Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
BANGKIT


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #40


Oleh Sept


Rate 18+


"Aku tidak peduli, untuk saat ini aku juga mau egois," batin Nur saat ia menempelkan bibirnya.


Ada getaran yang menyulut jiwa keduannya saat tidak ada lagi jarak di antara mereka. Nur menyentuh Arya tepat di hati pria tersebut. Membuat Arya luluh dan menyerah. Kali ini, ia membiarkan wanita itu melakukan inginnya.


Benteng Arya sudah rapuh, tak mampu lagi menahan sejumlah rindu yang terlannjur mengebu. Malam ini, ia akan membawa Nur masuk dalam dekapan hangat dan bersiap mandi keringat.


"Kamu mau mati bersamaku? Itu konyol!" bisik Arya sambil memainkan Nur. Mengigit daun telinganya, gemas. Rasanya ia sangat merindukan momen seperti ini.


"Tapi .... sekarang mas Arya sehat, siapa bilang akan mati. Bila sakit maka berobat!" cibir Nur yang kesal, di saat lagi hangat-hangatnya, masih saja membahas kematian. Masalah itu harusnya dipikir belakang, prinsip Nur Azizah.


Arya tersenyum masam, sepertinya Nur memang beda. Tidak seperti wanita-wanita yang ia kenal. Untuk menghargai keberanian Nur, malam ini ia akan memberikan dirinya sepenuhnya untuk Nur. Sakit ya berobat! Arya lama-lama memakai prinsip Nur Azizah tersebut.


***


Di atas ranjang, sepasang kaki menyembul dari balik selimut. Nur memakai lengan Arya sebagai bantal, dan memeluk tubuh suaminya. Aromanya membuat Nur betah dekat-dekat dengan pria itu. Rasanya kangen sekali, karena lama Arya tidak memeluknya seperti saat ini.


Sedangkan Arya, matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ada kecemasan tersendiri dalam hati pria itu. Takut bila Nur jadi positive seperti dirinya.


"Mas ..."


"Mas Arya!" panggil Nur yang merasa Arya diam saja.


"Hemm," sahut Arya. Ia kemudian mengusap rambut Nur yang ada di bahunya.


"Apa Mas Arya akan tetap pindah?"


"Menurutmu?"


"Awas saja!"


Arya tersenyum tipis. Melihat Arya tersenyum, Nur bergeser. Ia kemudian duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ditatapnya Arya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Tidak, tidak akan," ucap Arya kemudian.


Seketika senyum Nur langsung merekah seperti bunga yang baru mekar. Nur lalu melempar tubuhnya ke dalam pelukan Arya.


"Awas Mas Arya macam-macam!" ancamnya dengan nada bercanda. Jari-jari Nur menjalar di dada yang bidang tersebut.


"Jangan! Geli!" pekik Arya ketika tangan Nur yang mulai macam-macam.


Nur pun tersenyum dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduannya. Baru berbuka dan sepertinya mau nambah.


Sudah lama ranjang itu tidak digoyang, dan malam ini kamar mereka harus mengalami banyak goncangan untuk berkali-kali.


***


Matahari nampak malu-malu melihat Nur dan Arya yang masih tertidur. Salwa mau membangunkan keduannya, tapi enggan. Tumben bosnya itu terlambat bangun. Untung saja Cua sudah tidak rewel, setelah dimandikan dan ia suapi makan pagi, kini balita itu asik bermain boneka.


Apa Cua mengerti? Karena anak itu pintar dan tidak rewel sama sekali. Padahal dari kemarin, ada saja yang membuatnya menangis.


"Apa aku ketuk pintunya?" batin Salwa yang masih berdiri di depan kamar utama.


"Ah ... sudahlah!" Akhirnya Salwa memilih bermain dan menemani Cua.


Nur mengusap matanya, "Jam berapa ini?"


Nur langsung membuka matanya lebar-lebar saat menyadari sudah kesiangan. Padahal ada kuliah pagi ini.


"Jam berapa?" tanya Arya yang juga bangun karena Nur melepas lengannya yang semula memeluk tubuh Nur.


"Jam enam."


"Oh ... masih pagi!"


Srekkkk


Arya menarik lagi tubuh Nur ke atas ranjang, memeluknya. Seolah tidak mau lepas.


"Nur telat, Mas."

__ADS_1


"Bolos aja!" jawab Arya singkat. Ia mengusap wajahnya ke punggung Nur dengan gemas.


"Ah ... iya."


****


Tok Tok Tok


"Non ... Non!"


Lama-lama Salwa cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi, mengapa dua bosnya tidak keluar kamar sejak tadi.


KLEK


Nur membuka pintu, masih memakai handuk kimono. Dan dengan handuk kecil yang melilit di atas kepala.


Tidak sengaja, Salwa juga melihat Arya juga memakai handuk kimono yang senada.


Ah, Salwa jadi tidak enak sendiri. Suasana seperti ini seperti pertama kali mengetuk kamar pengantin baru pagi-pagi.


"Anu ... Salwa kira ada apa-apa, Cua sudah mandi dan makan ... Emmm ... Non tidak kuliah?" Salwa merasa canggung berdiri di sana. Tahu begini, ia tadi tidak mengetuk pintu itu.


Nur bersikap biasa, ia kemudian berjalan melewati Salwa. Ia mau menggendong Cua yang sedang asik bermain.


"Aku absent dulu, nggak ngampus hari ini," ucap Nur sambil tersenyum pada Salwa.


"Anak Mama ... sudah wanggi, uh ... harum sekali." Nur mencium pipi bakpo Cua. Kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.


Saat Nur ke kamarnya, Salwa pun merapikan mainan milik Cua.


Di dalam kamar, Arya yang sudah memakai pakaian casual, meraih Cua dari gendongan Nur.


"Ganti baju dulu, sini ... Cua ikut Papa!"


Setelah mendapat ciuman dari sang mama, kini Cua mendapat banyak kecupan dari papanya.


"Mas nggak ngantor?"

__ADS_1


Arya yang sedang memangku Cua, menatap ke arah Nur sambil menggeleng.


"Barusan aku telpon asistenku, aku sudah pesan ticket, nanti malam kita terbang ke Amerika!" Bersambung.


__ADS_2