Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Dia Juga Putramu


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #89


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ada apa ini?"


Mata Kevin memindai seluruh ruangan, ia ke sana untuk melihat pengantinnya. Hanya untuk melihat saja, ingin memastikan semua baik-baik saja. Sebab, dari tadi ia tidak melihat calon pengantin dan juga calon mertuanya.


"Ken!" pekik Kevin saat menyadari adiknya babak belur.


"Apa yang terjadi?" Kevin langsung menghampiri adiknya.


"Kenapa Papa menghajar Kendra?" Kevin menuntut jawab dari calon mertua yang sudah ia panggil papa. Mungkin panggilan itu sebentar lagi akan lenyap.


Mata Kevin kemudian tertuju pada sudut ruangan, dilihatnya calon mama mertuanya memeluk tubuh Dita. Pria itu bingung, apa sebenarnya yang terjadi. Seketika otaknya mulai bekerja.


Kevin meninggalkan Ken dan bergegas menghampiri Dita, calon istri yang sebentar lagi akan ia nikahi.


"Ma ... Dita kenapa?"


Fokus Kevin tertuju pada noda merah di gaun pengantin sang mempelai wanita tersebut. Jantung Kevin mau meledak, rasanya apa yang ia pikirkan pasti salah. Tidak mungkin. Tidak mungkin Kendra merusak apa yang akan menjadi miliknya. Bagaimana bisa, adik kesayangannya itu menodai Dita. Ini pasti tidak benar, pasti ada kesalahpahaman.


Kevin terus menepis pikiran buruk itu. Ia mau mendengar langsung dari orang yang mengetahui kejadian sebenarnya di sana. Melihat Dita yang sudah pingsan, Kevin berbalik. Kini ia mencengkram kerah kemeja Kendra.


"Katakan, kau tidak melakukannya!"


Ken hanya diam.


"Katakan!"


BUGH


Kevin menghajar adiknya sendiri. Ia begitu gelap mata saat mengingat bercak darah pada gaun calon istrinya.


Dihajar berkali-kali, Ken diam saja. Dan hal itu semakin membuat Kevin frustasi. Hingga saking kesalnya, Kevin menendang Kendra sampai pria itu membentur meja rias. Membuat barang-barang di atasnya berserak jatuh ke lantai.


"KENDRA!!!! pekik Irna, ia berlari dan berteriak histeris sembari memeluk tubuh Kendra.


"Kenapa kau memukul adikmu?" tanya Irna sambil menangis. Putra kesayangan yang baru beberapa bulan pulang dari luar negri mengapa harus babak belur begini? Bahkan ia saja tidak pernah marah dengan putranya tersebut.


Kevin membantu dengan tangan yang sudah mengepal.


"Bawa dia!" Terdengar suara berat dan serak.


Semua orang menatap ke sumber suara. Beberapa pria berpakain rapi serba hitam dengan kaca mata serta headset di telinga, langsung membawa Kendra pergi dari sana. Rama datang bersama orang-orang tersebut, wajahnya nampak dingin ketika melihat situasi kacau di ruangan itu.


"Mau dibawa ke mana Kendraaa! Pa ... jangan!" Irna menarik tubuh Kendra. Seolah tidak percaya, putranya akan aman di tangan anak buah suaminya.


"Hentikan!" sentak Rama dingin pada istrinya.


Irna menggeleng, ia memegang lengan Kendra kuat-kuat. Ia tidak mau Ken, putra kesayangannya itu mendapat hukuman dari papanya.


"Cepat bawah anak itu!" teriak Rama pada anak buahnya sekali lagi.

__ADS_1


Akhirnya Irna hanya bisa meringkuk, menangisi Kendra yang dibawa pergi.


***


Rumah sakit.


Kedua calon pengantin sudah berada di rumah sakit, Dita sudah ditangani oleh dokter terbaik. Sedangkan Kevin, pria itu berdiri di depan ruangan. Menunggu dengan keluarga yang lain.


Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan mereka? Ditunda, lebih tepatnya batal. Bagaimana mau menikah? Mempelai wanita saja pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Untuk membungkam media dan orang-orang julid. Kedua keluarga pun melakukan perjanjian. Sebuah klarifikasi juga digelar. Dikatakan malah sang mempelai wanita mendadak kondisi kesehatan drop.


***


Mansion mewah di pinggir kota.


Kendra meringis ketika seorang dokter mengobati seluruh lukanya. Sakit dan terasa perih. Setelah selesai diobati, kamar pria itu langsung dikunci dari dalam.


Ken sedang menjalani hukuman dari sang papa. 24 non stop ia tidak bisa ke mana-mana. Rama sudah memenjarakan anaknya sendiri di dalam mansion mewah miliknya.


Menyadari atas apa yang sudah ia buat, bukannya menyesal. Kendra malah menatap kosong ke kaca besar di depannya. Ia mengusap bibirnya yang terluka. Kemudian bayangan wajah Dita muncul lagi di pelupuk matanya.


Flashbacks On


Enam bulan lalu.


Bali, Hugo Cafe.


Kevin dan para rekan bisnis ada meeting di Bali. Kebetulan di sana juga ada Dita. Waktu itu keduanya belum resmi menjalin hubungan. Hanya sekedar hubungan kerja. Namun, sama-sama menyimpan rasa.


Selesai meeting, mereka balik ke hotel. Tentunya kamar yang berbeda. Kebetulan, Dita menumpang mobil Kevin. Keduanya pun mengobrol santai. Masalah pekerjaan bahkan kemudian ke rana pribadi. Sama-sama dewasa, membuat keduanya nyambung ketika berbicara.


