
Suamiku Pria Tulen #128
Oleh Sept
Rate 18 +
JEDUK
Lea langsung membenturkan kepalanya ke wajah Kevin. Bisa-bisanya pria itu mau menciumnya. Padahal Lea benar-benar sedang marah pada pria tersebut.
"Auch!?"
Kevin menurunkan Lea, ia kemudian memegangi hidungnya. Hidung tinggi mancung seperti orang Arab itu harus merasakan kemarahan Lea.
Alea berhasil membuat Kevin mimisan, dan saat melihat darah terus saja mengucur deras, Lea jadi panik sendiri. Buru-buru ia berlari menuju lemari kecil dekat ranjang. Ia mengambil sesuatu dari sana.
"Cukup! Udah ... tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Ya ampun, mengapa darahnya nggak berhenti."
"Udah Lea. Nggak apa-apa."
Kevin menepis tangan Lea, kemudian ia mendongak agar darahnya segera berhenti.
"Pasti sakit," ucap Lea yang terlihat menyesal. Wajahnya nampak tidak enak karena membuat suaminya terluka.
Kevin pun melirik sekilas, kalau ia bilang baik-baik saja, Lea nanti marah lagi. Alhasil ia pun pura-pura merasa kesakitan.
"Coba ambil es batu, ini masih sakit banget."
Lea beregas, ia meluncur ke dapur mencari es batu. Sedangkan Kevin, ia menatap punggung Lea yang semakin menjauh dengan seulas senyum.
Perlahan ia merebahkan tubuhnya, mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Harusnya ia bisa kontrol emosi, tapi melihat Dita begitu baik pada adiknya ia merasa tidak rela. Seolah kesalahan Kendra tidak boleh dimaafkan.
__ADS_1
"Ini es bantunya!" Lea mengulurkan sebaskom es.
"Banyak sekali, dikit aja."
Lea pun kembali berlalu, ia menuju sudut ruangan, membuka lemari dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Bungkus dengan ini, dan lakukan sendiri. Setelah mengatakan hal itu, Lea kembali meninggalkan Kevin.
Rupanya Lea tidak lupa, kalau ia sedang marah.
"Lea ..."
Wanita itu bergeming, tak peduli namanya dipanggil. Kevin kira Lea sudah lupa kalau lagi marah pada dirinya, ternyata masih dilanjut.
"Kami pernah hampir menikah, Lea. Tapi tidak jadi."
Tanpa ditanya, Kevin mulai bercerita. Dan meski kelihatan acuh, Lea memasang telinganya dengan tajam.
"Kenapa gagal nikah?" tanya Lea memecah sepi.
"Kami tidak berjodoh!"
Dari pada mengatakan yang sejujurnya, bahwa pengantinnya direbut paksa dengan cara yang keji oleh adiknya sendiri. Kevin memilih menutupi semuanya. Dengan mengatakannya mereka tidak berjodoh.
"Oh ... itu sebabnya Mas Kevin mau menuruti perintah papa begitu saja."
Tidak bisa menjawab, pria itu hanya memegangi kepalanya.
"Apa selama ini Mas juga memikirkan wanita itu?"
"Lea, apa yang kamu katakan?"
"Aku lihat Mas tadi sangat marah, hingga menghajar pria yang bersama wanita itu. Dari situ sudah jelas, Mas masih ada rasa!" cetus Lea dengan kesal. Mendadak ia jadi ingin makan orang.
"Wajar aku menghajarnya. Dia sudah merusak pernikahan yang akan berlangsung beberapa saat saja."
__ADS_1
Entah sengaja atau kelewat emosi bila membahas Kendra, hingga Kevin lupa menjaga perasaan Lea.
"Kalau begitu, menikah saja dengannya!" ketus Lea.
Lea langsung berdiri, ia keluar kamar. Tidak tahan pada sikap Kevin yang ia rasa masih menyimpan perasaan pada mantan kekasihnya.
Melihat Lea yang kembali merajuk, Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terlihat sangat frustasi.
***
Di ruang tamu tidak ada, di halaman pun juga tidak ada, Kevin malam-malam bingung mencari istrinya. Setelah dicari-cari, akhirnya ketemu juga. Lea sedang menatap bayangan bulan yang tergambar di atas permukaan air kolam.
"Lea, aku bisa jelaskan semuanya. Ketika aku menghajar pria itu, bukan berarti aku masih menyimpan harapan untuk kembali bersama wanita tersebut. Aku hanya ingin mengeluarkan semua rasa yang menganjal. Bila sudah ku hajar anak badung itu, maka mungkin aku bisa melepas semua amarahku."
"Sudahlah, Lea tidak mau mendengar apapun."
Dengan lembut, Kevin memeluk Lea dari belakang. Membisikkan sesuatu agar Lea luluh.
"Harus dengan apa biar kamu percaya?"
Bukannya luluh, Lea justru menyikut perut Kevin dengan sikunya, membuat pria itu meringis dan melepaskan pelukannya.
"Aku rasa anak kita nanti cowok, Lea." Sembari memegang perutnya yang sakit, Kevin mengalihkan perhatian Lea. Karena harus ekstra sabar meluluhkan hati wanitanya itu.
Pria itu kemudian berjongkok tepat di depan Lea. Mengusap perut Lea yang masih rata. Mengecupnya berkali-kali. Biar Lea lupa sakit hatinya.
"Katakan pada Mama, Papa sayang kalian. Kalau nggak percaya, Papa bakal nyebur kolam."
Lea langsung tersenyum kecut, "Sana kalau mau mandi!"
Lea berbalik, ia masih kesal. Rayuan Kevin sama sekali tidak mampu menembus hatinya. Sudah berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara deburan air cukup keras di balik tubuhnya.
BYUUURRR. Bersambung
__ADS_1