
Suamiku Pria Tulen #81
Oleh Sept
Rate 18+
"Kalau aku memang buron, terus kenapa? Apa kamu mau kabur dariku?" Rama menatapnya dengan wajah serius. Kini pria tersebut sedang menunggu reaksi Irna.
"Lihat dulu ... kejahatan apa yang sudah kamu lakukan." Irna salah tingkah, badannya juga sudah terasa lemas. Ia berharap, semoga Rama hanya mengertak seperti biasanya.
"Membunuh ... aku membunuh orang," jawab Rama dengan enteng. Sorot matanya fokus mengarah ke Irna.
"Bohong!" tukas Irna cepat. Ia tidak mau percaya kata-kata Rama, meskipun wajah Rama sepertinya sedang tidak bercanda. Irna memilih menggeleng dan tidak percaya.
"Tadi kau begitu ingin tahu, bukan?" Rama semakin merapat, ia mendesak Irna. Hingga membuat wanita itu dalam keadaan terpojok.
"Aku tidak mau mendengar cerita karanganmu lagi, Ram!" Irna menepis tangan Rama. Ia berniat keluar dari ruang kerja yang penuh aura menegangkan itu.
Brakkk
Rama mengebrak daun pintu dengan telapak tangannya.
"Ini belum selesai, masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu." Rama menyalak marah pada Irna. Salah sendiri, sudah dilarang masih saja ditrabas. Irna bagai mengali kubur sendiri.
__ADS_1
"Cukup, Ram. Ken pasti sudah menunggu."
Irna terus menghindar, barangkali ia takut menghadapi kenyataan. Bahwa Rama memang mengatakan hal yang sesunggunya.
"Jangan berkelit, ikut denganku!"
Rama menarik paksa pergelangan tangan Irna. Ia membawa istrinya itu ke dekat sebuah lukisan setinggi badan. Sekali tekan, sebuah pintu rahasia terbuka. Mereka yang tidak tahu apa-apa pasti tidak mengetahui pintu yang tersembunyi di dalam sana.
Klek
Rama menekan saklar dan menyalakan lampu, ia membawa Irna masuk semakin ke dalam.
"Ram ... aku mau keluar!"
"Terlambat!"
"Ramm ... jangan seperti ini. Aku sangat takut." Irna menatap sekeliling. Situasi di sana membuatnya jadi gelisah. Jangan-jangan Rama akan membunhnya juga di dalam sana. Belum apa-apa, Irna suka ngeri.
"Aku kira, kau wanita pemberani. Selama ini bukannya kau tidak takut apapun."
"Ram! Hentikan. Kau benar-benar membuatku takut."
Rama seolah tidak peduli dengan permohona istrinya. Ia terus membawa Irna bersavari ria ke dalam ruang rahasia miliknya. Cahaya remang-remang dan hawa dingin, menambah aroma ketakutan di wajah Irna.
__ADS_1
"Lihat ini semua!" Rama menyuruh Irna memperhatikan botol-botol kecil di atas meja.
Mata Irna malah tertuju pada sebuah kerumunan tikus putih yang mencicit ketakutan di dalam sebuah wadah transparan.
"Ram ... untuk apa tikus-tikus itu?" Dasar Irna yang terlalu penasaran, ia selalu saja bertanya.
Rama pun berjalan. Mengambil sebuah botol kecil di atas meja. Kemudian meneteskan beberapa cairan ke dalam minuman tikus yang ada dalam wadah.
Hitungan detik, seekor tikus langsung mengeluarkan busa pada mulutnya. Hal itu langsung membuat Irna ketakutan.
Rama menyeringai, kemudian menatap Irna dengan senyum puas.
"Kau sudah gila, Ram!" ujar Irna yang sudah pucat. Ia mundur, melangkah semakin menjauh dari pria psikopat tersebut.
"Kenapa kau kelihatan takut? Aku hanya membunuh seekor mahluk sampah!" cetus Rama tanpa rasa bersalah.
"Ada yang salah dengan otakmu!" umpat Irna di tengah ketakutan yang ia rasa.
Rama hanya melirik Irna sekilas. Kemudian berjalan lagi ke arah meja. Ia mengambil botol berisi racun sekali lagi. Lalu menghampiri Irna.
"Apa yang kau lakukan! Jangan mendekat."
Irna panik, ia mencoba berlari. Tapi malah terjatuh karena kakinya tersandung sesuatu.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" teriak Irna ketakutan saat Rama berjalan semakin dekat ke arahnya. Bersambung.