Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Menusuk Dari Belakang


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #98


Oleh Sept


Rate 18 +


Kevin sudah keluar dari rumah sakit, ia kembali ke apartment pribadinya. Menyepi di sana. Tanpa teman tanpa kekasih. Hanya Willi, sekretarisnya yang paling setia. Sudah disuruh pulang tapi pria itu masih saja tidak mau pergi.


"Aku baik-baik saja!"


"Hasil cek up Tuan sepertinya kurang bagus, saya khawatir Tuan tiba-tiba pingsan kembali."


"Pintunya ada di situ! Cepat keluar!"


Willi menghela napas dengan berat, kemudian menyerah juga.


"Nanti kalau terjadi sesuatu, langsung hubungi saya, Tuan!"


"Will!" pekik Kevin dengan geram.


Akhirnya sekretaris yang setia itu pun meninggalkan Kevin seorang diri. Pria itu pun menuju bar mini miliknya. Mengambil wine dan langsung meminumnya dari botolnya sekaligus. Padahal, sejak pagi ia belum makan. Begitulah keadaan Kevin. Bila di rumah ia akan melupakan kekesalannya dengan minun.


Bila di kantor, ia akan lupa rasa sakit karena gagal menikah. Karena fokus pada pekerjaan. Tapi, Kevin tetaplah manusia. Punya hati dan perasaan. Rasanya, meskipun sudah berbulan-bulan. Ia masih rindu dengan Dita. Di tengah mabuknya, ia mencoba menghubungi nomor Dita. Namun, nomornya malah tidak aktive.


Kesal, Kevin membanting ponselnya. Ia melemparnya ke atas sofa. Untung saja tidak pecah dan rusak. Beberapa saat kemudian, ia menghubungi orang tua Dita.


Betapa terkejutnya Kevin, ketika orang tua Dita mengatakan bahwa Dita sudah menikah.


"Tidak mungkin, Dita tidak mungkin menikah! Kalian pasti sekongkol untuk membodohiku!" teriak Kevin yang kala itu sudah mulai mabuk.


Mendengar suara mantan menantunya merancau seperti orang mabuk. Tuan Bima pun memilih mematikan telponnya. Ia juga sebenarnya tidak enak. Bukannya menikah dengan Kevin, putrinya malah menikahi adiknya Kevin. Ruwet!


Sedangkan Kevin, ia penasaran setengah mati. Mengapa Dita sudah menikah? Ia sudah memohon dan bisa menerima apapun keadaan Dita. Tapi kekasihnya itu terus menolak. Bahkan tidak mau bertemu. Marah, Kevin melempar botol ditangannya cukup keras. Hingga membuat vas yang terkena lemparan pecah berserakan di atas lantai.


Pagi harinya.


Kevin bangun dengan kepala yang terasa pusing. Detik berikutnya, ia mencoba bangun dan langsung membasuh muka. Hari ini, ia harus tahu. Siapa suami Dita!


***


Kediaman Pramudya.


"Pakai ini, astaga! Kamu mau manggung apa kerja?" Nur melepas paksa jaket jeans sobek-sobek yang dikenakan Lea.


"Ngapain aku pakai baju begituan? Kemarin aja kerasa nggak nyaman banget. Kalau nggak terpaksa buat interview... Lea ogah!"


Lea melempar baju pilihan sang mama ke atas ranjang. Ia sudah PD, pakai jaket jeans dan celana jean pula tapi lututnya bolong.


"Nanti papamu marah!" desis Nur sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Ya ampun!!!! Tersiksa banget sih jadi anak kaliannnn!" protes Lea.


BUGH


"Aduhhh!!!!"


Kalau Nur kesal, senjata andalan adalah memukul tubuh putrinya. Berharap jin liar itu segera keluar dari putri kesayangannya itu.


"Sakitttt Mommmm!"


"Mammm ... Mommm! Panggil yang bener! Udah, kali ini nurut sama Mama. Kalau nggak. Mama nggak kasih uang sembunyi-sembunyi lagi. Biar gigit jari sekalian!" ancam Nur yang lama-lama ikut kesal. Susah sekali mengatur anak terakhirnya itu.


"Huffft!" Lea menghela napas berat. Kemudian dengan terpaksa ganti pakaian. Demi uang, akhirnya ia rela jadi boneka.


"Siallllll!!" umpat Lea dalam hati.


***


"Wah ... feminim sekali anak Papa. Nah gitu dong, cantik!" komentar Arya saat melihat Lea turun dari tangga.


