
Suamiku Pria Tulen #96
Oleh Sept
Rate 18 +
Pulang kerja, seperti rencana semula. Ayu menahan Kendra utuk pulang duluan. Dengan paksa ia menyita kunci mobil milik Kendra. Saat pria itu mau kabur.
"Mau kabur ke mana! Ckckckck!"
Ayu melirik tajam ke arah Kendra. Pria itu hanya garuk-garuk kemudian dengan terpaksa menghubungi apartment.
"Bik ...?" Yang mengangkat telpon adalah asisten tumah tangganya.
"Iya, Tuan."
"Saya sudah pesankankan makanan. Bibi nanti siapkan ya. Ada teman-teman kantor saya mau main ke rumah. Kira-kira ..."
Kendra melirik ke kanan, ia menghitung sekilas. Berapa saja yang akan ikut makan-makan di rumahnya.
"Sepuluh orang ya, Bik!" sambungnya di telpon.
"Baik, Tuan."
"Oh ya, Dita sedang apa?" tanya Ken penasaran.
__ADS_1
"Apa Bibi panggil, Tuan?" tawar Bibi.
"Tidak ... nggak usah, Bik. Biarkan saja."
Bibi mangut-mangut sambil mendekatkan telpon ke telinganya.
"Ya sudah, itu saja. Terima kasih, Bik!"
"Iya, Tuan."
Tut Tut Tut
Telpon keduanya pun terputus.
"Ken, nebeng mobil kamu ya?" Beberapa di antara mereka ikut gabung bersama dengan Kendra dalam satu mobil. Di antaranya lagi naik mobil bu Ayu dan mobil mereka masing-masing.
Apartment mewah di tengah kota. Basement tempat parkir khusus.
"Ish ... Gila lo Ken. Ngapain kredit apartment di tempat seperti ini. Njerat leher lo sendiri. Aku sih kalau gini kaga bisa tidur. Mikirin cicilan apartment," celetuk teman kerja Kendra yang duduk di bangku depan.
Ken hanya tersenyum tipis, ia iyain aja. Tidak akan bilang kalau apartment itu beli cash. Udah hak milik pribadi.
"Jangan boros-boros, Ken! Ekonomi makin sulit. Belom lagi kalau nanti punya anak. Ish ... hati-hati deh. Pengantin baru biasanya godaanya materi!" cetus kasan Kendra yang lain.
Ken semakin mengatuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Entah mengapa, bukannya marah atau tersinggung. Ken justru senang mendengar celotehan teman-teman kerjanya itu. Mereka berteman tanpa melihat status.
__ADS_1
Mungkin baru kali ini, di perusahaan kecil itu. Ken mendapat kawan yang tulus. Tanpa pamrih dan tentunya tidak membuatnya terjerumus dalam lembah hitam. Tidak minum dan obat-obatan. Sangat jauh berbeda dengan teman sebelumnya.
"Elo oper kredit dari seleb apa pejabat? Gila ... keren banget ini viewnya!" celetuk temen Ken yang cewek. Paling muda dan yang paling berisik.
Baru masuk, ia langsung mengarah ke balkon. Menikmati hembusan angin malam yang memainkan anak rambutnya.
Ken hanya menjawab dengan senyum tipis. Kemudian berjalan masuk dengan ragu. Sementara itu, bibi sedang sibuk di dapur. Menyiapkan ini dan itu.
"Kalian duduk dulu, aku ke sana bentar."
Ken lantas meninggalkan para tamunya di ruang tamu. Ia berjalan dengan gelisah menuju dapur.
"Bik ... Dita tahu tidak, ada temen-temen mau ke sini?"
Bibi menatap heran, kok tuan mudanya itu tidak mengabari istrinya sendiri. Just info, bibi nggak tahu. Bahkan nomor ponsel Dita pun Kendra tidak punya. Dita sudah menganti nomornya berbulan-bulan yang lalu.
"Tadi, pas pelayan mengantar semua makanan. Non Dita kebetulan tanya. Sepertinya sih tahu, Tuan. Soalnya Bibi bilang nanti malam ada tamu kantor Tuan, makan malam di rumah. Gitu, Tuan."
"Oh ... makasi, Bik."
Kendra merasa lega, tapi juga harap-harap cemas. Sejak tadi ia melirik pintu kamar Dita. Pintu itu seperti tembok besi. Selalu tertutup rapat untuknya. Memisahkan jarak mereka berdua. Satu atap, tapi hidup di ruang yang berbeda.
KLEK
Bersambung.
__ADS_1