Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Villa


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #115


Oleh Sept


Rate 18 +


Perhatian


18 th ke bawah dan pelajar mohon skip. Yang sudah menikah, dan sudah dewasa rapikan barisan. Mau bagi-bagi sesuatu.


***


Setelah memberi tatapan tajam pada Lea. Kevin langsung berbalik. Besok ia ada meeting pagi-pagi sekali. Tidak mau membuang tenagannya. Ia memilih acuh. Biarkan Lea bertindak semaunya. Ia sudah sangat lelah.


Pagi hari, sudah jam enam tapi langit masih gelap. Rupanya mendung menyelimuti langit kota metropolitan. Kevin melirik jam Rolexxx yang melingkar di tangannya, dan menatap daun pintu kamar Alea, si biang kerok ternyata belum bangun.


Karena ada agenda khusus, ia pun pergi tanpa menunggu Lea bangun. Apalagi Willi sudah memanggil dirinya. Sekretarisnya itu sudah menanti di bawah.


***


Sore hari.


Lea nampak memegangi kepalanya yang masih pusing. Ia mengumpat tak karuan. Semalam ketemu geng musuh di cafe, mereka nantang Lea dan ngajak ke klab. Mulanya ia menolak, tapi mereka mengeluarkan hasutan yang membuat telinganya panas.


Alhasil ia pulang dengan mabuk, dan sekarang ia mulai mengacak-ngacak rambutnya. Ketika mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Jangan-jangan nanti Kevin akan menakors dirinya.


"Sial!!!" rutuknya. Lea sudah memiliki firasat, nanti pasti kena omel oleh suaminya tersebut.


Ternyata, yang dipikirkan malah panjang umur. Lea menoleh ke ruang tamu, dilihatnya Kevin datang membawa 2 buah boneka besar Teddy bear. Warna biru dan mera muda.


"Aku bukan anak-anak!" gumam Lea menatap aneh. Apalagi boneka itu ada dua. Berpita dan berdasi. Lea kelewat PD, ia kira itu untuk dirinya.


"Ya ampun, sejak kapan manusia kaku itu memiliki sisi manis seperti itu?" tanya Lea dalam hati. Ia sampai merinding, ia kira Kevin tidak menyukai hal-hal berbau sweet seperti itu.


"Cepat ganti pakaian, tadi kakakmu menelpon. Ia menyuruhku membawamu ke villa keluarga di puncak."


"Apa?"


Barulah ia mengerti, Lea langsung melihat ponselnya. Ya ampun, ia sampai lupa. Besok si kembar ultah.


Dengan gesit ia masuk kamar, ganti pakaian dan dandan ala kadarnya. Celana jeans dan jaket hoodies.


"Sudah! Ayo!" ujar Lea yang sudah rapi.


"Sebentar, aku mandi dulu."


"Ish!"


Lea menatap sebal, lalu tadi ngapain saja pas ia siap-siap?


***


Kali ini Kevin menyetir sendiri ke villa, karena acara keluarga, ia tidak membawa serta sang sekretaris.


"Mana alamatnya?" tanya Kevin saat mereka sudah memasuki kawasan puncak.


"Ada gedung paling tinggi dan tunggu emas sebelah kiri, terus belok."


Sesuai arahan Lea, Kevin akhirnya sampai di depan sebuah villa dengan pagar menjulang tinggi.


Begitu turun dari mobil, keluarga besar Lea langsung menyambutnya.


"Kamu pasti lelah, duduk dulu." Nur pun mengambil minum untuk anak kesayangannya itu.


"Capek, Vin?" tanya Arya pada menantunya.


"Nggak, Pa."


"Ya sudah. Sini ... istirahat."


Cua dan keluarga kecilnya langsung keluar dari dalam, sembari membawa kue dan camilan.


"Kita bakar-bakar, ya?" tawar Kalen, anak kedua Arya.


Sepertinya ini adalah reunian keluarga Pramudya. Semua ada di sana, komplit. Keluarga yang hangat dan kompak. Kevin yang baru saja menjadi anggota keluarga Pramudya pun sangat mudah beradaptasi. Ini semua karena Pramudya family begitu humble dan ramah. Kecuali istrinya, unik dan badung sendiri.


Setelah bakar jagung dan bakar-bakar ikan, perut mereka pun kenyang. Apalagi si kembar juga sudah tidur karena kelelahan. Suasana villa yang semula ramai pun perlahan sepi dan sunyi.

__ADS_1


"Kalian istirahat saja, Mama sama Papa masih mau di sini, cari udara segara."


Nur melirik Lea yang menguap sejak tadi.


"Lea tidur dulu ya, Ma."


"Permisi, Ma ... Pa." Ganti Kevin yang pamit dengan canggung. Yaaaa ... satu ranjang lagi, pikir Kevin. Kali ini apa Lea akan menendang dirinya lagi? Entahlah.


Kamar Lea. Biasanya kalau menginap di sana, ini adalah kamar favoritenya. Kecil sih, dan kebetulan kamar ini saja yang ukurannya paling kecil. Tapi Lea terlanjur nyaman di kamar itu.


"Tidak ada sofa, Ranjangnya juga nggak besar. Awas nanti kalau kamu macan-macam!"


"Cih!" Kevin berdecak. Mengapa istrinya itu PD sekali, bahkan Kevin sama sekali tidak tertarik.


Benarkah???


***


Pukul satu, udara di puncak berada pada titik paling rendah. Kevin tidur sambil memeluk tubuhnya sendiri. Pria itu menggigil kedinginan. Udara dingin serasa menusuk sampai tulang pria tersebut. Mungkin Kevin kecapekan, karena pulang kerja langsung menyetir sampai puncak. Jadi imunnya menurun.


