Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
SAH


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #110


Oleh Sept


Rate 18 +


Sudah jatuh tertimpa tangga.


Kevin terjebak, mau dijelaskan dengan cara apapun semua tidak ada yang percaya. Bila ia menolak perintah Arya, artinya ia lepas tanggung jawab.


***


"Nggak mau, ngapain Lea menikahi pria itu!" Di dalam mobil, Lea terus merajuk pada mamanya. Bisa-bisanya ia disuruh menikah. Lea masih muda, ia mau bebas tanpa harus pusing-pusing mengurus rumah tangga.


"Pa ... Lea benar, dia masih terlalu muda." Nur membela Alea. Ia juga belum siap melepas anak gadisnya itu untuk meninggalkan rumah dan menikah. Apalagi Nur belum tahu sosok dan seluk beluk calon suami Lea. Ia tidak mau membeli kucing dalam karung.


"Kalian jangan membuat orang naik darah!"


Kedua orang itu langsung diam, ketika Arya menatap sambil matanya mau keluar.


"Ma ...!" Lea merajuk, ia takut disuruh menikah.


Nur memijit pelipisnya. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Mengurus Lea tidak semudah mengurus anak mereka yang lain. Lea benar-benar menguras tenaga dan pikiran.


Kediaman Pramudya.


Turun dari mobil Lea langsung mengikuti papanya.


"Pa ... Lea nggak mau nikah."


Arya tidak peduli, ia terus melangkah. Seolah tidak mendengar rengekan putrinya. Arya kini sedang jengkel pada anak gadisnya tersebut. Sudah tidak tahu cara apa lagi untuk mendisiplinkan sang putri. Arya pun memutuskan segera menikahkan putrinya itu.


***


Apartment Kevin.


Pria itu duduk sembari mengusap wajahnya dengan perasaan yang berat, Kevin pusing dengan masalah demi masalah yang datang silih berganti.


Ditatapnya berkas yang akan ia serahkan pada orang tua Lea. Kemudian ia meraih ponselnya.


Dengan ragu Kevin menekan nomor ponsel sang mama.


Tuttt ... tuttt....


"Vin? Kevin ...?" Terdengar suara Irna di ujung telpon. Irna tidak menyangka, Kevin akan menghubungi dirinya. Apa putranya itu sudah memaafkan mereka? batin Irna.


"Ma."


"Iya, Sayang. Kamu sehat kan, Vin?"


"Hem ...!"


Meski masih marah, nyatanya Kevin rindu juga dengan suara mamanya.


"Sudah makan?"


"Hemm."


"Mama boleh mampir ke sana?"


"Hemm ..."


"Vin ..."


Kevin menjatuhkan ponselnya, dadanya tiba-tiba sesak.


"Vin ... Kevin? Kamu dengar Mama, kan?"


"Hem."


"Boleh Mama ke sana?"


"Ya! Sudah Ma, Kevin tutup telponnya."


Tut Tut Tut


Setelah telpon terputus, Irna memeluk ponselnya. Ia menutup mulutnya, wanita itu sedang merindukan putranya. Dan Irna hanya bisa menangis, tangis sedih juga bahagia. Malam itu juga, ia meminta sopir untuk mengantar ke apartment Kevin.


"Mau ke mana?" Rama menatap aneh karena Irna sudah dandan rapi. Tidak mungkin mau arisan kalau malam-malam.


"Tempat Kevin, Pa."


"Untuk apa, jangan melukai dirimu sendiri. Kevin masih marah pada Kita."


"Tadi dia telpon."


Rama langsung terdiam dan mengangguk.


"Hati-hati di jalan."


Setelah bicara pada Rama sebentar, Irna bergegas meninggalkan mansion mewah tersebut menuju tempat tinggal Kevin.

__ADS_1


***


Sudah lama tidak bertemu, Irna menjadi sangat rindu. Tidak sabar karena Kevin lama membuka pintu, Irna terus saja mengetuk pintu apartment tersebut.


