
Suamiku Pria Tulen #107
Oleh Sept
Rate 18 +
Lea melihat sekilas siapa yang ada di dalam mobil.
"Tidak usah peduli denganku!" ujar Lea ketus.
Ia tetap berjalan meski pintu mobil sudah terbuka lebar untuknya. Padahal ini kesempatan emas, tidak tahu arah dan tujuan. Harusnya Lea bersyukur, bisa minta tolong pada Kevin. Tapi dasar Lea, hatinya masih panas setelah pertengkaran dengan papanya. Lea yang masih labil, memutuskan terus berjalan seorang diri tanpa arah.
"Terserah!" Kevin berdecak kesal. Pria itu lalu menarik pintunya dari dalam.
Brakkkk
Terlihat sekali, betapa jengkelnya pria tersebut dari wajahnya yang masam.
"Will! Jalan!" serunya kemudian pada sang sekretaris.
Willi pun patuh, ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan.
Tapi, Lea yang sudah melangkah beberapa meter, seketika langsung berbalik. Di depannya ada banyak anak punk yang berjalan ke arahnya. Terlihat sangar dan urakan, mendadak ia jadi merinding. Takut hal yang tidak-tidak akan kembali menimpa dirinya.
"Sialan!" Lea mendesis kesal.
Gadis itu pun langsung berlari dan mengejar mobil Kevin. Willi yang melihat dari kaca spion lantas menginjak pedal rem mendadak.
"WILLI!!!" teriak Kevin yang kaget karena mengerem mendadak.
Tok tok tok
"Bukak pintunya!!!"
Alea terlihat ngos-ngosan, dahinya dipenuhi keringat.
Klek
Kevin membuka pintu untuk gadis itu.
"Apa yang kau lakukan?" Kevin menatap heran pada mahluk di depannya itu. Diajak nggak mau. Begitu mobil sudah jalan malah main kejar-kejaran. Benar-benar gadis tidak ada kerjaan, pikir Kevin.
Bukkkk
Tanpa menjawab, Lea langsung duduk di jok belakang tepat di samping Kevin.
"Ada ... ada ... anak punk!" ucapnya terputus-putus.
Kasihan, Willi lantas mengulurkan sebotol air mineral pada Lea. Sedangkan Kevin, ia masih menatap dengan acuh. Ia kan memang kurang suka dengan gadis seperti Lea. Bukan kriterianya.
"Kau punya rasa takut juga rupanya!" sindir Kevin yang kala itu menatap jendela. Ia engan melihat Lea.
"Ish! Bagaimana kalau mereka menodai aku ... pegang-pegang ... dan ..!" Lea mendesis kesal. Tiba-tiba saja ia ingat kejadian malam itu. Saat Kevin menciumnya. Ish ... bisa-bisanya otaknya lari ke sana. Tidak mau meladeni Kevin, Lea memilih memalingkan tubuhnya. Menghadap ke arah jendela. Menikmati pemandangan kota di malam yang gelap.
"Kau kabur dari rumah?" tiba-tiba Kevin kembali bertanya, ia penasaran. Kenapa gadis seperti Lea kelayapan di tengah jalan.
"Bukan urusanmu!" jawab Lea dengan sangat ketus.
"Heiii ... kau sekarang naik mobil siapa?" tanya Kevin dengan kesal.
"Mas Willi, tolong berhenti di pertigaan jalan itu!" seru Lea. Lea menunjuk tempat di depan sana. Ia juga mana sudi satu atmosphere dengan Kevin. Menghirup satu oksigen yang sama hanya membuat kepalanya tambah pusing.
__ADS_1
"Kau yakin?" Kevin melirik remeh seakan tidak percaya.
Chitttt ...
Mobil akhirnya berhenti seperti yang Lea minta. Saat akan turun, Lea hanya mengamati sekeliling. Terlihat sepi dan gelap. Mau turun tapi takut. Tapi juga gengsi naik mobil Kevin.
"Turun ... enggak ... turun ... enggak. Nanti kalau ada preman, rampok, pembunuh ... astaga! Ngeri sekali!" batin Lea yang bergidik ngeri.
Kevin tersenyum tipis.
"Jalan!!!" perintah Kevin.
Lea langsung menatap wajah pria tersebut. Ia menelan ludah dan pura-pura bodohh seketika. Dari pada mati konyol di jalanan, Lea akan menepis harga dirinya malam ini.
***
Apartment Kevin.
"Tuan, saya permisi."
"Hem!" Kevin melambaikan tangan pada Willi yang pamit pulang. Sedangkan Lea, gadis itu duduk dengan canggung di ruang tamu.
"Besok aku antarkan pulang, sekarang istirahatlah. Tidur di sana!" Kevin menunjuk kamar tamu.
"Terima kasih!"
Setelah mengucapkan terima kasih, Lea bergegas masuk kamar tamu dan langsung menguncinya dari dalam.
Buuuukkkk
Lea merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk tersebut.
"Nyaman sekali ..."
***
Di tempat lain.