"Kak, jemput Ken. Ken sudah ada di bandara."


"Kamu di mana? Aku di Bali."


"Iya, tahu. Mama sudah kasih tahu."


"Oke, aku jemput."


"Sip, Ken tunggu!"


Setelah selesai telpon, Kevin melirik Dita.


"Kita ke Bandara, ya. Jemput adik aku."


"Oh ... iya."


"Nggak apa-apa, kan?"


Dita menggeleng.


"Apa aku anterin masuk dulu?"


"Bener, nggak apa-apa."


Akhirnya, mereka pun tidak jadi ke hotel. Kevin malah mengajak Dita menjemput adiknya.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Ken melambaikan tangan ke arah Kevin yang sudah terlihat olehnya. Saat itu, mata Kendra juga tertuju pada gadis manis yang berdiri di sebelah sang kakak. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Love at the first sight...


Apalagi saat Kendra mengorek hubungan keduanya saat di perjalanan menuju hotel, terbukti mereka berdua sama sekali tidak memiliki hubungan. Dari sana, Ken menargetkan Dita.


Beberapa bulan berlalu, Ken sering menelpon Dita. Sekedar menanyakan kabar. Dita sih biasa-biasa saja. Apalagi ia ada rasa sama abangnya si Ken.


Dalam pikiran Dita, kebetulan kan, deket sama keluarganya dulu. Eh, tapi Kendra menyalahartikan kebaikan dan kehangatan sikap Dita selama ini.


Sebelum Ken mengutarakan rasa sukanya, Kendra mendapat kejutan. Ia begitu kaget ketika melihat contoh undangan di dalam rumahnya saat ia pulang.


Rencananya, hari itu ia akan mengutarakan pada papa dan mamanya. Ada gadis yang ia sukai selama beberapa bulan ini. Dan sebelum ia balik ke Australia, ia mau membawa gadis itu ke rumah.


Mimpi tinggal mimpi, saat ia melihat foto pra wedding sang kakak, hati Kendra langsung hancur. Ia memilih memghibur lukanya dan kembali ke luar negri. Fokus lagi pada apa yang ia kerjakan selama ini. Namun, papa dan mamanya memaksa ia pulang dan kembali di hari penting sang kakak.


Hari itu, hari paling kelam milik Dita.


Kendra sudah memakai kemeja serta jas dengan rapi. Ia terduduk lama di apartment pribadinya. Baginya sangat sulit melihat wanita yang ia sukai menikah dengan orang lain. Apalagi menikah dengan abangnya sendiri.


"Sial!"


Kendra memukul meja sampai kacanya pecah. Dengan langkah berat. Bukannya ke gedung pernikahan. Ia malah memilih memabukkan diri.


Puas minum berbotol-botol. Ia malah mencari Dita. Dengan bantuan sopir penganti, ia sampai ke lokasi pernikahan sang kakak.


Pertama yang ia tuju adalah ruangan ganti pengantin wanita. Ia ingin melihat untuk kali terakhir, lalu berencana akan pergi diam-diam. Memendam cintanya sendirian. Namun, rencana tinggal rencana, Kendra yang mabuk melupakan akal sehatnya. Melihat Dita, ia malah menyentuh dan mengoyak gadis tersebut.


Nafsuhhh yang besar, merusak segalanya. Merusak cintanya yang semula tulus dan merusak semua orang yang terlibat di dalamnya.


Flashbacks End


Rumah sakit.


Dita sudah sadar, tapi ia tidak mau bertemu dengan siapa pun. Hanya papa dan mamanya. Dita tidak mau menemui orang lain, meskipun calon suaminya sendiri.


Mendapat penolakan, Kevin tidak pergi begitu saja. Ia bertahan, menunggu Dita di depan ruangan. Mengusap wajahnya, ada kemarahan yang tak hilang. Ia mencoba bertahan, menunggu Dita mau menemui dirinya.


Sedangkan Rama dan Irna, keduanya nampak bersitegang.


"Kirim dia ke luar negri lagi, pesankan tiket sekarang. Blokir semua kartu yang ada padanya!" ujar Rama.


Rama menatap sekretaris yang ia percayai untuk tugas berat ini. Mengurus Kendra tidaklah mudah. Ken dari muda sudah badung. Berbeda sekali dengan Kevin. Lebih penurut dan berprestasi. Membuat orang tua bangga. Tidak seperti Kendra, hanya pembuat onar dan masalah.


"Pa! Mau Papa lempar ke mana lagi Kendra? Sampai Papa buang Kendra lagi. Mama akan keluar dari sini!" ancam Irna yang takut hidup jauh dari Kendra lagi.


"Lakukan!" Rama melirik sekretarisnya.


BUGH BUGH BUGH


Irna memukuli lengan suaminya, tega sekali Rama mendorong putranya menjauh. Tidak cukupkah Kendra selama ini sering dikirim ke luar negri jika menimbulkan masalah?


"Ini demi kebaikannya! Kamu mau anakmu masuk BUI?"


Tangis Irna pecah, bagaimana kalau keluarga Bima tidak terima? Rama benar, Kendra bisa masuk penjara.


"Nikahkan ... biarkan Ken bertanggung jawab!" cetus Irna sembail mengusap pipinya. Untuk menghindar jerat hukum, Irna pikir. Menikahi korban adalah solusi.

__ADS_1


"Ma! Kevin juga putramu!" sentak Rama tidak percaya. Bersambung.


__ADS_2