"Vin ... ini Mama!" teriaknya.


KLEK


Begitu pintu terbuka, wanita paruh baya tersebut langsung menarik Kevin dalam pelukannya.


"Maafin Mama, Vin. Maafin Mama."


Kevin menepuk punggung mamanya. Mau bagaimana lagi. Sepertinya ia harus melupakan Dita selama-lamanya.


***


"Mengapa mendadak sekali?" tanya Irna. Ia terkejut saat Kevin berkata besok akan menikah.


"Dia tidak hamil, kan?" Irna langsung lemas.


Kevin menggeleng, lalu tersenyum kecut. Dia bukan pria brengsek.


"Syukurlah."


Irna lega, ia yakin Kevin pasti tidak mungkin melakukan hal itu.


"Mama datang, kan?"


"Pasti, Mama pasti datang."


"Makasi, Ma."


Meski bukan pernikahan yang ia harapkan, setidaknya Kevin juga mau. Ada salah satu anggota keluarga yang mendampingi.


***


Hari H


Ini bukan pernikahan megah seperti pernikahan keluarga konglomerat pada umumnya. Hanya pernikahan sederhana dengan tamu terbatas.


Cua datang dengan suaminya, Simi dan Sima. Begitu tiba ia langsung mencari sang pengantin.


"Lea, jujur sama Mbak. Kamu hamil?" tanya Cua saat keduanya ada di dalam kamar pengantin.


"Bagaimana bisa hamil? Begituan saja Lea nggak pernah."


"Terus kenapa mendadak nikah kalau nggak hamil?"


"Tanya papa!" jawab Lea dengan putus asa. Bagi Lea ini adalah akhir dari hidupnya. Lea sudah game over.


"Pacar? Bagaimana mungkin pria seperti balok es itu pacar Lea?"


"Lea! Bicara yang serius. Mbak tanya betul-betul sama kamu. Ini pernikahan, bukan mainan."


Lea hanya diam. Ia tahu ini bukan mainan, tapi hukuman. Hukuman dari sang papa.


"Lea!" Kenan ikut masuk.


"Selamat ya, akhirnya kamu nikah juga. Ini hadiah dari Mas." Kenan menyerahkan amplop kecil.


"Apa ini?" Lea penasaran. Ia langsung membukannya saat itu juga.


"Wahhh ... makasih Mas!" Mata Lea berbinar-binar. Ia sampai lupa dengan kekalutan yang sempat melanda hatinya. Kartu hitam tanpa batas itu membuat mood Lea langsung membaik.


Cua sampai heran, tadi adiknya terlihat sedih sekarang kok jadi sumringah.


***


Kevin sedang menunggu keluarganya di apartment. Mamanya bilang sedang dalam perjalanan. Rencananya, mereka akan berangkat bersama.


Beberapa saat kemudian, Irna muncul bersama Rama. Kevin lega, ia kira mamanya tidak datang.


"Ayo, Vin. Nanti telat."


"Nggak minum dulu, Ma?"


"Nggak usah."


Ketika hubungan Kevin dan sang mama mulai mencair. Lain halnya dengan Rama. Sejak tadi Kevin mendiamkan ayah tirinya tersebut. Hanya menyapa sekedarnya, tanpa banyak bicara.


***


Kediaman Arya Pramudya.


Dari luar, tidak terlihat bahwa di rumah itu sedang diadakan sebuah acara pernikahan. Arya memang sengaja tidak mengelar acara yang wah. Ini hukuman untuk Lea, bukan acara untuk berpesta pora.


Matahari sudah mulai meninggi, ketika mobil Kevin sampai, pria itu masuk kediaman Arya bersama kedua orang tuanya. Tanpa Kendra dan Dita. Karena Kevin masih menganggap adiknya seperti musuh.


Saat mereka masuk, penghulu sudah menunggu. Kevin pun langsung duduk di tempat yang sudah dipersiapkan.


