Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Pelangi Setelah Badai


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #36


Oleh Sept


Rate 18+


Manusia diciptakan berpasang-pasangan, sudah selayaknya perempuan berpasangan dengan pria. Dari jaman Nabi Adam sampai Hawa. Tapi, ada beberapa pribadi yang memilih menyimpang. Keluar dari kodratnya. Ini hanya cerita, ambil yang baik, dan tolong buang buruknya, hempaskan! Semoga dapat diambil hikmah dari kejadian dalam novel ini. Sekali lagi, bijaklah dalam membaca. Terima kasih.


***


Arya memejamkan mata, menahan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya. Ia masih bersembunyi. Belum bisa keluar, karena takut jika tertangkap. Mansion mewah milik Rama tersebut sangat luas dan banyak ruangan rahasia di dalam sana.


Arya beruntung, ia bisa bersembunyi di salah satu ruangan di dalam sana. Sambil menunggu kondisinya membaik, sekedar mengumpulkan tenaga. Arya pun beristirahat sejenak. Rasa sakit yang ia derita, membuatnya lama-lama tertidur.


Ruang pribadi Rama.


Sebuah ruangan kedap suara dengan jarum suntik yang berserakan di atas meja.


"Bodoh! Mencari pria lemah saja tidak becus. Pergi! Keluar!" teriak Rama dengan wajah yang mengeras.


Marah, karena anak buahnya tidak bisa menemukan Arya. ia pun membanting kursi kayu yang harganya tidak murah tersebut.


Bruakkk


Rama marah, ia keluar dan menendang apa saja yang ia lewati.


"Periksa kembali semua CCTV di mansion ini!" ucapnya sambil menahan kesal.


Tidak jauh dari sana, Arya yang semula tertidur karena lelah, bangun ketika mendengar suara gaduh. Ia tersentak, kaget kemudian meringis kesakitan. Dadanya sesak, Arya seperti merasakan kesulitan untuk bernapas. Ditambah, tubuhnya terasa dingin dan mengigil.


Mau kabur, tapi pasti tertangkap. Akhirnya Arya bersembunyi di salah satu lemari di dalam ruangan itu. Ia menekuk tubuhnya, agar tidak ketahuan. Pria itu meringkuk tak berdaya.


***


Rumah sakit.


"Kamu harus makan, demi bayi kamu. Polisi sudah mengerahkan tenaga untuk mencari Arya. Mama yakin, Arya pasti akan segera ketemu. Mama sangat yakin bahwa ia masih hidup."


"Nur nggak lapar, Ma."


Mama menghela napas dalam-dalam, ia juga tidak selera makan. Ia bahkan melewatkan jam makan berkali-kali. Namun, Nur harus makan. Karena Nur baru saja melahirkan. Kasihan cucunya, kalau Nur jatuh sakit.


"Makanlah Nur, demi dia."

__ADS_1


Mama lalu bangkit, dan mengambil tubuh muggil itu dari keranjang bayi. Menciumnya dengan wajah sedih, semuanya sedang mencemaskan Arya yang sudah hilang sejak kemarin.


Nur malah menangis, bukan karena luka jahitan pasca operasi caesar. Ia menangis karena merindukan sosok Arya. Bukankah ini hari bahagia? Meski lahir lebih cepat putrinya sehat tanpa kurang satu apapun. Hanya sosok Arya yang hilang di tengah-tengah bahagia Nur Azizah, ketika menyambut bidadari kecil mereka.


***


Esok harinya. Di sebuah mansion mewah milik Rama.


"Gledah semua sudut! Jangan biarkan ia lepas hidup-hidup!"


Setelah memeriksa semua rekaman CCTV yang ada, didapatkan bahwa tidak ada gambar Arya yang terekam keluar mansion. Rama yakin, Arya masih ada di dalam sana.


Pria psikopat itu mengerahkan semua anak buahnya untuk menyusuri segala ruangan di tempatnya. Suara keributan, membuat Arya yang pingsan dan sempat tertidur kembali tersadar. Tidak makan, tidak minum. Tubuhnya semakin lemah saja.


Mendengar derap langkah seseorang, Arya menahan napas. Ia tidak bisa keluar, mau melawan tubuhnya terasa lemah. Entah apa yang disuntikkan Rama kemarin, Arya merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.


