
Suamiku Pria Tulen Bab 70
Oleh Sept
Rate 18+
Tolong di skip alias dilewati. Bukan bacaan anak di bawah 18 tahun. Bijaklah dalam membaca. Cocok untuk yang sudah berumah tangga. Agar semakin harmonies. So ... mohon skip bagi pelajar dan yang belum menikah, jomblo dan sejenisnya. Hehehe ... Terima kasih.
***
"Lepasin, Ram! Nanti Ken jatuh!"
Irna mengerem kakinya, sehingga Rama tidak bisa menyeretnya lagi. Pria itu membuang napas dengan kesal, kemudian langsung keluar menghampiri Kendra.
Rama mengendong anak yang baru ia temui tersebut, lalu mencari asisten rumah tangga di mansion itu.
"Mau dibawa ke mana Kendra?" teriak Irna sambil membuntuti Rama.
"Dia sudah aman, sekarang giliranmu!"
Seketika Irna merasa degup jantungnya bertambah lebih cepat. Sorot mata Rama membuatnya merasa tidak aman.
"Tidak, Ram. Nggak!"
Irna mau lari, tapi dengan cepat Rama meraih tubuhnya.
"Kau mau ke mana? Hem ...? Urusan kita bahkan belum selesai. Kau mau menikahi pria manapun bukan? Sekarang akan aku tunjukkan padamu. Agar tidak berani dan sembarangan dalam berucap!"
"Berani menyentuhku, akan ku hajar kau!" ancam Irna yang terus meronta.
"Kau berani menghajarku? Kita coba!"
Irna panik ketika Rama langsung membopongnya tubuhnya. Rama berjalan menuju kamar dan menutup pintu dengan sekali tendangan.
"Rammm!" Irna panik.
Wajah panik Irna membuat Rama semakin tertarik. Ia ingin membuat wanita yang bertahun-tahun menyiksa jiwanya ikut merasakan sakit yang sama.
"Lepasin!" teriak Irna.
Bukkk
Rama melempar tubuh Irna tepat ke sofa. Kemudian ia berjongkok di depan wanita tersebut.
__ADS_1
"Kau bilang akan menghajarku? Lakukan sekarang!"
Irna menggeleng kepalanya keras.
"Stop, Ram! Aku mau keluar!" Irna mau bangkit. Tapi Rama menahannya.
"Enak sekali bicaramu, kamu pikir aku akan melepasmu dengan cuma-cuma?"
Irna menelan ludah, ia mencari sesuatu untuk senjata sebagai pelindung diri. Tepat di sampingnya ada botol wine. Dengan cepat ia meraih benda tersebut. Lalu mengacungkan ke arah Rama.
"Hentikan, atau aku akan memukulmu!" ancam Irna dengan keringat yang sudah memenuhi dahinya.
"Lakukan ...!"
"Mundur! Aku tidak bercanda!" teriak Irna frustasi.
Setttt
Rama dengan cepat mengambil botol itu dari tangan Irna. Membuka penutupnya dan langsung meminumnya langsung tanpa gelas.
Irna sempat melirik jakun Rama yang naik turun. Dilihatnya pria itu yang kini menatapnya dengan dalam.
"Kau mau?"
Rama tersenyum, kemudian menengak wine lagi. Dengan gerakan cepat, ia menunduk. Mendekatkan wajahnya dan mencium Irna paksa.
Uhuk
Uhuk
Irna langsung terbatuk akibat aksi paksa Rama. Ia mendorong dada Rama dengan kedua tangannya.
"Pria gila! Menyingkir dariku!" Irna yang masih terbatuk karena Rama memberikan ciuman plus wine akhirnya bisa berdiri dan lolos dari jeratah Rama.
"Berani keluar dari kamar ini, aku jamin kau tidak bisa menemui Kendra!"
Irna yang sudah memegang handle pintu langsung berbalik. Ia melangkah mendekati Rama dan memukulnya.
"Kau ini mau apa! Mengapa membuatku muak! Kau yang mengusirku lalu sekarang menahanku! Kau mau apa sebenarnya!!!!" teriak Irna. Ia kemudian berjongkok dan mengusap wajahnya. Irna terisak, baginya tidak ada kamus menangis karena pria. Tapi, bila soal anak. Irna tidak sanggup harus dipisah dari anak-anaknya.
Rama tertegun, ini kali pertama membuat Irna menangis.
"Aku mau kamu!" ucapannya sembari menelan ludah.
__ADS_1
Entah dari mana kata-kata itu berasal. Rama pun tidak tahu dari mana sumbernya. Dari bagian otak sebelah manapun ia tak tahu. Yang pasti, kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Irna mengusap wajahnya, kemudian mendongak. Mimpi apa ia semalam, mendengar pria batu itu ingin dirinya. Bukankan selama ini Rama mendorongnya sangat jauh?
"Sudahlah, Ram. Aku tidak mau main-main denganmu. Mari hidup dengan tenang tanpa saling mengusik."
Suasana hening sesaat.
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Itu urusanmu!" ketus Irna.
Irna pun berdiri, kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Apa harus memohon agar kamu tetap tinggal?"
Irna tersenyum tipis mendengar Rama yang ia pikir sudah mabuk. Ia tetap melangkah dan tidak peduli. Hatinya sudah mati untuk pria seperti Rama.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" bisik Rama yang sudah memeluk Irna dari belakang.
Irna memutar kedua bola matanya ketika merasakan degup jantung Rama yang kencang saat meluknya dari belakang.
"Kamu mabuk!" Irna mencoba melepaskan lengan Rama yang melingkar di pingangnya.
"Aku sadar ... sangat-sangat sadar!" Rama memutar tubuh Irna. Kini keduanya dalam posisi saling menatap. Ada getar rindu yang menyeruak di antara tatapan mata keduanya.
Terbawa suasana, Rama perlahan menurunkan wajah. Dan Irna yang semula terlihat panik karena Rama sepertinya akan menciumnya lagi, malah menutup mata secara suka rela.
Cup
Sebuah kecupan singkat berhasil mendarat, Rama sedang mencoba, apa Irna menolak atau mau lagi. Ketika melihat Irna menutup matanya, Rama jadi semakin bergejolak. Napasnya memburu, begitu pula dengan degup jantungnya.
"Jangan!"
Bisik Irna yang sudah dibuat meremang. Rama lantas meletakkan ujung telunjuk ke bibir Irna, agar wanita itu tidak bersuara. Cukup diam dan menikati alurnya.
Irna membuka mata, ia mencengkram rambut Rama. Ia menggeleng keras, seolah melarang apa yang Rama lakukan.
"Tenanglah, akan aku buat kau menjadi milikku selamanya."
"Jangan, Rammm ...!" suara Irna lama-lama mengilang bersama dengan sesapan yang dilakukan Rama. Rama membekap mulut wanitanya dengan paksa. Biar tidak berisik. Bikin konsentarsi ambyar.
"Apa yang dilakukan Rama selama ini? Mengapa ia menjadi lebih perkasa?" batin Irna menahan perih. Bersambung.
__ADS_1