Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
MODUS


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #118


Oleh Sept


Rate 18 +


Mungkin ini yang menjadi alasan, mengapa malam pertama sulit untuk dilupakan bagi sebagian orang. Seperti Lea, malam ini gadis itu mendapat sesuatu yang mungkin akan berkesan dan meninggalkan kenangan manis dan sakit secara bersamaan.


"Sakit tidak?" tanya Kevin dengan suara lembut.


Pria dingin itu, kalau di atas ranjang rupanya berubah menjadi hangat dan halus. Dan Lea baru tahu, terhitung mulai malam ini.


Kevin membelai rambut Lea, gadis yang baru saja ia ajak menelusuri lembah dan bukit. Sekilas bibir pria itu tersenyum tipis, mengingat bagaimana wajah Lea menahan perih akibat ulahnya. Ia kini malah asik memainkan rambut Lea, sesekali mengusap pipi istrinya itu dengan gemas.


"Aku kira tidak sesakit ini," keluh Lea.


"Itu karena pertama, ada yang robek. Tapi aku bangga padamu. Bandel-bandel begini ... rupanya kamu pintar menjaga diri."


Mendengar pujian campur sindiran, hidung Lea kembang-kempis.


"Aku sebenarnya bukan bandel, kamu tahu papaku. Dia melarang ini dan itu, dan aku tuh tipe orang penasaran. Semakin dilarang, semakin aku langar."


"Lalu bagaimana sekarang? Bila aku yang larang, masih ingin melangar?"


Lea langsung menarik tubuhnya menjauh.


"Tergantung!" ucapnya.


"Ish ... Orang tua hanya ingin melindungi anaknya. Kamu saja yang nggak nurut!"

__ADS_1


"Nggak nurut gimana? Kamu baru aja kenal aku dah main menghakimi ...!"


"Kamu kamu kamu! Aku rasa papamu sudah banyak mengajari sopan santun, tapi mengapa tidak pernah sopan bila memanggilku? Astaga! Berapa usiamu, hemm? Aku bahkan jauh lebih tua darimu." Kevin menatap penuh selidik.


"Habisnya ... jangan ngeselin!"


Setttt


Pria itu menarik tubuh Lea dalam pelukannya.


"Ngeselin bagaimana? Ceritakan?" Kevin modus. Hanya gara-gara sempat melihat bagian yang tersingkap selimut, ia kembali melunak pada Lea. Benar-benar terdeteksi ada udang di balik peyek.


Sekali coba, sepertinya Kevin mau lagi. Maklum, usianya memang sudah matang. Hal semacam begini, harusnya sudah jadi konsumsi Kevin setiap malam. Menambah imun, penghilang stres.


"Ish ... apa sih ini. Masih perih!" sentak Lea. Ia beringsut karena Kevin kembali meraba-raba. Dari yang terekspose sampai yang tersembunyi, membuat Lea geli.


"Hemm ... ya sudah. Katakan, tadi apa yang membuatmu merasa kesal?" rayu Kevin. Sambil tangannya mulai siap sedia untuk kembali bergerilya. Ia sedang menunggu Lea lengah.


"Maksudnya?" Kevin memincingkan mata. Barangkali ia mulai penasaran.


"Entahlah, pokoknya Lea tidak seperti mbak Cua dan mas Kalen. Yang bisa membuat mereka bangga. Mbak Cua yang cerdas, jadi dosen dan lulus S3 di University terbaik. Sedangkan mas Kalen, setelah dari Harvard. Ia sudah dicetak papa buat lanjutin perusahaan. Sedangkan aku??? Mereka bilang aku bisa main saja, badung lah, trouble maker lah ... Padahal, aku cuma ingin mereka melihatku. Ini bakatku. Ini aku .. dan mana bisa aku jadi seperti orang lain? Hanya karena aku beda, aku kadang merasa bukan bagian dari keluarga itu."


Lea melupakan emosinya, baru kali ini ia menceritakan apa yang ia rasa selama ini. Baru sekarang, Lea menumpahkan kekecewaan pada keluarganya. Pada Kevin, Lea melepaskan ganjalan dalam hatinya.


"Padahal, yang aku lihat mereka sayang padamu." Kevin menyanggah pandangan Lea selama ini tentang orang tuanya.


"Benarkah? Mana ada, sayang sampai dikurung satu bulan di rumah. Aku merasa terpasung di rumah papa."


"Mereka sedang menjagamu, Lea ... itu cara mereka menunjukkan rasa sayangnya." Kevin tidak terkejut, karena Lea kan memang badung.

__ADS_1


"Ihhhh ... Bela terus lama-lama kalian saja!" cetus dengan kesal.


"Benerin dulu temperamenmu itu, sudah besar juga. Jangan seperti bocah." Kevin mau membelai rambut Lea. Tapi Lea langsung menghindar.


"Bocah?" Lea mendongak. Ia menatap suaminya kesal.


"Maksudnya, ayo bikin bocah." Pria itu langsung ngeles. Tidak mau istri kecilnya ngambek dan ia tidak dapat jatah, Kevin merayu sampai dapat. Lea bagai candu, tau begini dari awal malam pertama sudah ia hajar. Dalam hati ia tersenyum jahat.


***


Pagi yang indah, meski matahari nampak malu-malu menampakkan sinarnya. Di salah satu kamar villa milik keluarga Pramudya, terlihat seorang wanita muda sedang mengeringkan rambutnya.


Lea habis keramas, sembari mengeringkan rambut, ia mentap pantulan wajahnya di cermin. Pipinya merona, ada sesuatu yang membuatnya sangat malu.


Kring kring kring


Suara nyaring alamr dari ponsel membuat Kevin bangun, dan Lea langsung menatapnya.


Kevin mengerjap, kemudian tangannya meraba ke atas nakas. Ia merasa haus, ingin minum.


"Sebentar, aku ambilkan!" Lea beranjak dari meja riasnya. Ia berjalan mendekat ke ranjang untuk mengambil katle dan gelas kosongnya, mau ia isi.


"Lea, ada apa denganmu?" Kevin yang baru bangun menatap aneh saat melihat Lea berjalan ke arahan.


"Apanya?"


"Mengapa jalanmu aneh sekali?"


Lea langsung menatap sebal. Dan Kevin tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Setttttt


Ia menarik Lea, "Apa masih sakit? Coba aku periksa!" Bersambung.


__ADS_2