
Suamiku Pria Tulen #78
Oleh Sept
Rate 18+
"Kau sedang hamil?" tanya Devan sambil mengulurkan sebotol air mineral kemasan tanggung.
Nur mendongak, ia meraih botol itu. Karena masih tersegel. Nur langsung meminumnya.
"Tolong lepaskan aku!" ucap Nur setelah membasahi kerongkongan yang terasa pahit karena habis muntah barusan.
"Cih ... tidah semudah itu!"
Devan tersenyum remeh, kemudian menyentuh perut Nur. Jelas saja Nur menghindar dan kembali merasa takut.
"Jangan menyentuhku!"
Nur mengancam, bila pria itu macan-macam. Ia akan melompat. Baguna kosong itu terdiri dari lima lantai. Bangunan setengah jadi yang terbengkalai. Bisa saja Nur keluar dari sana, caranya dengan melompat. Tapi, mungkin ia akan keluar tanpa selamat. Sebab cukup tinggi dan beresiko juga.
"Oh ... mau mengancamku? Lompat saja sekarang!" gertak Devan dengan senyum sinis. Pria itu terus saja maju, mendesak Nur hingga wanita itu tidak bisa lagi bergerak.
Nur yang nekat, ia memilih mati dari pada Devan menyentuh tubuhnya. Tanpa sadar, kakinya terpelset. Untung, dengan cepat Devan meraih tangannya.
"Sial!" pekik Devan yang berusaha membantu Nur naik lagi ke atas.
"Wanita bodoh!" makinya saat Nur sudah aman.
"Biarkan aku keluar dari sini," Nur terus saja meminta dibebaskan.
"Dian kau!"
Devan pergi meninggalkan Nur seorang diri. Pria itu memilih berpikir sambil duduk di tangga yang belum jadi sepenuhnya. Polisi pasti sedang mencarinya, Devan mencari cara agar bisa lari tanpa terus dikejar. Menjadikan Nur sebagai sandra, akhirnya itu keputusan Devan.
Baru juga bangkit dan akan menghampiri Nur, tiba-tiba seorang pria berjaket kulit menodongkan senjata ke arahnya. Devan yakin, itu bukan polisi.
"Angkat tangan!" titah pria itu dengan suara berat.
"Brengsek, siapa wanita itu!" Devan merutuk, sepertinya ia salah mencari sandra.
Dengan terpaksa Devan mengangkat tangannya. Kemudian datang pria lain yang mengikat tangan Devan dengan cable ties.
"Periksa ke dalam!" serunya pada rekan kerjanya. Sedangkan ia sendiri masih mengacungkan senjata ke arah Devan.
"Kau ditangkap karena kasus pembunuhan dan penculikan!" seru pria tersebut.
__ADS_1
"Sial! Ternyata polisi!" rutuk Devan dalam hati.
Ia salah sangka, karena para polisi tersebut tidak mengenakan seragam. Rupanya, Arya mengerahkan semua usahanya untuk mencari Nur, istrinya.
Ia memaksa polisi bekerja 24 jam non stop. Memeriksa CCTV di setiap sudut kota. Hingga akhirnya mengendus keberadaan Devan.
***
"Tuan tetap di sini! Kami sedang melakukan penyergapan. Sangat beresiko warga sipil masuk ke dalam. Karena kita tidak tahu, di dalam sana bahaya apa yang mengintai."
Polisi tersebut mencoba menahan Arya yang sejak tadi ingin masuk ke gedung tua itu bersama para polisi lainnya.
"Istri saya dalam bahaya, mana mungkin saya diam saja!" sentak Arya emosi.
"Tenang, Tuan. Bila anda emosi, nyawa istri anda taruhannya."
Arya menghela napas dengan kesal, ingin rasanya ia lari ke dalam sana. Tapi, para polisi malah menahannya di dalam mobil. Ia baru bisa bernapas lega, ketika polisi datang sambil membawa Nur.
"Itu istri saya! Tolong buka pintunya!"
Klek
Pintu mobil yang semula terkunci langsung terbuka, saat kode aman sudah disampaikan.
Tanpa ba bi bu, Arya langsung turun dari mobil warna hitam tersebut. Ia berlari ke arah Nur Azizah.
Nur menggeleng, lalu bicara. "Aku mau pulang, Mas."
"Iya ... iya. Kita pulang."
Arya merangkul tubuh istrinya. Dan mereka pun masuk ke dalam mobil yang semula dinaiki Arya. Sepanjang jalan, Arya merangkul tubuh istrinya. Hampir saja dunianya hancur bila tidak cepat menemukan Nur.
Rumah sakit medika.
"Mas, kenapa ke sini? Aku mau pulang." Nur benar-benar ingin segera pulang, bertemu dengan anak-anaknya.
"Dokter akan memeriksamu dulu."
"Nur nggak apa-apa."
"Dia tidak melakukan hal aneh-aneh padamu, kan?"
Nur menggeleng.
"Untunglah." Arya menghela napas lega.
__ADS_1
"Ayo pulang sekarang."
"Periksa sebentar, nanti langsung pulang."
***
"Selamat Pak Arya, istri anda sedang hamil 4 minggu. Sangat beresiko, harap hati-hati karena masih sangat awal dalam masa kehamilan."
Dokter tersebut mengulurkan tangan untuk mengucapkan selamat. Niat hati Arya mau memeriksakan kondisi Nur pasca penculikan. Tapi, hasil yang ia dapat malah di luar ekspetasinya.
Ia tertegun, sampai membiarkan tangan dokter terulur cukup lama.
"Ah ... Makasih, Dok!"
Arya langsung menghampiri Nur yang terbaring sambil diinfus. Nur sedang tertidur karena obat. Dia bilang tidak apa-apa, nyatanya kondisi tubuh Nur sangat lemah. Tekanan darah pun sangat rendah, sehingga Arya memaksa untuk diinfus dulu.
Beberapa jam kemudian.
Nur mengerjap, ia bangun dari tidurnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Ruangan serba putih itu nampak sepi.
Klek
Tiba-tiba ada yang masuk.
Arya muncul dari balik pintu dengan buckets bunga mawar yang besar.
"Astaga, untuk apa ini? Nur mau pulang, Mas."
Nur pun meraih bucket bunga dari suaminya, mencium aromanya yang khas bunga mawar.
"Iya, nanti kita pulang. Sekarang istirahat dulu. Biar kondisi kamu stabil dulu, ya."
Arya mendekat, kemudian mengecup kening Nur. Dan berikutnya mencium perut istrinya.
"Selamat ... dan terima kasih. Sudah hamil anak-anakku."
Nur mengusap rambut Arya yang masih menciumi perutnya. Arya memang begitu, kalau ia sedang hamil, pasti suaminya itu terus-terusan menciumi perutnya.
"Udah, Mas. Geli!"
Arya akhirnya menarik diri, kemudian memeluk Nur dengan lembut.
"Makasih, Sayang!" bisiknya.
"Ehem ... ehem ... Maaf Tuan, saya mau memeriksa infusnya."
__ADS_1
Seorang suster datang kemudian berdehem, membuat Arya dan Nur langsung melepaskan tautan tubuh mereka. Tidak hanya itu, setelah suster memeriksa selang infus dan lain-lain. Datanglah dokter dan langsung memeriksa Nur.
"Bed rest dulu ya," ucap dokter dan tersenyum ke arah Arya.