Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Memaafkan


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #91


Oleh Sept


Rate 18 +


Satu bulan sudah berlalu.


Cara Kevin memaafkan dan melupakan tindakan sang adik adalah menghajar Kendra habis-habisan. Baginya tidak ada maaf untuk pria seperti Kendra. Akan tetapi, setelah berhasil membuat Kendra berdarah-darah, nyatanya hatinya masih belum lega. Masih ada batu besar yang menganjal dalam hati pria tersebut.


Selang seminggu setelah insiden hari itu, Kevin benar-benar meninggalkan rumah. Ia pindah dan tidak berniat kembali. Paling juga datang sesekali untuk mengunjungi sang mama. Mama yang selalu membela Kendra, meski ia pun anaknya juga.


Medan.


Sejak keluar dari rumah sakit, Dita dan keluarga memutuskan pindah ke kampung asal sang papa. Di sana ia mencoba melupakan kejadian yang membuat hidupnya hancur.


Dita adalah gadis yang cerdas, mungkin rasa traumanya tidak akan hilang. Tapi, ia selalu rajin ke psikiater. Mencoba menjalani therapy untuk menyembuhkan luka jiwanya. Mama dan papanya pun sangat mendukung Dita. Mereka seperti beton besar, yang siap menahan bila Dita sulit menjalani semuanya.


Hidup harus terus berjalan, Dita pun membuka lembaran barunya. Gagal menikah mungkin adalah akhir kisah cintanya dengan Kevin. Tapi ia masih muda, Dita memutuskan tidak akan menikah. Hanya menuibukkan diri dalam pekerjaan barunya. Menjadi sekretaris di sebuah perusahaan kecil di kota Medan.


***


Setelah babak belur dan mendapat banyak jahitan di tubuhnya. Rama tidak jadi mengirim Kendra ke luar negri. Apalagi sepanjang waktu, istrinya terus saja menangis. Rama tidak tahan melihat kesedihan di mata Irna.


KLEK


Irna masuk ke dalam kamar putranya. Dilihatnya Kendra sedang berdiri di balkon kamarnya. Mentatap kosong pada pada pohon-pohon ada di depannya.


"Belum tidur? Ayo makan malam. Kamu sudah melewatkan sarapan dan makan siang. Apa kamu mau menyiksa Mama lagi?"


"Ken tidak lapar."


"Benarkah? Tubuh kurus kering begini ... Sepertinya kamu memang suka melihat mama sedih."


"Ma!"


"Baiklah, besok Mama juga tidak akan makan."


Irna meletakkan nampan berisi makan malam itu di atas meja. Kemudian keluar dari kamar tersebut.


Setelah mamanya keluar, Kendra menghela napas dalam-dalam. Mau tidak mau, akhirnya ia makan juga. Terasa pahit dan hambar. Luka fisiknya mungkin sudah pulih, tapi hatinya. Kendra juga merasa kecewa dengan tingkah polanya sendiri. Menghancurkan Dita, kakaknya dan semua orang. Mungkin ini adalah awal seorang Kendra belajar arti sebuah penyesalan. Setelah semua orang pergi tentunya. Atau penyesalan yang terlambat.


***


Enam bulan kemudian. Rumah sakit Ibu dan Anak Asyifa Medan.

__ADS_1


Ruang pemeriksaan.


Dita tengah berbaring ketika dokter memeriksa kandungannya. Ia sedang melakukan USG untuk yang kesekian kali. Dan biasanya dokter tidak menanyakan perihal suaminya. Tumben sekali kali kni dokter Annas tersebut bertanya.


"Janinnya sudah terbentuk sempurna, Alhamduliah komplit. Degup jantungnya normal dan sangat sehat. Jangan terlalu kecapekan ya, Mbak Dita. Oh ya, kenapa suaminya tidak pernah ikut? Maaf bila pertanyaan saya lancang."


Dokter Annas tersenyum ramah, ia hanya ingin bertanya. Karena beberapa kali USG Dita selalu datang sendirian.


"Sedang di luar negri, Dok!" jawab Dita dengan senyum palsu.


Baginya Kendra sudah mati, tapi tidak mungkin ia mengatakan pada orang kalau suaminya mati. Maka ia mengatakan saja, kalau suaminya sedang di luar negri.


Dita jadi tersenyum miris dalam hati. Bagaimana bila semua orang tahu di kota itu, bahwa ia hamil tanpa suami. Astaga! Cukup tetangga komplek rumahnya yang setiap hari bisik-bisik bikin telinganya gatal.


Karena perutnya yang semakin membesar, Dita tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang hamil. Dulu, papa dan mamanya bersikeras mengugurkan anak itu, saat ke rumah sakit untuk melakukan hal tersebut. Dita malah menangis sejadi-jadinya.


