
Suamiku Pria Tulen Bab 69
Oleh Sept
Rate 18+
Flashbacks On
Tiga tahun lalu.
Rama ingin menghentikan Irna, tapi terhalang oleh amarah yang ia bangun sendiri. Rasa benci lebih menguasai hati pria tersebut. Membuatnya tidak meminta Irna untuk tetap tinggal seperti yang ia mau.
Rama pikir Irna akan menjelaskan baik-baik, memohon atau meratap dan meminta ampun darinya. Tapi, Kenyataan tak sesuai harapan Rama. Irna teguh meninggalkan rumahnya. Membawa semua rasa tanpa sisa.
Sebulan setelah kepergian Irna. Arya dan Nur memutuskan pindah. Aneh, Rama sudah tidak peduli. Arya mau pergi atau tetap tinggal, sama sekali tidak peduli. Hari-harinya hanya minum dan minun. Berharap dapat melupakan rasa sakit yang tidak ia sadari.
Suatu malam, di salah satu klab malam ternama. Rama sedang duduk sendirian. Ketika ada wanita cantik berusaha duduk di sebelahnya, dengan kasar Rama mendorong kursi itu hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan keributan. Ia memaki wanita itu, seolah sedang memaki Irna. Di dalam matanya, Irna salah.
Malam berikutnya, berlalu sama dan berulang begitu saja. Entah berapa wanita yang ia lempar uang tepat di mukanya hanya karena ia merasa kesal pada Irna. Bayangan wanita itu menghampiri tanpa permisi. Sampai setengah tahun lamanya, Akhirnya Rama memutuskan untuk pindah.
Menyibukan diri, kembali ke bisnisnya yang terbengkalai karena terlalu fokus pada rasa kecewanya. Gengsi, ia bahkan tidak mau mencari Irna. Mulai saat itulah, ia kembali menjaga jarak dengan mahluk yang berisik tersebut.
Sehari sebelum pertemuan dengan Irna di sebuah Bandara.
"Tuan ..."
Rama hanya melirik dengan dingin pada pri yang berjalan di belakangnya.
"Bukankan itu nyonya?"
Mata Rama meloto, ingin mrngabaikan saja. Tapi ia juga penasaran.
__ADS_1
"Kejar dia!"
Flashbacks End
Mansion mewah milik Rama yang biasanya tenang, damai dan sunyi karena minim penghuni. Kini nampak menegangkan.
Irna sudah berhasil merebut Ken dari tangan Rama. Sedangkan Rama, pria itu masih tercengang. Ia duduk dengan kaki yang terasa lemas.
"Mengapa tidak jujur? Kau sengaja menyiksaku!" tuduh Rama dengan suara serak. Matanya menatap Ken yang juga menatapnya. Anak itu malah melempar senyum ke arahnya. Rama dilema, hatinya berkecamuk tak tau arah. Kini ia bingung, harus bagaimana.
"Apa kau akan percaya?" tantang Irma. Wanita itu masih tidak kenal takut rupanya.
"SETIDAKNYA KAU BILANG SAJA!" sentak Rama lalu mengusap wajahnya kasar. Ia merasa sia-sia memupuk benci karena mengira Irna tidur dengan pria lain di luar sana.
"Apa kau akan percaya?"
Menerima bentakan Rama setelah sekian lama, wanita itu menatap dengan mata yang sudah terasa amat perih. Dadanya sesak, hidup di dekat pria seperti Rama memang hanya membuatnya tersiksa. Namun, Irna tidak menyesali akan hal itu. Karena menyukai Rama adalah pilihannya.
"Tetap saja, kau salah karena tidak mengatakan anak ini anak siapa? Kau memang sengaja, Irna."
"Malas kau bilang?"
"Ya ... aku malas berdebat denganmu!"
"Ish!" Rama menghela napas dalam. Kemudian mengulurkan tangan.
"Berikan padaku!" titahnya menatap Ken.
"Tidak! Kamu akan melemparnya ke perapian!" Irna beringsut. Ia melangkah mundur untuk menghindar.
"Sudahi kegilaanmu, Irna! Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri?" Ia menyalak pada wanita yang memeluk Kendra dengan erat.
__ADS_1
Irna menelan ludah, kemudian dengan ragu memberikan buah hatinya.
"Sedikit saja kamu melukainya, aku akan membalasmu!" ancam Irna saat Kendra sudah dalam gendongan Rama.
"Berisik!" desis Rama melotot ke Irna.
Dengan lembut, Rama meletakkan Ken di atas ranjangnya. Ia mengamati kaki Ken yang munggil. Memegangi tangan, hari-harinya yang sangat kecil.
"Kau lucu sekali, siapa namamu?" gumam Rama lirih. Sambil menyentuh pipi Ken yang gembul dan halus.
"Kendra ... Kendra namanya," sahut Irna pelan.
Rama lalu berdiri.
"Mulai sekarang, kalian tinggal di sini ... denganku!" ucap Rama tanpa menatap lawan bicaranya. Fokusnya masih tertuju pada Kendra. Poto kopi Rama di versi kecil.
"Mengapa aku harus tinggal dengan orang asing sepertimu?" tanya Irna spontan.
"Orang asing kau bilang? Aku ayah dari anakmu!" cetus Rama dengan sedikit marah.
"Bukan berarti kita tinggal bersama, oke ... dia anakku. Tapi tetap saja kita orang asing. Tidak ada alasan kenapa aku harus tinggal di sini."
Rama diam sesaat, kemudian kembali berucap yang membuat Irna tertegun.
"Jangan bilang, kalau sekarang kau ingin menikah denganku?" tuduh Rama.
"Kau tetap sama, aku tidak pernah memusingkan akan menikah dengan pria mana. Bagiku sangat mudah mencari suami dan ayah bagi Kevin dan Kendra!" tantang Irna.
"Coba kalau berani!" ancam Rama.
"Kamu pikir aku takut? Ayolah Rama ... hanya karena kau ayah Kendra, bukan berarti kita harus menikah. Dan satu lagi ... Aku bisa saja menikahi pria manapun."
__ADS_1
"Rupanya kau tidak belajar dari masa lalu!" desis Rama sinis.
Rama yang sudah terpancing langsung menarik tangan Irna dengan paksa, keduanya masuk ke ruang kerja yang ada di dalam sana. Membiarkan Kendra sendirian di dalam kamar yang luas tersebut. Rama mau membuat perhitungan dengan Irna. Bersambung.