Sedangkan Rama, ia nampak terkejut ketika melihat sosok pria yang tidak asing. Meski bertambah tua, Rama masih hafal betul dengan pria yang sempat membuatnya terobsesi tersebut.

__ADS_1


Tidak ingin mengacaukan acara Kevin, Rama bersikap sangat senatural mungkin. Pasti mereka lupa, karena banyak perubahan seiring bertambahnya usia.


Karena semua sudah siap, acara pun dimulai.


"Saya terima, nikah dan kawinnya Alea Pramudya binti Arya Pramudya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


SAH


SAH


SAH


"Ya ampun!" pekik Lea dalam hati. Sejak tadi ia fokus memikirkan black card hadiah dari sang kakak, sampai tidak memperhatikan bahwa ia kini sudah resmi jadi istri seorang Kevin, pria paling angkuh yang pernah ia temui.


"Cium tangannya!" senggol Cua sambil berbisik pada Lea.


"Cium? Ngapain nyium tangan orang ini?" batin Lea menolak.


"Cepetan!" gerutu Cua yang tidak sabara.


Alhasil, Lea menarik tangan Kevin dan menciumnya di depan segelintir orang.


Kevin pun merasa risih, setelah itu ia langsung menarik tangannya.


Akhirnya acara pun selesai juga, mereka makan bersama sambil berbincang santai. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Arya mengajukan pertanyaan.


"Maaf ... apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Arya penasaran, ia merasa familiar dengan sosok Irna dan suaminya.


"Benarkah?" tanya Irna balik. Mereka dulu tetanggaan hanya sebentar. Jadi Irna sedikit lupa. Sedangkan Rama, ingatannya sangat jelas, tapi ia memilih menutupinya.


Karena acara makan dan jamuan pun usai, Rama segera mengajak Irna balik. Tidak baik lama-lama di sana. Nanti kedoknya ketahuan. Sedangkan Kevin, ia tetap tinggal di sana.


***


"Aku tidur di sini, kamu di sana!" Lea menunjuk sofa.


Kevin tidak peduli, ini adalah hari yang melelahkan, ia mau segera tidur.


Bukkkk


Ia melempar tubuhnya ke tengah ranjang.


"Heiii ... ini wilayahku!" protes Lea.


"Jangan berisik. Aku capek."


"Sanaaa!" Lea menarik lengan Kevin. Ia mau mengusir pria itu dari singgah sananya.


"Lea! Aku benar-benar lelah. Bisakah kamu tidak berisik kali ini saja?"


"Berisik katamu? Ini kamarku!!!"


"Kita sudah menikah, ini juga kamarku!"


"Mana bisa begitu. Pindah!"


"Pindah sendiri!" Kevin langsung meraih guling dan menutup mata. Tidak peduli pada Lea.


"Astagaaa!" Lea mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


***


Pagi hari.


Kevin bangun dengan segar bugar, malam pengantin berjalan aman. Tanpa apapun yang terjadi.


"Hei ... Lea ... bangun!"


Lea mengosok mata pandanya. Semalam ia tidak bisa tidur karena tidak terbiasa berbagi ranjang dengan pria.


"Bersiap-siaplah, aku mau kembali ke apartment."


"Pergilah!" ucap Lea enteng, kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


"Heiii ... bangun!"


"Berisik!"


"Gadis model apa ini?" cibir Kevin tak percaya.


Dua jam kemudian.


"Lea! Lea!"


"Aku mau tidur, ya ampun berisik sekali!" Lea pikir itu Kevin. Padahal suaminya sudah pergi beberapa waktu yang lalu.


"Bangun!" Nur langsung mendorong tubuh putrinya. Ia penasaran ingin melihat kain seprai. Begitu didapati kain itu masih suci bersih, hati Nur langsung menciut.


Nur sedih, ternyata putrinya sudah tidak perawan. Tidak ada bercak darah sedikitpun di sana. Nur pun kecewa. Bersambung.

__ADS_1


Hemmmm ... bercak darah dari mana mpok Nur? Belum diapa-apain eh!


Hehehe


__ADS_2