Ia tidak mau hidup dengan bayang-bayang sebagai seorang pembunuh. Meskipun benih itu belum bernyawa. Tidak tega, akhirnya mama dan papa mengikhlaskan keputusan Dita. Semua ada di tangan gadis itu, dan mama papanya akan mendukung. Sebab kebahagian dan kenyamanan Dita adalah yang utama.


"Bisakah kunjungan bulan berikutnya bawa serta suaminya, Mbak?" pertanyaan dari dokter membuat Dita tersentak dari lamunan.


"Em ... maaf. Memangnya kenapa, Dok?"


"Bukan apa-apa, hanya kebetulan bulan depan ada kelas parenting, bagus kan kalau kalian ikut. Nambah pengalaman, nanti sekalian dikasih materi yang bermanfaat. Ini anak pertama, kan?"


***


Di kota lain, Jakarta kota metropolitan.


Jika Kevin tetap dipertahankan Rama memegang tombak kekuasaan di perusahaan miliknya. Lain lagi dengan Kendra.


Kendra harus memulai dari bawah. Tentunya di perusahaan anak cabang yang lain dengan sang kakak. Lebih kecil dengan karyawan yang sedikit pula.


Anggap ini hukuman bagi Kendra dari papanya. Bahkan black card miliknya pun sudah ditarik. Mobil mewah pun berubah jadi mobil biasa yang pasaran.


Kendra hanya menikmati kemewahan di mansion papanya. Keluar dari sana, ia kembali menjadi karyawan kantor biasa.


Di kantor cabang ini pun, tidak ada yang tahu siapa Kendra. Mereka hanya tahu Kendra anak baru, karena Rama sengaja meminta semua merahasiakan identitas Kendra.


***


"Tolong poto kopi ini, dan belikan kopi. Low sugar!" titah atasan Kendra.


Kendra menatap nanar pada tumpukan kertas di depannya. Ia tersenyum miris, kemudian membawa semua kertas itu untuk digandakan.


"Astaga! Jangan katakan kau tidak tahu caranya memakai mesin ini? Mengapa tintanya buram begini?" Protes Ayu, atasan Kendra. Ia melempar kertas-kertas itu di atas meja. Tidak suka dengan hasil kerja Kendra.

__ADS_1


Hari yang buruk, dimarahi seperti itu Kendra hanya bisa menahan diri sambil mengepalkan tangan.


Selesai dimarahi, Kendra akan keluar. Dan ketika berbalik. Ayu malah mencegahnya.


"Besok ikut saya! Dua hari, kita ke Medan. Ada klien yang harus kita temui. Saya tidak mau telat. Jam enam kamu harus sudah ada di lobby!"


Kendra mendesis kesal, ingin menolak tapi tidak bisa betkutik.


Pagi harinya. Sesuai apa kata Ayu, sang manager tim. Kendra datang ke kantor pagi-pagi. Ia sempat merutuk tak karuan, kalau bukan karena mamanya. Ia sudah memilik kabur dari perusahaan itu. Pekerjaan yang benar-benar menyiksa.


"Bagus! Kamu datang lima menit lebih awal. Saya suka!" ucap Ayu yang sudang ada di sana dengan sebuah koper kecil di sebelahnya.


"Angkat ini!" tambah Ayu sembari melirik koper warna merah muda miliknya.


Kendra menghela napas dengan kesal, kemudian menaikkan semua barang ke dalam bagasi mobil.


Wushhhh


Kendra mengemudi dengan kencang menuju Bandara, ia ngebut karena jengkel dengan atasannya tersebut.


"Hey! Kau gila Ken! Aku masih belum menikah. Kurangi kecepatan!" sentak Ayu dengan panik.


Bibir Kendra mengembang. Kapan lagi membuat perhitungan dengan atasan yang cerewet itu.


Wushhhh


Kendra malah melaju dengan kecepatan penuh. Sampai di Bandara, Ayu langsung ke kamar kecil. Ia memuntahkan isi perutnya.


"Ken sialan!!!" makinya setelah membasuh muka.


***


Medan


"Perutmu besar gitu, biar aku saja yang menemui klien kita."


"Nggak apa-apa, Bu. Dita sudah biasa." Dita melempar senyum pada bos yang selama ini baik padanya.


"Ya sudah, minta antar sopir ya."


"Nggak, Bu. Dita bisa nyetir sendiri."


"Ah, nggak ah. Ngeri sekali aku lihat perutmu itu."


Dita malah terkekeh. Ia kemudian menyambar kunci mobil dan menuju Bandara. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2