Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Benih Siapa


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #60


Oleh Sept


Rate 18+


Hari demi hari terus berganti, minggu berganti minggu. Begitu juga suasana hati, terutama tetangga Arya. Rama dan istri bayarannya.


"Mau ke mana?" tanya Rama dengan dingin. Meski selama ini cuek, ia tetap ingin tahu. Mengapa pagi-pagi Irna sudah dandan rapi. Mau ke mana wanita itu. Ia membayar Irna bukan untuk keluar masuk rumah seenaknya.


"Setelah nganter Kevin ke sekolah, aku ingin ke tempat lain. Mungkin akan pulang sore," ucap Irna datar. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh wanita tersebut.


"Siapa yang memberimu ijin?" sela Rama tiba-tiba.


Irna langsung melotot. Sejak kapan ia butuh ijin pada Rama?


"Jangan ikut campur urusanku!" ganti Irna yang galak dan jutek. "Ayo, Sayang!" Irna menarik lengan putranya. Kevin tidak membantah, anak itu menurut apa kata ibunya.


Sedangkan Rama, terlalu sering bersandiwara sebagai keluarga, dan main suami-istri dengan Irna, ia malah jadi terbiasa. Dengan kesal ia meminum kopi lalu menyemburkannya.

__ADS_1


"Ish!"


Pahit, sepahit perasaannya saat ini. Berani sekali Irna membantah. Harusnya Irna minta ijin padanya. Bukan malah pergi sesuka hati. Penasaran, akhirnya Rama menguntit Irna. Barangkali ia lupa, siapa seharusnya yang ia ikuti. Bukan malah berakhir dengan membuntuti Irna dari belakang seperti saat ini.


Rumah Sakit Ibu Dan Anak Mitra Husada.


Irna turun dari mobil, wajahnya nampak gelisah. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah berat. Sedangkan di belakang Irna, ada Rama yang mengikuti wanita tersebut.


"Untuk apa dia di sini? Siapa yang sakit?" gumam Rama yang masih membuntuti Irna dari jauh. Ia menebak-nebak, sebenarnya Irna sedang menjenguk siapa.


Rama terus saja mengikuti Irna, hingga Irna hilang dari pandangan. Rama berhenti tepat di poli kandungan. Matanya menatap poster ibu hamil di depannya. Pria itu mulai gelisah.


"Tidak mungkin," batin Rama sambil memegang handle pintu.


Rama membuka pintu dengan hati yang tidak tenang. Dan seorang perawat menatap aneh ke arah pria itu. Diikuti pandangan penuh selidik dari pria berjas putih dengan stethoscope yang mengantung di lehernya.


Srekkk


Irna menyibak tirai warna biru, ia terhenyak melihat siapa yang ada di dalam sana.

__ADS_1


"Kenapa kau di sini?" tanya Irna gugup.


"Apa yang kamu lakukan?" Rama balik bertanya. Ia memindai Irna dari ujung rambut sampai kaki. Pria itu memperhatikan baju pasien yang dikenakan Irna. Kenapa wanita itu ganti baju? Apa Irna sakit? Tapi kenapa ke poli kandungan? Jangan-jangan dia hamil? Rama mulai menebak. Banyak pertanyaan mengelayut dalam benak Rama.


"Tunggu di luar!" Irna menyeret paksa tangan Rama.


"Jawab dulu pertanyaanku!" sentak pria tersebut. Ia menepis tangan Irna dengan kasar.


"Bukan urusanmu! Tenang saja, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu!" teriak Irna karena Rama yang selama ini tidak ada halus-halusnya. Kasar dan dingin, padahal sudah tidur bersama. Tapi tetap saja sikapnya seperti batu.


Otak Rama langsung berpikir keras, menuntut? Apa maksud semua ini. Detik berikutnya wajah Rama mulai berubah.


"Siapa ayahnya?"


Irna langsung beringsut, ia mundur menjauhi Rama.


"Aku sudah bilang, jangan khawatir. Ini anakku sendiri, tenang saja. Aku tidak akan menangis menuntut agar kamu tanggung jawab!" cetus Irna dengan tenang.


Irna bukan wanita lemah, terbiasa menjadi single mom tidak membuat ia panik ketika beberapa hari lalu menyadari kalau ia hamil. Lagian ia yang memaksa Rama, bukan sebaliknya. Kalau hamil, itu sudah wajar. Sebab mereka tidak hanya sekali melakukannya.

__ADS_1


"Selain denganku, kau tidur dengan siapa?"


Pertanyaan Rama memecah suasana ketegangan di antara mereka berdua. Bersambung.


__ADS_2