"Hei ... heii!" Lea menowel-nowel tubuh suaminya.


Suara rintihan Kevin yang menggigil membuatnya terbangun. Sangat menganggu sekali, berisik.


"Bangun!"


Lea kemudian mengamati wajah Kevin, sepertinya pria itu kedinginan berulang.


"Astaga! Ish ... tubuh sebesar ini masa tak kuat dingin."


"Bangun ... bangun."


Lea mengosok telapak tangannya berkali-kali, kemudian menempel ke pipi Kevin. Ia lakukan berulang untuk membuat suaminya hangat. Tapi tidak berhasil. Getakan Lea tersebut hanya membuat Kevin bangun. Namun, tetap merasa kedinginan.


"Matikan AC-nya."


"AC mana lagi, siapa yang nyalain AC di cuaca dingin seperti ini?"


"Lalu kenapa dingin sekali?"


"Siapa bilang aku sakit?" omel Kevin. Saat kedinginan, ia tidak lupa untuk ketus pada Lea.


"Itu lebih baik ... marah-marah saja, biar hatimu panas!" cetus Lea ikut kesal.


"Ish! Buatkan aku sesuatu yang hangat."


"Hemmm!"


Lima menit kemudian, Lea muncul denga segelas air hangat.


"Air putih?"


"Udah, penting anget!" gerutu Lea yang malas membuat teh atau kopi.


Karena kesal hanya diambilkan air putih, Kevin meraih gelas itu dengan kasar. Tidak sengaja, air itu malah sedikit oleng dan isinya tercacar sedikit.


"Panas!" pekiknya.


"Ya ampun!" Lea panik karena air putih yang sedikit panas itu menumpahi sesuatu yang keramat.


"Cepat kain!" pekik Kevin.


Lea menoleh kanan kiri, kemudian meraih syal di atas kursi. Dengan reflek ia mengusap area keramat yang basah terkena air.


"Apa yang kau lakukan?" Kevin menatap tidak percaya karena Lea memegang sesuatu yang tidak seharusnya dipegang.


Kaget, Lea melempar syal dengan spontan.


"Apa itu!" Wajah Lea terlihat panik.


Kevin yang tadi sempat kaget, begitu melihat lugunya ekpresi Lea, ia langsung tersenyum tipis. Kevin yakin, gadis nakal ini hanya luarnya saja nampak liar. Sepertinya Lea gadis yang tidak tahu apa-apa.


"Tolong ambilkan celana pendek di koper."


Lea buru-buru nurut, meski otaknya ngeblank akibat kena prank benda keramat.


"Ini!"

__ADS_1


Ketika Lea mengulurkan celana itu, eh malah di dalamnya jatuh. CD warna coklat jatuh di kaki Lea.


"Astaga! Apa-apaan ini?" gerutu Lea dalam hati. Mau tidak mau, ia pun meraih segi tiga biru itu, dengan cepat memberikan pada Kevin.


***


Kevin sudah ganti celana, dan saat kembali dari kamar mandi. Dilihatnya Lea sudah berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


Kevin heran, udara di sana begitu dingin malam ini. Membuat ia menegang. Apalagi habis dari kamar mandi. Huh ... Menegangkan!


Glibak ... glibuk ... glibak ... glibuk.


"Ya ampun, jangan berisik!" Lea protes karena Kevin tidak tidur tapi malah berisik.


"Kamu belum tidur?"


Mendengar suara Kevin yang super lembut, tak seperti biasanya, Lea bergidik ngeri. Ia lalu merapatkan kain selimutnya.


"Bagi selimutnya, dingin banget di sini."


"Nggak, ini punyaku!" Mana mau Lea berbagi selimut. Malam ini Kevin mengerikan. Lea takut.


"Ish!" Kevin yang kedinginan, langsung saja merangsek. Ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Lea. Membuat Lea langsung berjingkat bangun.


"Jangan macan-macam!"


Kevin menarik tubuh Lea, kemudian memeluknya.


"Begini lebih hangat!"


Seketika Lea mati gaya. Ia beringsut sedikit demi sedikit. Tapi Kevin malah semakin merapatkan tubuhnya. Hingga Lea merasakan sesuatu yang aneh di balik tubuhnya. Sesuatu yang keras tapi bukan batu.


"Pikiranmu pasti saat ini sangat kotor!" gumam Lea dengan jantung yang sudah dag dig dug.


"Bukan!!! Ini karena hawa dingin."


"Kamu pikir aku bisa dibodohi?"


"Ayolah Lea ... mana mungkin aku berdiri hanya karenamu!" Kevin tersenyum remeh.


Tersinggung, Lea langsung memutar tubuhnya. Kini wajah mereka saling bertatapan.


"Kamu pikir aku nggak bisa buat kamu berdiri?"


"Eh .. ngomong apa? Ayo tidur, sudah malam." Kevin menciut, kok ia jadi yang ngeri sendiri.


"Katakan!! Apa yang kamu pikirkan? Mengapa jadi tegang?" tuntut Lea saat itu juga.


"Jangan seperti anak kecil yang merajuk!"


"Siapa yang anak kecil?" Lea tambah kesal.


Kevin menghela napas dalam-dalam. "Lalu kamu mau apa?"


"Cukup jawab, apa yang kamu pikiran sekarang?"


"Ish ... !"


"Katakan!"


Kevin mengaruk pelipisnya. Kemudian menjawab pertanyaan Lea dengan lirih.


"Tidur denganmu!"


Bola mata Lea hampir keluar dari tempatnya. Bersambung.


Di skip yaaa...


Baca juga novel Sept yang lain.


Raim bayaran


menikahi Majikan


Dea I Love you


lope lope semuanya.... Terima kasih komennya. Bikin semangat bangetttt.

__ADS_1


__ADS_2