
Suamiku Pria Tulen #62
Oleh Sept
Rate 18+
"Mulai sekarang aku mundur! Hari ini juga, aku dan Kevin akan keluar dari rumahmu itu!" ujar Irna yang tersulut emosi. Enak saja menuduhnya. Secara tidak langsung pria itu sudah menghina dirinya. Rasanya, ia memang harus mengakhiri perjanjian gila dengan pria kejam tersebut. Apalagi Rama malah menyuruh untuk menghilangkan janin dalam kandungannya. Padahal tadi ia hanya mengertak. Tak tahunya, Rama malah jadi serius.
"Berani sekali dia!" batin Rama sambil memperlihatkan wajah dingin. Mereka berdua kini salah paham, sama-sama belum tahu apa yang mereka rasakan sebenarnya. Yang ada, hanya saling cek-cok dan menyakiti satu sama lain lewat ucapan yang dikeluarkan dari mulut masing-masing.
"Coba saja! Berani melangkah sedikit saja, akan aku patahkan kakimu!" Bukannya membujuk Irna, Rama justru mengancam. Membuat Irna terpancing. Dan memperkeruh keadaan.
"Kamu pikir aku takut?" tantang Irna yang memang tidak kenal takut pada apapun.
Tidak mau beradu mulut di tempat umum, Rama langsung menarik lengan Irna. Mereka pun langsung masuk ke ruang kosong dengan asal.
KLEK
Rama mengunci pintu salah satu bangsal klinik dari dalam. Ruangan yang kosong tanpa penghuni.
"Katakan sekali lagi!" Rama mendesak Irna yang mulai terlihat gelisah di matanya. Hingga wanita itu terpojok dan menempel ke dinding. Dan tidak bisa lari ke mana-mana lagi.
"Jangan mendekat!" sentak Irna dengan keras. Saat sudah benar-benar terdesak dan terpojok dibuat Rama.
"Pria gila, apa yang mau ia lakukan?" batin Irna menerka-nerka saat Rama sangat dekat.
"Kau tadi terlihat sangat berani, hingga ingin membunuh. Kenapa? Takut aku bisa menghabisimu juga?" Rama mencengkram rahang Irna dengan kuat. Membuat wanita itu merasa kesakitan.
__ADS_1
"Lepaskan!" Irna mendorong tubuh Rama. Namun, tenaga wanita itu tidak ada apa-apanya dibanding sosok Rama yang tinggi, tegap dan atletis tersebut.
"Aku katakan padamu, yang menentukan anak itu hidup atau mati bukan kamu!" Rama menatap benci pada wanita yang ada di depannya.
"Hanya karena ini benihmu, bukan berarti kau berhak membunuhnya saat ada diperutku!" protes balik Irna dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Dasar wanita! Bukannya kau sendiri yang berniat membunuhnya?" tuduh Rama yang tidak mau kalah. Dua orang itu saling menghujam tatapan. Sorot mata yang dipenuhi benci dan tentunya rasa kecewa yang berselimut amarah.
Irna memegangi perutnya, "Meskipun aku wanita gila. Tapi aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri!" ujar Irna dengan nada prustasi. Ia bicara sambil berteriak.
"Lalu kenapa kau mengatakan akan mengugurkan janin itu?" teriak Rama yang tak kalah prustasinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian memegang kedua pundak Irna.
Bagi Rama, memiliki anak bukanlah masuk dalam agenda hidupnya. Ia sangat benci anak kecil, baginya anak kecil sangat menjijikkan. Hanya sebongkah daging yang lemah. Ia benci ketidakberdayaan itu. Hanya membuatnya ingat masa lalunya yang kelam.
"Katakan! Mengapa kau ingin membunuhnya?" sentak Rama sekali lagi.
"Apa jawabanku penting bagimu?"
Suara Rama mengema memenuhi seluruh ruangan. Hatinya ingin bayi itu, tapi ia benci terhadap mahluk lemah. Kiranya itu yang ada dalam benak Rama. Pria yang tumbuh dengan trauma dalam hidupnya.
"Dengarkan baik-baik! Karena aku tidak akan menggulanginya lagi. Tuan Rama yang memiliki segalanya, aku katakan padamu. Aku tidak akan menuntut tanggung jawabmu, sudah kuputuskan dari awal, aku akan melahirkan bayi ini. Tanpa campur tangan dari ayah biologisnya. Puas? Jadi, tidak usah susah payah mencari cara membuat bayi ini mati. Aku akan pergi jauh. Hingga kamu tidak bisa menemukan kami sampai kapan pun!"
Irna benar-benar sudah menyulut api di dalam hati Rama yang sudah membara. Mendengar jawaban Irna, makin terbakarlah emosi jiwa Rama.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi dengan anak ini, Hem?"
BUGHHH
__ADS_1
Rama memukul tembok tepat di sisi atas sebelah Irna, sampai wanita itu bergidik. Ia kaget, tidak bisa menyakiti dirinya, Rama malah melukai tangannya sendiri. Sudah pasti pukulan barusan sangatlah sakit.
"Lalu kau mau apa?" tanya Irna lirih, tidak meletup-letup seperti semula. Ia menelan ludah dengan pelan. Dan matanya melirik kepalan tangan Rama yang memar saat itu juga setelah menghajar tembok.
"Lahirkan ... Lahirkan anak itu!" Bersambung.
Baca juga novel Sept yang lain ya.
Yang sudah TAMAT
Rahim Bayaran
Dea I Love You
Istri Gelap Presdir
Menikahi Majikan
Kesetiaan Cinta
Semoga suka, dan yang mau kenalan dengan penulis Arya dan Rama si pria-pria Tulen. Hehehe cuss...
Instagram : Sept_September2020
__ADS_1
FB : Sept September
Terima kasih semua atas dukungannya.