Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Aku Normal


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #30


Oleh Sept


Rate 18+


Seperti disambar petir, Nur tidak percaya pada matanya sendiri. Setelah tersadar, buru-buru ia meraih ponsel yang sudah mati itu. Layarnya retak, karena jatuh. Dengan gelisah, Nur menyalakan ponselnya lagi. Tapi sinyalnya malah muncul tanda x. Sepertinya ponselnya sudah rusak parah.


Setelah meletakkan benda pipih itu di atas meja, Nur lalu mondar-mandir. Berjalan seperti setrikaan. Wajahnya memikirkan sesuatu, apa benar? Itu pasti editan. Seperti jaman sekarang, banyak sekali hoax di mana-mana. Nur mencoba berpikir positive. Tidak mungkin Arya seperti itu.


Tok Tok Tok


"Non, ada telpon."


Bibi mengetuk pintu, wanita itu membawa telpon. Katanya dari Arya, karena pria itu khawatir ponsel Nur tidak bisa dihubungi.


"Terima kasih, Bi," ucap Nur lalu menutup pintu.


Nur menghirup napas dalam-dalam, kemudian berdehem.


"Hallo," ucapnya menyapa Arya di sambungan telpon.


"Ada apa dengan ponselmu? Kenapa nomornya tidak aktif?"


"Ah ... itu ... Rusak, Mas. Tadi jatuh."


"Jatuh? Kamu tadi jatuh?" tanya Arya dengan nada panik.


"Bukan ... bukan. Bukan Nur, HPnya yang jatuh."


"Apa tidak bisa dinyalakan kembali?"


"Tadi sudah dicoba. Nggak bisa, Mas."


"Ya sudah, nanti aku belikan pulang dari kantor."


"Nggak ... nggak usah. Mungkin bisa dibawa ke konter untuk diperbaiki."


"Sudah rusak, Nur. Ya sudah, istirahatlah. Nanti aku belikan ponsel baru."


Karena asistennya masuk ke ruangan, Arya pun mematikan ponselnya.


"Aku kerja dulu, baik-baik di rumah."


"Hem." Nur masih dilema, setelah apa yang ia lihat di ponsel barusan. Ia jadi merasa aneh saat bicara pada Arya.

__ADS_1


Sementara itu, Rumi asisten pribadi Arya, datang membawa map coklat. Gadis berpenampilan menarik itu melangkah dengan anggun.


"Pak Arya, ini berkas yang harus Pak Arya periksa."


"Hem ... sudah! Letakkan di sana."


Rumi mengangguk, kemudian kembali keluar.


Setelah asistennya pergi, Arya meraih berkas itu. Melihatnya satu persatu, baru juga beberapa menit. Tapi, perhatian Arya teralihkan oleh pesan masuk di ponselnya.


Nomor asing, nomor yang tidak dikenal. Mulanya ia mau menghapus saja sebelum mendownloadnya. Tapi, saat akan menekan delete. Sebuah pesan kembali masuk.


[Aku sudah mengirimnya kepada istrimu, Kita lihat nanti. Apa yang terjadi nanti]


Arya meremas ponsel miliknya, rahangnya mengeras. Sorot matanya menajam penuh amarah yang siap meledek.


Tidak peduli dengan urusan perusahaan, Arya langsung meraih kunci mobil di dalam laci.


"Pak, sebentar lagi ada klien yang datang ... Pak. Pak Arya mau ke Mana? Aduh!"


Rumi setengah berlari mengejar Arya yang melangkah dengan cepat. Begitu Arya masuk ke dalam lift, Rumi pun berbalik. Percuma, sang bos tidak terkejar lagi. Dan sepertinya ada masalah serius di luar urusan kantor.


***


Arya mengendara dengan kecepatan penuh. Ia ingin buru-buru sampai di rumah sang mama. Nur tidak boleh salah paham, tapi tunggu. Siapa yang tidak akan salah paham bila melihat video itu? Arya langsung lemas.


"Kok sudah pulang?" sapa mama yang sedang merangkai bunga di ruang keluarga.


"Iya, Ma. Nur ada di kamar kan?"


"Ada, barusan habis makan siang sama Mama."


"Oh ... Arya ke atas dulu, Ma."


Tap tap tap


Arya berlari menaiki tangga. Dan mama menatap aneh. Ada apa dengan putranya, mengapa buru-buru sekali.


Tok Tok Tok


"Nur ... buka pintunya!"


Nur yang sedari tadi termenung di kamarnya, lantas menoleh ke arah pintu yang diketuk itu. Suara Arya membuat kepalanya mulai berpikir. Ia teringat adegan di mana suaminya bersama pria lain. Di atas ranjang dan ... ah. Nur menggeleng keras. Ia bingung harus bagaimana. Percaya pada video itu apa menanyakan pada Arya langsung.


"Nur bukak pintunya!"

__ADS_1


Tidak punya pilihan, akhirnya Nur berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu itu dengan perasaan yang berkecamuk.


KLEK


Saat Nur membuka pintu, Arya langsung masuk dan menguncinya dari dalam.


"Di mana ponselmu?"


Nur melirik ke meja.


Arya langsung melangkah, dan meraih benda pipih itu. Ia mencoba menyalakannya, tapi tidak bisa. Ia juga melihat layarnya sudah retak. Arya pikir Nur sengaja menghancurkan ponsel yang ia belikan itu.


"Apa ini benar-benar jatuh?" tanya Arya curiga.


Nur mengangguk.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?"


Nur menggeleng.


"Katakan ... katakan apa yang ingin kamu tanyakan." Arya seolah tahu arti dari tatapan Nur yang tertuju padanya.


"Itu tidak benar, kan?"


Arya memejamkan mata sejenak, kemudian mengangguk.


Anggukan Arya membuat Nur beringsut, ia mundur. Perlahan menjauh dari Arya. Ia tidak menyangka, suaminya seperti itu.


"Aku bisa jelaskan, Nur." Arya akan meraih lengan Nur, tapi wanita itu malah semakin mundur. Semakin Arya mendekat, semakin Nur menjaga jarak.


Arya mengusap wajahnya, "Aku bisa ceritakan semuanya. Kamu jangan menghindar begini!"


Nur yang masih shock karena suaminya penyuka terong, akhirnya memilih meninggalkan kamar itu. Ia masih belum bisa mencerna, apa sesungguhnya yang terjadi. Mana mungkin suaminya yang gagah, tampan dan perkasa itu menyukai sesama? Ini pasti salah. Pasti ada kesalahan.


Klek klek klek


Nur memutar-mutar gagang pintu, tapi tidak bisa terbuka. Itu karena Arya sengaja menguncinya.


"Nur! Jangan begini Nur ...!"


"Jangan dekat-dekat Nur, Mas!" Nur menepis tangan Arya yang sudah menyentuh pundaknya.


"Buka pintunya sekarang, Nur mau keluar."


"Tidak ada yang boleh keluar dari kamar ini. Kamu harus dengar penjelasan dariku."

__ADS_1


"Penjelasan apa lagi? Penjelasan bahwa Mas Arya menyukai pria?" sentak Nur marah. Hatika sakit karena ingat rekaman itu. Sebuah rekaman tentang Arya dengan seorang pria.


"Dia menjebakku! Aku berani sumpah! Aku menyukai wanita bukan pria!" ucap Arya setengah berteriak. Bersambung.


__ADS_2