
Suamiku Pria Tulen #86
Oleh Sept
Rate 18 +
"Na ... kok lama? Ngapain aja?"
Rama berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Ram, ambilin pembalut di dalam laci, di lemari yang ada di sudut sana," teriak Irna dari dalam kamar mandi.
"What?"
Rama buru-buru menyalakan saklar.
"Ish!"
Ia mendesis sesaat, kemudian menarik kain sprai dan memasukkan ke dalam keranjang.
"Ramm ... Mana!" teriak Irna lagi.
"Hemm, bentar!"
Setelah memasukkan kain sprai ke keranjang, Rama berjalan menuju lemari. Ia membuka laci, melihat beberapa pembalut dengan warna bungkus yang berbeda-beda.
"Na ... ini yang mana? Banyak sekali macemnya." Rama ikut bicara sembari berteriak. Padahal ini sudah tengah malam.
"Yang sayap."
"Hah?"
Rama membolak-balik benda empuk itu. Mencari mana yang ada sayapnya.
"Yang mana ada sayapnya? Aku nggak tahu, Na."
"Pilih yang paling besar kemasannya," sahut Irna cukup kencang.
Rama menghela napas, kemudian meraih kemasan yang warna biru tua, atau hitam. Entah, Rama tak begitu memperhatikan itu semua. Yang jelas ada gambar bulan dan banyak bintangnya.
__ADS_1
Tok tok tok
Klek
Wajah Irna langsung menyembul dan meraih benda di tangan suaminya.
"Makasih!" ucapan singkat.
KLEK
Irna kembali menutup pintunya.
"Terus aku gimana, nih?"
Rama bersandar dengan wajah lesu.
Sesaat kemudian. Irna keluar dengan senyum cengigisan.
"Sudah malam, tidur yuk," ajaknya dengan tanpa bersalah. Kan memang bukan salahnya.
"Lah ... trus?"
"Mana bisa aku tidur, Naaa!" protes Rama.
"Tinggal merem aja."
Irna langsung melempar tubuhnya ke kasur, dan juga menarik suaminya.
"Ayo tidur!"
Dengan santai Irna memeluk Rama seperti guling.
"Jangan keterlaluan, ini namanya penyiksaan!" cetus Rama. Wajahnya mulai kesal.
Dasar Irna jahil. Sudah tahu tidak bisa disentuh. Malah merepatkan tubuh mereka. Kalau begini, kan Rama yang repot. Repot menahan sesuatu yang sudah bergejolak sejak tadi.
"Geser sana!"
"Apa sih!"
__ADS_1
Irna malah merapatkan lengannya. Merebahkan kepala tepat di dada bidang Rama. Membuat Rama tidak betkutik. Apalagi tercium aroma shampoo Irna yang lembut menusuk hidung. Godaan yang sulit dielak.
"Na ... geser deh. Gak beres ini!" gumam Rama lirih saat merasakan sesuatu yang mulai bereaksi.
Bibir Irna tersenyum kecil, ia sedang menikmati sensasi menggoda sang suami. Kapan lagi bisa membuat Rama uring-uringan. Irna kan masih dendam saat kejadian beberapa bulan silam. Saat pria itu membuatnya mati ketakutan. Dan sekarang, Karena Irna tidak mau geser, Rama lantas mengerakkan tubuhnya. Berharap Irna mau pindah.
"Apa sih, aku ngantuk."
Irna tidak peduli, ia tetap menempel seperti lem.
"Ish!" Rama mendesis kesal.
Melihat itu, Irna jadi tidak tahan. Ia malah terkekeh. Dan membuat Rama gemas.
"Kamu pasti sengaja mau mengerjai aku, hem?" Rama mengangkat jari-jarinya. Siap membuat Irna kegelian.
Irna menggeleng. Namun, masih bisa tertawa. Dan hal itu membuat Rama tambah gemas.
"Suka ya, lihat aku pusing?"
"Nggak! Ngasal."
Irna langsung menghindar, sudah ketahuan. Mending ia kembali tidur.
"Mau ke mana? Sini ... Bantu aku dulu."
"Ngantuk!" ujar Irna.
Rama tidak habis akal, dengan sekali tarikan ia sudah membuat Irna menatap ke arahnya.
"Lakukan ... aku nggak mau besok pusing seharian."
"Sendiri aja. Solo seperti biasa di kamar mandi!" Setelah mengatakan hal itu, Irna terkekeh sendiri. Membayangkan yang bukan-bukan.
"Ish!"
"Oke ... oke ... Aku bantuin!"
CUP
__ADS_1
Dimulai dengan kecupan, berakhir dengan .... Bersambung.