Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
SUAMIKU BISA JADI APASAJA


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #120


Oleh Sept


Rate 18 +


POV ALEA


Hari itu langitku terasa runtuh, sesuatu yang buruk sudah meninpa hidup kami. Aku pikir kebahagian perlahan mulai mendekat, aku pikir ini adalah awal dari hari bahagiaku. Dan ternyata aku salah. Ternyata aku keliru, aku sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakan waktu.


"Pa ... Maafkan Lea, Lea sayang Papa."


***


KLEK


Aku menoleh ke arah pintu, kulihat Mas Kevin muncul dengan membawa sebucket bunga. Terlihat indah dan pasti aromanya wangi. Namun, sayang hatiku sama sekali tidak bahagia.


"Sudah makan?" tanya Mas Kevin sambil mengecup keningku. Terasa hangat, tapi juga hampa. Sikapnya yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok papa. Tanpa sadar, bulir bening menetes menyeberangi pipi ini.

__ADS_1


"Jangan seperti ini," Mas Kevin mengusap kepalaku. Kemudian mengusap pipiku yang basah. Dan aku hanya bisa terisak saat dia menarikku dalam pelukannya.


"Semua akan baik-baik saja, jangan larut dalam kesedihan."


Pria hangat itu menasehatiku lagi, sudah beberapa hari ini aku memang terlalu larut dalam kesedihan. Sebab, bagiku selama ini papa adalah segalanya. Meskipun aku selalu membantah apapun perkataan papa, aku tidak ingin hal buruk menimpanya.


Andai waktu bisa kuputar, akan aku perbaiki caraku bersikap pada papa selama ini. Tidak ingin melihat dia marah, hingga menimbulkan penyakit jantung yang membuat papa kesakitan. Aku hanya akan bersikap manis, seperti kak Cua. Dan aku akan lebih bisa diandalkan, seperti mas Kalen selama ini. Namun, semua sudah terlambat. Aku hanya bisa meninggalkan kenangan buruk di hati papa.


***


Bangun tidur aku merasa gelisah, dahiku dipenuhi keringat. Kulihat jam, dan baru pukul 11 malam.


Mas Kevin mendekatiku sambil membawa segelas air. Aku kemudian meminumnya.


"Lea mimpiin papa, Mas."


"Papa pasti baik-baik saja."


"Tapi ... Lea takut sesuatu yang buruk, Lea ... Lea nggak mau papa kenapa-kenapa," ucapku dengan rasa sedih campur sesal yang dalam.

__ADS_1


Aku mengusap wajahku. Tiba-tiba terasa sesak, aku hanya ingin menangis ketika mengingat papa menahan kesakitan dan tidak berdaya malam itu. Rasanya aku ingin pergi ke America sekarang, menyusul papa yang sedang menjalani perawatan di sana. Tapi mama melarang, di sana sudah ada mbak Cua dan putra-putrinya.


Aku tidak sabar, minggu depan Mas Kevin baru akan membawaku ke sana. Padahal, aku ingin ke sana segera. Pekerjaan mas Kevin, membuatnya harus mengatur waktu dulu. Dan karena di America sudah banyak keluargaku, aku maklum. Meski harus menahan rasa ingin melihat papa segera.


***


Bandara international JKT


Hari yang ku tunggu sudah tiba, sesuai janji. Kami pergi menyusul keluarga yang lain untuk menemui papa. Kata mama, papa juga menanyakan kabarku. Rasanya, hari ini aku tidak sabar untuk menemui cinta pertamaku itu.


"Tidurlah, penerbangan ini cukup lama. Akhir-akhir ini Mas lihat kamu kurang tidur."


Aku hanya mengangguk, kemudian kutarik lengan mas Kevin. Aku bersandar padanya dengan manja, dan ini benar-benar bukan gayaku, tapi ya sudahlah. Pria ini benar-benar mampu mengubahku. Cinta kedua setelah papa. Aku bersyukur, Tuhan sudah mengirip pria-pria terbaik dalam hidupku.


Cukup lama kami ada di atas, sampai aku merasa jenuh. Beruntung ada mas Kevin. Ia selalu punya bahan untuk membuatku tersenyum.


Ternyata, pria kakuku itu bisa jadi pelawak. Begitu banyak yang bisa ia lakukan. Kadang aku merasa ia seperti sosok papa kedua. Selalu ngomel-ngomel bila aku salah dan sangat rajin menasehatiku. Kadang dia seperti kakak laki-lakiku, selalu melindungiku dan memberikan banyak hadiah yang aku suka. Kadang juga seperti anak kecil, ah ... yang ini tidak akan aku ceritakan.


Tiba-tiba pipiku terasa panas, ya suamiku kadang seperti anak kecil. Kalian pasti tahu. Apalagi kalau seputar ranjang, ah ... aku tidak mau membahas. Hanya membuat panas dingin. Hihihih. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2