Sedangkan Lea, hatinya sudah amat sangat gondok. Mamanya kejam sekali. Masa dia disuruh pakai rok. Mana selutut lagi. Dan atasan dengan kerah berenda ... Astaga!! Rasanya pingin narik kain korden di depannya. Biar pakai itu saja sekalian.


"Lea berangkat, Ma ... Pa!" setelah mencium tangan papa mamanya, Lea langsung meluncur ke kantor.


Sebuah perusahaan cukup terkemuka. Lea beruntung bisa masuk sana. Dan itu bukan kebetulan.


Begitu masuk, Lea langsung dihampiri tiga orang yang kemarin ikut interview bersamanya.


Wanita itu mencolek pipi Lea. Otomatis Lea langsung menatap dengan tatapan sadis, sarta tangan yang sudah siap dengan bogemnnya. Sumpah gedek banget. Gara-gara uang ia sampai mau didandani sang mama. Agghhrrr ... Lea mau teriak yang kenceng.


"Lea ...?" panggil seseorang.


Lea langsung berdiri tegak. Sejak tadi ia duduk bersama rekan-rekan yang lain menunggu di ruang khusus.


"Iya, Bu. Saya!"


"Ikut bersama saya!"


Semua menoleh kepada Lea.


Lea melihat kanan dan kiri, mengapa hanya ia yang dipanggil?


KLEK


"Silahkan masuk ke dalam, temui Pak Willi!"


"Ah ... baik, Bu!"


Wanita bersama Lea pun pergi, meninggalkan Lea yang masuk ke ruang kerja Willi.

__ADS_1


"Selamat pagi!"


"Duduk!"


Willi menatap serius ke arah Lea.


"Eh ... kamu yang kemarin!" ucap Lea spontan.


"Kamu tahu, kamu gagal seleksi tahap pertama?"


Bola mata Lea berputar. Iya, sih. Ia merasa memang sangat gagal. Apalah ia kan sengaja menjawab semua pertanyaan dengan asal. Lalu kenapa ia dinyatakan diterima?


"Em ... iya."


"Bagus, karena pekerjaan utama kamu bukan fokus pada perusahaan. Tapi tugas lain."


"Tugas lain?"


"Aku lihat kamu kadidat paling cocok. Dan sepertinya pas untuk menjadi sekretaris Tuan Kevin."


"Tuan Kevin? Siapa Tuan Kevin?"


"CEO perusahaan ini."


"Apa? Kenapa jadi sekretarisnya? Nggak ... saya nggak mau jadi sekretarisnya om-om! Jangan asal ya, Mas. Jangan macan-macam sama saya!"


Lea pikir, ia mau dijadikan simpanan om-om. Terlalu sering melihat film barat. Ia kira CEO di luar sana tua-tua semua dan doyan sama sekretaris yang masih muda.


Willi mengeryitkan kening. Ia tidak paham arah pembicaraan gadis di depannya. Dua orang itu sedang miss understanding.


"Tunggu! Kamu sepertinya salah paham."


"Salah paham apa! Awas ya, pulang dari sini akan saya laporkan perekrutan perusahaan ini. Keterlaluan! Kalau mau cari wanita nggak bener, sana ke klab malam. Enak saja!"


Lea langsung bangkit, ia berjalan sambil ngomel-ngomel. Saat berjalan keluar, ia berpapasan dengan Kevin. Pria tampan dan wangi. Tapi bukan tipe Lea, kurang laki.


"Itu kan pria kemarin!" gumamnya, tapi tidak mau menyapa. Ia lewat seperti orang asing. Sedangkan Kevin, ia sedang fokus berbicara di telpon. Ia sama sekali tidak memperhatikan Lea yang lewat di sebelahnya.


***


"Kirim alamat tempat tinggalnya sekarang!" ucap Kevin di telpon.


Akhirnya ia sudah menemukan jejak Dita. Dan Kevin kini sedang fokus mengemudi, saat ada di belokan jalan. Ponselnya menyala, sebuah pesan singkat berisi alamat Dita yang sekarang.


Setelah membaca pesan itu, Kevin bergegas menepi. Lalu menghubungi mamanya.


"Hallo ... Kevin, lama tidak ada kabar. Bagaimana sayang, sehat kan!?" tanya Irna. Hatinya tapi was-was. Ia merasa sangat bersalah pada putra pertamanya itu. Tentu karena perkara Dita dan Kendra.


Tidak mau basa-basi, Kevin langsung to the point.

__ADS_1


"Kalian tidak menusukku dari belakang, kan?"


Mata Irna langsung terasa perih, ia hanya bisa terisak. Tidak mampu menjawab pertanyaan Kevin. Bersambung.


__ADS_2