Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Menepis EGO


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #84


Oleh Sept


Rate 18 +


Ia memang ingin seseorang ada di sisinya, bertahan dan tidak pergi sampai ia merasa bosan. Lalu apa yang terjadi saat ini? Rama terkejut, ada sosok wanita yang sudah melihat sisi paling buruknya malah memilih tetap bertahan dan justru melindungi dirinya.


Ini adalah kenyataan yang sangat konyol, sejak kapan hatinya jadi bisa tersentuh? Rama menatap tak percaya pada sosok itu. Seorang wanita yang bahkan sudah melahirkan anak untuknya. Rama pikir perasaan cinta hanya omong kosong. Tapi, sekarang ia rasa mulai percaya akan hal tersebut.


"Bagaimana jika aku berniat membunuhmu lagi? Aku seperti seorang moster. Apa kau tidak takut?"


"Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu moster? Kamu adalah Rama, ayah dari anakku."


"Tidak ... mungkin waktu itu kamu selamat, dan bisa jadi suatu saat kamu benar-benar tidak bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup. Sekarang ... aku bebaskan kamu. Anggap saja, ini adalah caraku meminta maaf."


Bugh


Bugh


Bugh


Irna memukuli dada bidang pria tersebut berkali-kali. Mau dengan cara bagaimana, agar Rama mengerti. Bahwa ia tidak mau pergi.


"Aku memberimu kesempatan, tolong hentikan. Jangan banyak bergerak, lukamu bahkan belum kering."


Rama menangkap kedua tangan Irna, memegangnya hingga Irna tidak lagi bergerak.


"Tau apa kamu tetang lukaku? Tahu apa kamu RAMMM?" Irna menatap dengan mata yang terasa perih. Dadanya sesak saat mendengar Rama mendorongnya jauh. Pria itu memang brengsek, selalu membuatnya sakit hati.


"Aku bicara demi kebaikanmu, kau mau tinggal selamanya dengan seorang moster?"


"Kamu Rama ... hanya Rama. Pria paling brengsek yang pernah aku temui!" maki Irna.


Ia lalu menarik tangannya dengan keras, kemudian berbaring miring. Dan menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya. Ia marah pada pria itu, tidak mau menatap wajahnya lagi. Irna merasa Rama sudah keterlakuan. Bahkan setelah apa yang terjadi di antara mereka, Rama malah mengusrinya. Padahal ia ingin bertahan. Ya, Irna juga mau dipertahankan oleh pria brengsek seperti Rama.


Rama menghela napas panjang. Bukan perkara mudah untuk mengontrol emosinya. Bisa jadi kejadian yang sama kembali terulang. Ia mendorong Irna jauh hanya untuk melindungi sosok wanita tersebut.


"Aku hanya ingin kamu aman," Rama menyentuh tubuh Irna yang tertutup selimut.

__ADS_1


"Pergi!" sentak Irna dengan suara serak, sepertinya ia sedang menangis di balik kain tebal tersebut.


"Ayolah Irna, ini demi kebaikan kalian. Aku juga tidak bisa menjamin, Ken akan aman di dekatku."


Srakkkk


Irna menyibak kain selimut, lalu menatap tajam ke arah Rama yang juga menatapnya.


"Kau tidak dengar? Aku bilang pergiii!" teriak Irna kencang. Irna terlanjur sakit hati pada Rama. Kini ia malah menyalak pada pria yang ia mati-matian selamatkan.


Hingga perawat yang lewat langsung masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Takut terjadi sesuatu dengan si pasien. Dan yang datang adalah perawat yang tadi. Seorang perawat yang merasakan betapa merepotkannya menangani keluarga pasien yang panik berlebihan, karena istrinya belum siuman. Padahal dalam pengaruh obat bius.


"Pak ... tolong tinggalkan ruangan ini. Tolong jaga emosi pasien agar tetap stabil." Suster lalu mendekati Irna.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Tolong kosongkan tempat ini!" titah Irna tanpa menoleh pada Rama.


"Baik, Bu."


Suster lalu berjalan menuju ke arah Rama. Kemudian memberikan pengertian pada keluarga pasien.


Rama memejamkan mata, kemudian melirik Irna yang sudah tidak mau menatapnya. Dengan perasaan yang berat, ia melangkah meninggalkan ruangan itu.


Di dalam seorang diri, Irna terus saja menangis. Hingga tanpa sadar ia lama-lama malah tertidur dengan pipi yang basah.


Malam harinya.


"Ma, cepet sembuh ya. Di rumah sepi nggak ada Mama. Ken juga menangis terus."


Irna hanya tersenyum tipis. Ketika putranya terus saja mengeluh.


Kevin mengeluh saat mengunjungi sang mama di rumah sakit. Beberapa saat yang lalu, putra pertamanya itu datang diantar sopir. Dan itu atas inisiatif Rama. Lalu di mana pria itu?


Rama sejak tadi menunggu Irna. Namun, hanya duduk di depan ruangan. Karena wanita itu tidak mau melihat wajahnya.


Tidak mau Irna merasa larut dalam kesedihan, Rama menyuruh sopir mengantar Kevin ke rumah sakit. Sedangkan Kendra, ia memastikan anaknya itu aman di mansion bersama asisten kepercayaannya.


"Ma ... kenapa papa tidak masuk?" tanya Kevin penasaran.

__ADS_1


"Memang papa di mana?" Irna ikut penasaran.


"Hanya duduk-duduk di luar, kenapa tidak masuk saja? Di luar kan dingin dan pasti banyak nyamuknya. Kevin tadi lihat wajah papa juga lelah. Tadi sih ... Kevin ajak masuk papa, papa malah nggak mau. Katanya Mama lagi marah."


Irna menelan ludah.


"Hemm ... sudah malam. Kevin tidur di rumah ya .... Temani Kendra." Irna mencoba mengalihkan perhatian sang putra.


Kevin langsung mengangguk. Kemudian mencium pipi mamanya.


"Kevin pulang ya, Ma."


"Hemm."


Irna pun menatap kepergian putranya.


Beberapa saat kemudian.


Klek


Irna langsung menatap siapa yang datang, begitu melihat seragam perawat, Irna langsung kecewa.


"Maaf, Bu. Saya ganti tabung infusnya ya."


Irna mengangguk lemas.


"Ada keluhan?"


Irna menggeleng.


"Baiklah kalau begitu. Permisi, Bu."


Irna terlihat tidak bersemangat.


Klek


Pintu kembali terbuka, dan Irna enggan melihatnya. Pasti dokter atau perawat lagi.


"Sudah tidur?"

__ADS_1


Terdengar suara berat nan serak. Suara yang ia rindukan sejak tadi. Bukankan menjawab, tangis Irna malah pecah. Bersambung.


__ADS_2