Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Menyerah


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #57


Oleh Sept


Rate 18+


"Astaga, harus pakai dosis tinggi rupanya," batin Irna sambil menikmati gendongan Rama. Ia tak berkutik saat Rama membawanya, karena itu memang rencananya sejak awal.


Brukkkk


"Ish!" Ia mendesis ketika Rama dengan kasar melempar tubuhnya, seolah dia adalah barang.


"Aku yakin, ini adalah pekerjaanmu. Sekarang urus sendiri! Tanggung akibatnya!"


Krakkk


Tidak perlu melepas kancing bajunya, Rama langsung saja membuka paksa baju Irna. Ia jengkel campur marah, karena tubuhnya malah bergejolak. Merasa panas dan gerah yang luar biasa. Ada yang memaksa keluar di dalam sana.


"Buk matamu!" ucap Rama dingin tidak ada manis-manisnya.


"Buka, atau aku siram pakai air!" sentaknya kasar.


Seketika mata Irna terbuka lebar, lebih tepatnya melotot ke arah Rama. Ia heran, mengapa pria itu tidak ada halus-halusnya sama sekali. Kasar, bagai koral di lautan.


"Ini pekerjaanmu, kan?" Rama mencengkram kedua bahu Irna. Menatap tajam ke dalam matanya.


Mendapat sorot yang mencekam itu, Irna hanya menelan ludah. Ia kok jadi ngeri sendiri, begitu saja Rama terlihat sangat marah. Padahal, bisa langsung praktek. Tanpa ba bi bu, pikir wanita tersebut. Rupanya harus ekstra sabar kalau berhadapan dengan pria dingin dan kasar macam Rama.


"Apa maksudmu?" tanya Irna pura-pura polos.


"Aku tahu, selicik apa wanita sepertimu!" cibir Rama yang semakin mencengkram pundak Irna.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak tahu apa-apa." Irna terus saja menghindar.


"Cih!" Rama melepas cengkramannya.


Ia kesal menghadapi Irna yang sangat menguji emosinya. Malas menghadapi Irna, ia memilih berbalik dan masuk kamar mandi.


Bruakkk


Rama membanting pintu dengan keras, tidak lama kemudian terdengar gemricik air shower.


"Astaga? Teguh sekali pendirian pria itu? Mau bermain sendiri rupanya? Ish ... aku jamin tidak akan puas!" gumam Irna. Tidak mau berpangku tangan dan hanya diam saja, akhirnya Irna pun turun dari ranjang.

__ADS_1


Perlahan ia melangkah ke kamar mandi. Ia mencabut sesuatu dari rambutnya, sebuah jepit rambut kecil yang selalu ia gunakan sebagai senjata rahasia di waktu darurat.


KLEK


Cara pertama, menunggu bola datang sudah gagal. Maka, kali ini Irna akan menjemput bolanya. Dengan percaya diri yang tinggi, ia melepas apa saja yang semula ada padanya. Irna berjalan tanpa takut, menuju bilik kaca yang transparan.


Bibirnya mengkerut, melihat body Rama yang tegap dan atletis dari jauh. "Kita lihat, apa kamu bisa menolaknya?" batin Irna sambil berjalan merambat, ingin membuat Rama kaget dan terkejut hebat.


Srakkk...


Irna menyibak tirai yang semula sudah terbuka sedikit.


"IRNAAA!" Teriak Rama spontan.


Rama panik, langsung menutupi tubuhnya dengan gayung. Membuat Irna terkekeh. Benar-benar tidak kenal rasa takut wanita tersebut, membuat Rama darah tinggi.


Rama yang marah ketika Irna melihatnya polos. Pria itu seketika langsung mengusir dengan pandangan mata yang tajam. Tapi, bukan Irna namanya, kalau pergi hanya karena satu kali perintah.


Wanita itu malah berjalan ke arahnya, dan dari sini Rama mulai merinding.


"KELUAR!"


Seolah perintah Rama bukan lagi sebuah titah Raja. Irna malah dengan paksa menarik kedua lengan pria itu. Menepatkannya tepat melingkar di pinggangnya yang ramping.


"Kenapa bermain sendiri? Aku bisa jadi partnermu," bisik Irna.


Cup


Irna kembali menempelkan bibirnya, tapi kali ini ia tidak melepas Rama. Ini bukan kecupan singkat seperti hari lalu. Irna akan membuat Rama kecanduan dengan servis terbaiknya malam ini dan akan membuat Rama melupakan sosok Nur. Masih mengira bahwa Rama suka wanita.


"Kita lihat, mampukah kau menolak yang ini?" batin Irna.


Dengan ahli ia mulai menjalankan aksinya. Bila semula mulut Rama terkunci rapat, dengan sekali sentuhan, akhirnya Rama mau membuka mulutnya. Irna membuat wajah pria itu mulai memanas. Terasa dari hembusan napas yang menerpa wajah Irna. Tangannya berkelana, memegang sesuatu yang tidak patut dipegang.


Irna terus menyerang, membuat Rama akhirnya menyerah. Kini, pria itu justru menyesap Irna sampai ia hampir kehabisan napas.


"Kau yang minta!" bisik Rama, masih dengan nada sebal dan kesal. Ia mengigit kecil daun telinga Irna. Membuat wanita itu langsung meremang di bawah guyuran air dari atas tubuh mereka.


***


"Sial!" rutuk Rama.


Irna tersenyum penuh kemenangan ketika merasakan sensasi hangat di dalam sana. Sepertinya lava yang tidak berpijar sudah masuk dalam rahimnya. Susah sekali membuat pria itu memuntahkankannya, harus dengan banyak gaya. Tadi, ia sempat mau menyerah, tapi rupanya Rama ingin mereka menuntaskan kegiatan dadakan mereka malam ini.

__ADS_1


"Bagaimana?" bisik Irna.


"Jangan katakan yang tidak-tidak! Lain kali kalau kau seperti ini lagi, aku pastikan. Akan ku kirim kau ke tempat paling jauh!" ancam Rama dengan galak.


Habis manis sepah dibuang, kiranya itu yang dirasakan Irna. Baru sampai puncak, ia didorong ke lembah paling dasar.


Bukan Irna namanya kalau langsung menciut, ia malah melangkah maju.


"Kita lihat nanti ..." bisiknya dengan lembut. Membuat Rama jadi tambah pusing.


"Mulai sekarang, jaga jarakmu! Kalau tidak ..."


Irna langsung memotong kalimat Rama dengan kembali berulah. Dengan santainya ia mengalungkan lengannya ke leher Rama.


"Bagaimana kalau aku menolak?"


Cup


Dimulai dari kecupan, lalu berubah menjadi sesapan yang menuntut. Cepat dan paksa. Irna pun tersenyum dalam hati, malam ini ia tidak akan meloloskan Rama. Ia sudah memberikan dosis paling tinggi, Rama pasti tidak akan puas bila hanya satu kali. Efeknya hanya berhenti sesaat, tapi beberapa menit lagi akan kembali mengeluarkan reaksi.


"SIALLLL!" Rama mengutuk di dalam hati keras-keras. Hatinya tidak ingin, tapi jiwanya bergejolak dan terbakar.


Detik berikutnya, ia yang merengkuh pinggang Irna. Bersambung.


Baca juga novel Sept yang lain ya :


Rahim Bayaran TAMAT


Dea I Love You TAMAT


Istri Gelap Presdir TAMAT


Menikahi Majikan TAMAT


Kesetiaan Cinta TAMAT


Terima kasih.


Kenalan ya sama Mbak tukang halu ....


Instagram Sept_September2020


Fb Sept September

__ADS_1


__ADS_2