
Suamiku Pria Tulen #66
Oleh Sept
Rate 18+
Bukan hal yang sulit bagi sang Pencipta untuk membolak-balik hati manusia. Bisa jadi sekarang sangat benci, nanti kalau Tuhan sudah jodohkan, lalu bisa apa? Sukai sekedarnya, benci sekedarnya. Nanti kalau keadaan berbalik, nggak bakal malu sendiri. Gengsi untuk mengatakan apa yang dirasakan.
***
Kediaman Rama.
Di dalam sebuah kamar, Rama sudah tertidur pulas, pria itu terlelap sambil memeluk tubuh seorang wanita. Terlihat nyenyak dan kelelahan. Dua orang itu terbaring di atas ranjang yang sama. Rama sudah terlelap, sedangkan Irna masih terjaga.
"Apa maunya laki-laki ini?" batin wanita tersebut sambil mencoba melepaskan lengan Rama yang ada di atas perutnya. Ia merasa kurang suka, tidur serasa dibelengu.
Dengan hati-hati Irna mencoba memindahkan lengan pria yang kekar dan berotot tersebut. Beberapa waktu lalu, mereka sudah melakukan sesuatu. Sesuatu yang membuat Rama puas, tapi tidak dengan Irna.
Rama mencapai puncak sendirian, Irna sampai kesal dibuatnya. Cepat sekali, dia bahkan belum merasakan apa-apa. Dari sini, Irna merasa sesuatu yang janggal. Namun, itu hanya sekelibat dalam kepalanya. Ia tidak memikirkan itu dengan serius. Mungkin Rama memang mengalami keluhan pria-pria pada umumnya, pikir wanita tersebut.
Pagi harinya.
Rama mengerjap ketika sinar matahari yang hangat menerpa kulit wajahnya. Ia melirik sekitar, kemudian menatap langit-langit kamar. Sepertinya kesadarannya sudah kembali. Bayangan kejadian semalam pun nampak dalam pelupuk mata.
__ADS_1
"Sial!"
Pria dengan wajah kusut karena habis bangun tidur itu mengusap wajahnya dengan kasar. Rama langsung turun dari atas tempat tidur. Ia memunguti pakaian dan memakainya dengan asal. Ia juga merutuki dirinya sendiri, mengapa menghampiri Irna di saat sedang mabuk.
Beberapa saat kemudian.
Ruang makan, terlihat Rama mencari keberadaan seseorang. Ia memindai sekeliling, yang dicari belum nampak sejak tadi. Tidak mungkin Irna kabur karena putranya masih ada di sana.
"Mana mamamu?" tanya Rama pada Kevin. Anak kecil itu hanya menatap sekilas pada Rama, kemudian melanjutkan makan. Mengabaikan Rama begitu saja. Padahal mereka berdua duduk di meja yang sama.
Anak laki-laki itu lebih memilih makan ayam goreng buatan sang mama dari pada berbicara pada pria yang tinggal bersamanya akhir-akhir ini. Rama yang kurang menyukai anak kecil, mungkin terasa bagi Kevin. Karena Rama memang jarang berkomunikasi dengan bocah kecil itu. Tatapan Rama juga selama ini dingin pada putra Irna tersebut. Dari situlah, mungkin Kevin tidak menyukai Rama.
"Seperti ibunya! Ish!" Rama mendesis kesal. Ia melongarkan dasi kemudian meninggalkan meja makan.
Dari belakang wanita itu muncul, "Ada apa?" tanya Irna dengan ekspresi datar. Irna berjalan membawa segelas minuman untuk ibu hamil.
"Tidak ada apa-apa."
Rama langsung berbalik, begitu ketemu wanita yang ia cari. Ia malah tidak memiliki bahan untuk dibicarakan. Melihat Rama pergi begitu saja, Irna mengerutkan dahi. Heran dengan Rama.
"Kevin, sudah siap? Ayo berangkat." Irna mengambil tas serta peralatan melukis milik Kevin, hari ini ada les seni. Dan putranya memang suka menggambar. Alhasil, setelah pulang sekolah mungkin Kevin akan mampir ke teman Irna yang kebetulan memiliki gallery dan merupakan mantan kekasihnya.
Rama yang kala itu sedang duduk dan fokus pada laptop di depannya, melirik sekilas.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Rama penasaran.
"Hanya peralatan melukis, kami mungkin pulang sore."
Irna berjalan melewati sofa, sampai di sana Rama masih saja mengamati dari belakang.
"Kamu tidak berangkat kerja?" Irna berbalik, jam segini biasanya Rama sudah pergi.
"Nanti," jawab Rama ketus.
Irna jadi menyesal, mengapa bertanya tadi.
***
Irna mengemudikan sendiri mobilnya, setelah mengantar Kevin ke sekolah di tengah kota, ia kembali mengendara. Irna tidak sadar, sebuah mobil juga mengikuti dari belakang. Namun, jaraknya cukup jauh. Jadi Irna tidak menyadari.
Setelah mengemudi cukup lama, akhirnya ia sampai di sebuah gallery seni yang ada di ujung jalan. Dari luar tampak klasik, dengan desain mengusun tema kuno.
Ira keluar sambil menjinjing tas warna maroon senada dengan dress yang ia kenakan. Begitu membuka pintu, seorang pria menyambut dan langsung mencium pipi Irna.
Dari dalam mobil, mata Rama melotot tajam melihat pemandangan yang mengusik hati tersebut.
Tanpa menunggu lama, Rama langsung keluar dan menghampiri keduanya. Bersambung.
__ADS_1