
Suamiku Pria Tajir #37
Oleh Sept
Rate 18+
POV Nur Azizah
Aku pikir kebahagiaan akan menghampiri hidup kami. Setelah badai pergi. Semua orang bahkan menatap iri padaku. Tiga tahun telah berlalu, hidup kami mungkin terlihat sangat bahagia. Sebagian orang mungkin menaruh iri padaku. Siapa yang tidak iri? Kata mereka aku beruntung. Memiliki segalanya. Suami tampan, kaya dan anak pintar serta mengemaskan, intinya keluarga yang bahagia.
Aku hanya bisa tersenyum kecut, setelah apa yang terjadi saat ini. Bibirku mungkin tersenyum di mata orang-orang, tapi tidak dengan hatiku. Setelah Cua genap dua tahun, Mas Arya memintaku untuk kembali kuliah. Ya, Cua putri kami. Putri pertama kami, dan mungkin akan menjadi putri satu-satunya dan terakhir.
Cua Esa Pramudya, putri semata wayangku, menjadi saksi di mana aku selalu menangis setiap malam. Mas Arya menjadi dingin bila bersamaku, terhitung beberapa bulan setelah kelahiran Cua. Ah, kejam sekali Mas Arya padaku. Sampai hari ke 40, ia sama sekali tidak mau menyentuhku.
Ya Tuhan, apakah penyakit menyimpang suamiku kambuh? Semoga bukan itu. Karena dari caranya menatapku, aku yakin. Masih ada getar rasa kepadaku. Tapi ... tapi mengapa dia tidak menyentuh?
***
"Mana sakit?" tanyaku pada Cua yang terus menangis. Aku lihat popoknya masih kering. Lalu kenapa dia rewel sekali?
Mas Arya juga belum pulang. Padahal sudah jam tujuh, apa macet lagi? Pikiranku seperti biasanya. Mas Arya selalu mengatakan macet bila terlambat pulang.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu, sepertinya itu Salwa. Dia masih setia di keluarga ini, membantuku mengasuh Cua, karena aku juga harus kuliah.
"Masuk!" ucapku kemudian. Kulihat Salwa datang sambil membawa jarik.
__ADS_1
"Cua biar saya gendong, Non. Besok ada kuliah pagi, kan?" tanya Salwa sambil menatapku.
Aku lantas mengangguk. Tapi enggan menyerahkan putri kecilku.
"Nggak apa-apa, aku aja yang gendong. Kamu istirahat saja," kataku sembari meminta kain jarik untuk menggendong Cua, putriku.
Setengah jam kemudian, putriku sudah terlelap dalam dekapanku. Oh ... mungkin Cua lagi ingin manja-manja sama mamanya, batinkku sambil mengusap pipinya yang gembul. Hanya Cua alasanku bisa tersenyum sebenarnya. Sisanya, hanya senyum palsu di mata orang-orang.
KLEK
Aku menoleh, kulihat Mas Arya masuk ke dalam kamar.
"Baru pulang? Macet lagi?" Ada nada sindiran dalam pertanyaan yang aku ucapkan. Entah Mas Arya merasa atau tidak.
"Hemmm."
Lama sekali aku menunggu pria itu di dalam sana. Normalnya orang mandi 10 menit sudah cukup, tapi ... suamiku sudah setengah jam lebih di dalam sana. Aku jadi bertanya-tanya.
***
POV Arya
Apa aku harus bercerai? Aku tidak ingin menyiksanya terlalu lama. Aku harus membuatnya benci padaku, Nur tidak boleh menderita. Ia masih muda, jalan hidupnya masih panjang.
Sebenarnya aku ingin mengakhiri penderitaan ini sejak lama. Harusnya aku mundur saat itu juga. Bukannya egois dan bertahan.
Flashbacks
__ADS_1
Sebulan pasca kelahiran Cua.
"Hallo?"
"Bagaimana kabarmu? Apa masih baik-baik saja?"
Mendengar suara Rama, telingaku terasa panas. Ingin ku seret pria laknat itu ke neraka.
"Berani kau menelponku?"
"Hahahah!" Rama tertawa, pria itu malah terkekeh. Membuatku seketika naik darah.
"Bagaimana hadiah dariku? Selamat menikmati hari-hari penuh penyiksaan. Anggap itu hadiah terbaik dariku!" ucapnya penuh penekanan. Jelas alisku mengkerut, tidak mengerti maksud Rama tersebut.
"Jangan banyak bicara, atau akan ku seret dan aku kubur hidup-hidup!"
"Kita lihat saja, sejauh mana kamu bisa bertahan dengan istrimu itu ... Aku ingin melihat, sanggupkah kamu menyentuhnya. Setelah apa yang aku berikan padamu waktu itu."
Mataku langsung menajam, otakku berpikir keras. Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Pria brengsek itu mungkin hanya menakut-nakutiku. Ia mungkin hanya bicara omong kosong.
"Kau tahu Arya, aku masih mengamatimu dari jauh."
Tut Tut Tut
Telpon terputus. Aku melempar ponsel itu ke lantai. Panik, gelisah dan khawatir. Bila apa yang dikatakan Rama benar, aku harus meninggalkan Nur secepatnya.
Bersambung.
__ADS_1