"Kau cari sebelah sana!" suara seorang pria sambil mengayungkan senjata.


Sementara rekannya yang lain, pergi ke arah sebaliknya.


"Aku sudah periksa gudang wine di ruang bawah tanah, tidak ada. Sepertinya hanya ada dua tempat yang belum diperiksa."


"Kau ke sana, gudang sebelah timur sepertinya belum," titah pria bermata coklat mengkilap.


Semua sudah, tinggal satu tempat yang belum ia periksa. Dengan sikap siaga, tangan pria itu mulai menyentuh pintu. Bersiap untuk membukanya. Sedangkan tangan yang kanan, siap melepas pelatuk bila di balik lemari itu ada pria yang ia buru.


Klekkkk


Bruakkk


Dorrrr


Suara tembakan mengema, Arya berhasil membuat orang itu terjatuh dengan menendang kakinya. Tapi, ia harus merelakan lengannya terkena senjata. Hampir saja ia mati bila peluru itu menembus jantungnya.


Dor


Dor


Dor


Di luar terdengar suara baku hantam, senjata bersautan seperti kembang api.


"Sialan!"

__ADS_1


Melihat tempatnya sudah dikepung, Rama kabur menuju pintu rahasia yang tembus ke dermaga. Pria itu bergegas naik kapal dan pergi dengan mengepalkan tangan. Tidak mau tertangkap polisi, Rama memilih lari.


"Angkat tangan! Letakkan senjata kalian. Tempat ini sudah kami kepung!" suara polisi mengema memenuhi ruangan.


Mendengar itu, Arya bernapas lega, tapi tubuhnya yang lemah membuat ia tidak bisa berdiri lagi. Ia pun melepaskan kemeja putih yang sudah berlumuran darah. Mengikat lengannya yang tadi tertembak.


***


Tidak tahu bagaimana ia bisa berpindah tempat, yang jelas. Saat membuka mata, Arya hanya melihat ruangan serba putih dengan tirai biru yang tidak asing. Ya, ia sudah berada di sebuah rumah sakit.


Ia menoleh ke kanan kiri, tidak ada seorang pun. Arya meringis saat akan mengerakkan bahunya. Ia lupa, kalau sempat tertembak.


KLEK


Seorang suster masuk, setelah melihatnya siuman. Suster malah langsung keluar meninggalkan Arya yang tubuhnya dipenuhi selang.


"Dok ... pasien VIP sudah siuman."


Seketika, semua tim dokter langsung menuju ruangan di mana Arya dirawat. Ini adalah hari ke tujuh, butuh seminggu baru ia terbangun. Arya baru banggun setelah berhasil melewati masa kritisnya.


Begitu Arya dipastikan sudah bangun, maka general check up langsung dilakukan. Dan saat Arya masih di ruang pemeriksaan, Nur yang kala itu baru datang. Langsung panik saat melihat kamar suaminya kosong.


"Suster ... mana suami saya? Harusnya dia masih di sini." Nur panik dan hampir menangis.


Suster mau menjawab, tapi di belakang Nur muncul sosok Arya yang mengisyaratkan suster itu untuk pergi. Arya sedang di dorong di atas kursi roda oleh perawat pria.


"Sus ... susterrr!" teriak Nur yang melihat wanita berpakaian perawat itu malah meninggalkan dirinya. Nur yang semula panik jadi bingung.


Ia kemudian berbalik, tangis Nur pecah ketika melihat Arya. Dengan langkah kaki yang bergetar, ia menghampiri suaminya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Nur di tengah tangisnya.


Arya memeluk tubuh Nur, aromanya sangat ia rindu. Diusapnya kepala Nur dengan lembut. Kemudian menanyakan sesuatu. Ia memegang pundak istrinya itu, menatap perut Nur yang tidak sebesar beberapa waktu lalu.


"Apa ... dia sudah lahir?"


Nur mengangguk.


"Benarkah?" suaranya serak. Arya sepertinya menyesal sudah melewatkan sesuatu.


Sedangkan Nur, ia kembali mengangguk saat Arya terus bertanya.


"Apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


Dua orang itu tidak lagi mampu berbicara, Nur hanya ingin memeluk suami. Menangis dalam pelukan pria yang ia khawatirkan selama ini. Bersambung.


__ADS_2