
Suamiku Pria Tulen #79
Oleh Sept
Rate 18+
Hari itu langit begitu cerah, secerah hati Arya. Pagi ini mereka bakalan pulang ke rumah. Mama pasti senang, karena anggota keluarga Pramudya bertambah lagi. Baru juga membayangkan ekpresi sang mama, ternyata tebakan Arya tidak meleset. Begitu sampai rumah, sang mama langsung menyambut keduanya.
"Nur ... selamat ya." Mama langsung memeluk Nur dengan hangat.
Sedangkan anak-anak, mereka juga menyerang Nur dengan banyak pelukan penuh sayang. Kabar hilangnya Nur, hanya orang dewasa yang tahu. Sedangkan anak-anak, mereka taunya sang mama tiba-tiba sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
"Maaa ... pokoknya nanti Cua mau tidur sama Mama!" Cua memeluk pingang mamanya, seolah tidak mau lepas.
Sedangkan Kalen, jagoan Arya tersebut tersenyum riang karena digoda sang papa. Arya yang sedang senang hatinya, memutar-mutar Kalen seperti biasa. Hingga anak kecil itu terkekeh dan membuat yang menatapnya ikut tersenyum bahagia.
***
Suasana lain di mansion Rama.
Irna sedang membersihkan ruang kerja Rama, wanita itu membereskan berkas-berkas yang terlihat berantakan di atas meja kerja suaminya.
Awalnya tidak ada yang aneh, hingga tanpa sengaja Irna yang akan memasukkan stempel ke dalam laci. Ia penasaran dengan amplop coklat yang ada di samping wadah stempel. Rasa ingin tahu Irna mencuat tak kala ia melirik ke depan, sepi dan sunyi. Pagi itu suami dan anak-anaknya masih tertidur.
Mumpung sepi, tangan Irna pun meraih amplop tersebut. Dengan hati-hati ia mengeluarkan isi di dalam amplop tersebut.
"Siapa ini?"
__ADS_1
Matanya menajam, sepertinya tidak asing dengan foto-foto ditangannya. Sangat familiar, Irna seperti tidak asing dengan gambar itu.
"Ah ... ini mungkin Kendra versi dewasanya," gumam Irna yang mulai menebak-nebak.
Foto berikutnya ia dibuat mendelik, melotot tajam. Irna mengamati foto demi foto transformasi Rama sebelum menjalani operasi plastic. Semakin penasaran, Irna mencoba mencari-cari fakta lainnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kaget, Irna menjatuhkan lembar foto di tangannya. Ternyata Rama sudah bangun, dan Irna kaget seperti maling yang ketahuan.
"Ah ... aku sedang beres-beres, Ram!" jawab Irna gugup. Dengan cepat, ia bergegas memasukkan semua kembali ke dalam laci.
Sedangkan Rama, wajahnya nampak dingin dengan tatapan yang menyelidik.
"Akan aku siapkan sarapan untuk kalian." Irna buru-buru mencari alasan untuk pergi. Namun, tangan Rama menahannya. Ia mencengkram lengan Irna kencang.
"Jangan sentuh apapun di ruangan ini!" bisik Rama, terdengar lembut namun Irna merasa kata-kata itu mengandung ancaman.
Irna pun mengangguk, ia merasa Rama penuh misteri dan teka-teki, itu sedikit membuatnya ngeri. Dalam hati, ia bertanya-tanya, untuk apa suaminya merubah wajahnya. Padahal, wajah pertama tidak kalah tampan.
***
Suasana di meja makan nampak tegang tidak seperti biasanya. Rama dan Irna tidak saling bicara. Keduanya sibuk dengan makanan di sepanjang.
"Ma ... Kevin berangkat dulu."
Irna mengangguk, kemudian mencium pipi Kevin. Sopir pribadi Rama sudah siap mengantar Kevin ke sekolah barunya.
__ADS_1
"Hati-hati, Sayang!"
Irna melambaikan tangan melepas kepergian putranya. Setelah itu ia masuk lagi ke dalam.
Kendra, putra keduanya sudah bersama pengasuh, sedangkan Rama ia masih menikati sisa kopinya.
"Mengapa dia belum berangkat juga?" batin Irna ketika melihat Rama yang tidak berangkat ke kantor.
"Belum berangkat, Ram?" tanya Irna sekedar basa-basi.
"Bentar lagi!" jawab Rama sambil menyesap kopi terakhinya.
"Oh!"
"Kemarilah!" Rama menarik Irna hingga wanita itu duduk di sisinya.
Rama meremas jari-jari lentik Irna. Namun wanita itu malah merasa ngeri. Tatapan Rama membuat Irna takut. Rama seperti bukan orang yang selama ini ia kenal.
Siang harinya. Ketika mansion sangat sepi, Rama juga sudah ke kantornya. Irna nekat ke ruang kerja Rama. Sayang sekali, pintunya terkunci. Bukan Irna namanya kalau mengalah pada keadaan. Dengan lihai ia memakai alat untuk membuka pintu ruang kerja Rama.
Irna masih penasaran dengan jati diri pria yang ia nikahi. Dengan rasa penasaran yang terlanjur menguasainya. Irna pun memeriksa berkas di laci. Namun, barang-barang di sana semua tidak ada. Laci sudah kosong.
Irna lalu mendekati lemari di sebelahnya, mencari sesuatu untuk menjawab segala tanya yang ada dalam benaknya. Sungguh rasa penasaran yang mengundang petaka. Irna tidak sadar, ada CCTV di rak buku dan dekat vas yang menangkap gambar dirinya dengan jelas. Semua camera tersambung pada benda yang kini di tangan Rama.
"Kembali ke mansion!" perintah Rama pada sang sopir. Bersambung.
WUSHHH
__ADS_1
Mobil putar balik dan melaju menuju mansion mewah milik Rama.