Kandungan Dita baru memasuki bulan ke 9 awal, tapi sejak pagi ia merasakan kontraksi palsu. Takut bila lahir lebih awal, Dita pun menelpon mamanya.
Malam itu Dita merasakan perutnya yang menegang, dan jaraknya cukup dekat. Cukup lama ia menelpon mamanya. Dan nyonya Bima bilang akan ke tempat Dita esok harinya. Tidak bisa tidur, Dita keluar kamar. Ia membangunkan bibi.
Tok tok tok
Bibi tak juga bangun. Malah terdengar langkah kaki dari arah kamar Kendra.
"Kenapa, Dit?"
Dita enggan mengadu pada Kendra, sebab sudah sebulan ini mereka bicara hanya mengenai hal penting saja. Apalagi Kendra sering pergi ke luar kota. Mereka jarang bertatap muka. Seperti orang asing saja.
Melihat Dita memegangi perutnya dan wajahnya pucat, Kendra pun memberanikan diri untuk menawarkan jasa.
"Katakan, ada yang bisa kubantu?"
Dita menggeleng, kemudian balik ke kamar. Saat akan jalan, tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Diiiiittt!"
Kendra meraih tubuh Dita dan memapahnya ke dalam kamar. Dengan perhatian, ia membuatkan teh hangat untuk Dita. Dilihatnya kaki Dita yang nampak bengkak.
"Jangan!"
__ADS_1
"Sudahlah ... aku tidak akan melewati batasku lagi!"
Kendra menarik kaki Dita lalu meletakkan di atas pangkuannya. Ia memijit kaki itu dengan lembut. Membuat Dita merasa nyaman.
Sesaat kemudian, Dita kembali merintihh kesakitan sambil memegangi perutnya lagi. Kendra sampai ikut panik, dilihatnya permukaan perut Dita sebagian ada yang menonjol.
"Dit ... itu kenapa?" tanya Kendra heran.
Dita mendesis, masih menahan sakit. "Sepertinya dia menendang terlalu kuat."
"Menendang? Dia berani menendangmu?"
Dasar Kendra, dia bahkan sampai tidak tahu tumbuh kembang si kecil. Bagaimana setiap hari si kecil sudah rajin menendang mamanya. Ini karena Dita selama ini mendirikan tembok besar antara mereka berdua. Jarak mereka sangat dekat, tapi jiwa keduanya terbentang tembok yang sangat besar.
Lagi-lagi Kendra excited, ketika dilihatnya perut Dita menonjol kembali. Dan Dita melihat ekpresi antusias ayah dari janinnya tersebut.
"Pasti sakit," komentar Kendra kemudian dengan wajah penyesalan. Ya, ini semua kan karena ulahnya.
"Tidak juga, aku menyukai moment seperti ini. Itu artinya dia sangat sehat."
"Benarkah?"
Dua orang itu terus saja bicara, tanpa sadar suasana mulai mencair antara mereka berdua. Dita menceritakan, kapan pertama kali si kecil dalam perutnya mulai melakukan tendangannya. Hingga tidak terasa, malam semakin larut. Dan Dita sudah menguap berkali-kali.
"Sepertinya kamu sudah mengantuk, tidurlah! Kalau ada apa-apa, telpon saja."
"Hemm!"
Kendra pun menata bantal agar Dita bisa berbaring dengan nyaman. Bila biasanya Dita selalu menghindar dari tatapan mata Kendra. Malam ini, ia terus saja mengamati pria tersebut. Kendra dan Kevin kan saudara. Tapi tidak ada mirip-miripnya. Dita tidak tahu, keduanya saudara beda ayah.
"Aku pergi dulu." Suara Kendra membangunkan lamunan Dita. Wanita itu pun hanya mengangguk.
"Aduh!"
Kendra yang belum pergi jauh, langsung mendekati ranjang. Begitu mendengar Dita kembali mengadu.
"Apa yang terjadi?"
Ternyata si kecil kembali berulah. Perut Dita nampak lancip. Terlihat ada bagian yang sangat menonjol.
"Astaga!! ... Ini gimana?" Kendra panik.
"Tidak apa-apa!" ucap Dita. Ia mengelus perutnya. Namun si kecil tetap saja pada posisi awal.
"Ssttt!" Bibir Dita terus saja mendesis. Sepertinya si kecil sedang merajuk.
Dengan penasaran, Kendra bertanya.
"Boleh aku menyentuhnya?"
Dita mendongak dengan spontan. Kemudian ia mengangguk pelan.
Mendapat ijin, Kendra langsung mengulurkan tangannya. Ia memegang perut Dita, Kendra bahkan bisa merasakan bagian perut yang terasa keras. Kemudian hilang, dan muncul lagi.
"Dia menendang!" seru Kendra seketika ketika merasa sensasi tendangan bocil.
Dita hanya diam, ia memperlihatkan raut wajah Kendra yang bahagia saat ia mengijinkanmu pria itu menyentuhku perutnya.
***
Esok harinya.
__ADS_1
Saat membuka mata, Kendra begitu terkejut. Mengapa ia terbangun di kamar Dita. Bersambung.