
Suamiku Pria Tulen #55
Oleh Sept
Rate 18+
Gemricik suara air terdengar dari kamar mandi, Nur sedang membersihkan sekujur tubuhnya. Sedangkan Arya, pria itu sudah terlelap menuju alam mimpi nan indah. Padahal beberapa waktu yang lalu masih bergitu bersemangat, terlihat kuat dan begitu perkasa. Tapi apa yang terlihat sekarang? Cacing pita sudah mengkerut, sudah tidak ada sungutnya. Arya terkapar setelah meletuskan lava yang tidak berpijar.
Selesai mandi, Nur keluar dari kamar. Memeriksa apa Cua sudah bangun. Ternyata, bidadari kecil itu masih terlelap, masih Bocan alias bobo cantik. Nur pun pergi ke dapur. Di sana ada Bibi. Nur hafal siapa itu, asisten di rumah mertuanya.
"Masak apa, Bi?" Nur berdiri di depan kompor yang menyala. Ia membuka penutup panci, dilihatnya kuah sup yang mengepul. Aromanya harum dan terlihat lezat.
"Soup jamur, Non."
"Kelihatan enak," ucap Nur kemudian mengambil mangkuk.
"Sini, Non. Biar Bibi ambilkan."
"Gak papa, Bi. Nur bisa sendiri."
Setelah menuang bebrapa ke dalam mangkuk, Nur pun duduk di meja makan. Menikmati makan siangnya.
Ketika sedang asik menyantap masakan Bibi, mama tiba-tiba muncul dari belakang.
"Mana Arya?" Mama mencari keberadaan sang putra.
"Di kamar, Ma," jawab Nur sambil meletakkan sendok. Karena ia mau nambah. Bosan menu rumah sakit, ia rindu masakan rumahan.
__ADS_1
"Ngapain di kamar siang-siang?" tanya mama penuh selidik.
"Em ... tidur." Nur pura-pura acuh, ia fokus pada soup di depannya. Meski tak enak karena mama mertuannya terus saja memperhatikan dirinya.
"Nur, kalau habis keramas biasakan pakai hair dryer, ya. Tuh punggung kamu basah."
"Ah ... iya, Ma."
Mama kemudian berbalik, ia tersenyum jahil saat melihat betapa canggungnya sang menantu.
"Dasar Arya!" batin mama. Ia kemudian ke kamar Cua. Mau melihat cucu kesayangan, cucu semata wayang. Dalam hati, mama berharap. Semoga kerja keras Arya terbayar. Hingga lahir adik Cua. Cucu mereka berikutnya.
***
Sore hari.
Nur menggoyang pundak Arya yang belum juga bangun, padahal tidur dari siang.
"Mas!" Nur sedikit menaikan nada suaranya.
"Hemm ..." Arya malah langsung merengkuh pinggang istrinya. Nur yang berdiri di tepi ranjang pun langsung oleng ke atas kasur.
"Pa ...."
Cua yang sedari tadi duduk di atas ranjang langsung memukuli wajah papanya dengan boneka.
Nur terkekeh, dan Arya tersenyum malu. Ia kira tidak ada Cua. Hampir saja ia mau menerkam ibu dari anaknya itu. Untung saja, kalau tidak. Bisa-bisa mata suci Cua jadi terpapar dan terkontaminas, tercemar karena ulahnya.
__ADS_1
Cup
Muachhh
Arya mengangkat tubuh munggil Cua, meletakkan tepat di atas perutnya. Menciumnya sampai Cua meronta dan memukul wajahnya kembali. Untuk sesaat mereka bertiga terlihat bahagia.
***
Di sebuah klinik pribadi yang sering melakukan praktek ilegal. Seorang pria mendorong kursi roda, sedangkan pria lain duduk dengan wajah yang tertutup rapat oleh perban.
"Ambilkan asbak." Suaranya serak, sepertinya ia menahan rasa sakit pasca menjalani operasi pada seluruh wajahnya.
"Baik, Tuan."
Pria berjas putih itu masuk ruangan private dengan membawa asbak.
"Letakkan beberapa bara dari sana!"
Pria itu menunjuk perapian. Pria berjas pun menurut, dengan alat ia mengambil beberapa bara dan meletakkan di atas asbak kaca tersebut.
"Letakkan di sana!"
Lagi-lagi pria berjas menurut.
Setelah itu, pria di atas kursi roda menjalankan kursinya. Mendekat ke arah meja. Detik berikutnya, ia membuat pria berjas bergidik ngeri dengan apa yang dilihat.
Rama dengan sengaja mengengam bara untuk merusak sidik jarinya. Bersambung.
__ADS_1