain handuk tersebut, kemudian mengeringkan tubuhnya.
"Dingin banget airnya ternyata."
"Yaiyalah, kurang kerjaan!" timpal Lea dengan galak.
"Jangan marah-marah terus, kasihan janinnya."
Lea melotot, "Yang menyebabkan dia marah siapa?" teriak Lea dalam hati.
"Dingin sekali di luar, ayo masuk!" Kevin meraih pundak Lea, tapi wanita itu langsung menepis. Tidak mau dekat-dekat.
Sampai di kamar, Lea masih saja bersikap dingin. Tidak mau menatap suaminya. Lea malah sibuk mendirikan tembok pembatas di tengah tempat tidur mereka. Ia menyusun bantal serta guling sebagai pembatas.
"Kalau tidak mau ketendang, jangan lewati batas!" ancam Lea galak.
__ADS_1
Kevin yang merasa badannya mulai kedinginan langsung berbaring. Tidak mempermasalahkan akan hal itu.
Karena sudah larut, Lea juga sudah menguap berkali-kali, ia pun memutuskan untuk tidur. Besok bisa mulai lagi acara marah-marahnya, sekarang ia mau tidur karena sudah mengantuk berat.
Tengah malam.
Kevin mencari remote AC, ia mematikan benda pendingin ruangan tersebut. Mungkin karena tadi sempat nyebur kolam renang malam-malam. Sekarang Kevin merasa menggigil, dari dulu ia paling tidak toleran dengan hawa dingin. Alhasil, pria itu kini kedinginan.
Dilihatnya Lea sudah tidur pulas, ingin mencari kehangatan Kevin lantas menyingkirkan pembatas satu persatu. Ia kemudian masuk ke dalam selimut bersama Lea.
Sadar ada penyusup, Lea mendorong muka Kevin yang mendesak tubuhnya.
"Mas demam?"
Lea menyibak kain selimut yang semula menutupi keduanya.
Kevin tidak menjawab, pria itu hanya merapatkan lengannya. Memeluk Lea dengan erat.
"Geser! Lea ambilin obat." Lea mencoba melepas lengan pria tersebut.
"Nggak usah, aku cuma kedinginan."
"Itu meriang, Mas. Lepasin, Lea ambilin obat di kotak obat."
"Nggak usah, Mas nggak butuh obat."
"Apasihhh!!" Lea menepis tangan Kevin yang mulai macan-macam.
"Angetin Mas," bisik Kevin dengan sorot mata kucing garong.
Lea menatap jengkel. Bisa-bisanya suaminya itu mikir ke sana. Padahal mereka sedang perang dingin.
__ADS_1
"Enak saja!"
Lea langsung melepas lengan Kevin dengan paksa. Kemudian turun dari ranjang. Ia menarik selimut dan membawa satu bantal. Lea mau tidur di sofa.
"Boleh juga, mau di sofa?"
Mendengar celetukan Kevin dan dilihatnya pria itu mulai menuruni ranjang serta mendekat, Lea langsung bersikap siap siaga. Ia sudah pasang kuda-kuda, sudah siap menghajar Kevin bila pria itu ngeyel mau menyerang.
"Berani mendekat, Lea hajar!" ancam Lea.
"Mas semakin yakin, dari sikapmu yang pemberani ini, pasti anak kita cowok!"
Kevin mulai dekat, ia sudah siap menyentuh perut Lea.
"Jangan sentuh!"
Kevin mengeryitkan kening, "Jangan berlebihan, Lea."
"Berlebihan? Sudah menikah bahkan istri sedang hamil tapi masih memikirkan wanita lain? Apa itu tidak berlebihan?" sentak Lea dengan emosi.
"Kamu salah paham!"
Lea menggeleng.
"Mas Kevin sepertinya memang masih mencintai wanita itu. Pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa cinta. Mas Kevin menikahi Lea karena terpaksa, iya kan?"
"Leaa! Dengering Mas ngomong!"
"Nggak perlu! Udah jelas! Lea memang baru sadar, pernikahan ini udah nggak bener dari awalnya. Harusnya nggak usah diteruskan!"
"Kalau terpaksa, ngapain aku buat kamu hamil?"
__ADS_1
Lea memalingkan wajah sembari mengusap pipinya. Bersambung.