
Suamiku Pria Tajir #19
Oleh Sept
Rate 18+
"Nur ... buka pintunya, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya teman baru Nur dengan wajah khawatir.
Klek
Wajah Nur yang basah, muncul dari balik pintu. Terlihat pucat dan layu.
"Kamu nggak enak badan?"
Nur menggeleng pelan, "Hanya masuk angin."
Setelah menjawab pertanyaan dari temannya, Nur pun berjalan mencari tempat duduk yang tidak jauh dari sana.
"Kamu di sini, aku belikan teh hangat."
"Nggak usah, terima kasih. Maaf merepotkan," tolak Nur dengan halus. Mereka baru mengenal, tapi Nur sudah menyusahkan. Gadis itu merasa tak enak hati.
"Udah ... kamu duduk di sini. Aku ke sana bentar."
Teman Nur yang bernama Mega itu pun meninggalkan Nur sendirian. Ia mau mencairkan sesuatu agar Nur agak mendingan.
Selepas Mega pergi, Nur memegangi perutnya.
"Kenapa jadi mual-mual begini?" gumamnya sambil memegangi perut.
Sambil menunggu Mega datang, Nur mengambil ponsel dari dalam tas. Sebuah smartphone keluaran terbaru yang dibelikan Arya. Awalnya ia menolak, karena Arya memaksa demi kelancaran komunikasi keduanya, mau tidak mau akhirnya Nur pun menurut pada suaminya itu.
Nur menatap layar ponselnya, ia melirik pojok kiri atas. Tanggal 24 september, tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. Sudah tanggal 24, tapi ia juga belum mendapat tamu bulanan. Sudah kelewat beberapa hari, wajahnya mulai cemas, Nur meremas benda pipih di tangannya.
Sembari mengigit bibirnya, ia menatap sekeliling. Mengamati teman sebayanya yang lalu lalang. Hatinya mulai menciut, semoga dugaannya keliru. Nur gelisah, kejadian malam itu kembali muncul dalam pelupuk mata.
"Nur ...!" sentak Mega yang melihat Nur melamun.
"Minum ini, mumpung hangat." Mega mendekatkan gelas berisi teh hangat ke depan temannya itu.
"Terima kasih," ucap Nur sambil menyesap teh hangat itu secara perlahan.
"Kalau sakit, kamu balik aja!" saran teman baru Nur tersebut.
"Nggak, udah baikan kok." Nur mencoba tersenyum, biar temannya tidak khawatir.
"Ya udah, ayo masuk!" Mega mengajak Nur ketika dilihatnya gelas itu sudah kosong tak bersisa.
***
"Ada cewek cantik tuh!" ujar Satria ketika melihat Nur dan Mega berjalan ke arah mereka. Raya melirik sekilas.
__ADS_1
"Yang bisa kencan sama tuh cewek, taruhin barang kesayangan kalian!" tantang Satria.
Lorong kampus yang semula terlihat biasa saja, kini nampak amat panjang ketika Nur dan Mega melewatinya. Bukan karena memang panjang betulan, itu semua karena efek beberapa mata yang menatap keduanya.
"Astaga! Benar-benar deh ... ngapain mereka duduk berbaris di sana?" ucap mega sambil bisik-bisik.
"Udah, Meg. Pandangan lurus ke depan. Usah noleh kanan kiri, tar malah bikin malu," timpal Nur sambil bercanda.
"Iya sih, tapi sumpah deh. Nggak nyaman banget. Berasa seluruh mata tertuju padamu, hihihih!" ucap Mega sembari meringis, bibirnya tak bisa menahan senyum. Sebenarnya mereka malu, melewati deretan cogan Kakak senior itu.
Tapi mau bagaimana lagi, mana mungkin mereka putar balik? Karena kelas udah ada di depan sana.
"Suit ... suit," siul salah satu di antara cowok-cowok tersebut.
"Astaga!" gumam Mega.
"Ayo, jalan terus!" bisik Nur Azizah.
Dukkk
Salah satu di antara mereka, melompat dan menghadang keduanya. Cowok yang kelihatan paling keren berhenti tepat di antara mereka berdua. Lebih tepatnya di depan Nur, cowok itu menghalangi Nur untuk berjalan dengan berdiri tepat di depan gadis itu.
"Anak baru?" Raya menatap Nur dengan tatapan penuh arti. Sepertinya ia sudah menargetkan Nur sebagai taruhan.
Nur mencoba tetap tenang, kemudian meneruskan langkah lagi.
Srekkk
"Saat senior bicara, pastikan kamu mendengarnya!" cetus Raya kemudian melepas tali warna coklat kulit dari gengaman tangannya.
"Berapa nomormu?" Raya langsung mengeluarkan ponsel dari saju jaketnya.
Nur dan Mega saling menatap, kemudian Mega menarik tangan Nur dan mengajaknya berlari meninggalkan pria-pria tanggung yang iseng tersebut.
Satria dan teman-temanya tertawa, sedangkan Raya, cowok itu tersenyum tipis menatap punggung Nur yang hilang masuk kelas.
"Menarik!" gumam Raya lalu berbalik dan mengumbar senyum ke arah teman-temanya.
***
Siang hari, matahari terasa menyengat. Nur pulang sendirian karena Mega teman barunya itu dijemput pacarnya. Ingin berteduh, Nur berjalan mendekati pohon yang rindang. Sembari menunggu taksi, ia pun mencoba memainkan ponsel. Memainkan beberapa game yang baru ia download. Lucu memang, HP pemberian Arya sangat bagus, Nur hanya sempat melihat di TV. Mana pernah ia bermimpi, bahwa akan memiliki benda secanggih itu.
Layarnya lebar dan bisa dilipat, amazing. Harganya mungkin setara dengan motor. Orang kaya memang begitu, seperti tidak sayang untuk membuang-buang uang.
Tin tin
Nur menoleh, dilihatnya cowok yang sempat menganggunya saat pagi tadi.
"Aku anter!" teriak Raya di balik helm teropong ala pembalas Rossy tersebut.
Terang saja Nur menggeleng keras dan mundur.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih," ucap Nur dan buru-buru menyetop taksi yang kelihatan dari jauh.
"Hey!" teriak Raya.
Nur langsung masuk ke dalam taksi.
"Jalan, Pak."
WUSH ....
Taksi biru dengan lambang burung pipit itu melaju menembus angin, memecah kemacetan yang terbentang di depannya.
***
Apartemen Arya.
Sore hari, Arya baru saja pulang. Sengaja ia tidak lembur, meski banyak pekerjaan di kantor. Pria itu penasaran, bagaimana pengalaman pertama Nur masuk kuliah.
"Bagaimana hari ini?" tanya Arya saat melihat Nur menyiapkan camilan di atas meja.
"Ah ... lumayan, Mas."
"Lumayan apanya?" Pria itu menyatukan kedua alisnya.
"Gedungnya bagus ...." ucap Nur datar dengan pura-pura senyum. Gadis itu terlihat gelisah. Ia masih menunggu tamu bulanannya, berharap segera datang.
Arya tersebut tipis, tidak menyangka jawaban Nur.
"Lalu ... bagaimana dengan teman dan dosennya?"
"Lumayan," jawab Nur singkat.
Mendadak keduanya sama-sama terdiam, tidak tahu mau membahas apa lagi. Begitulah kehidupan keduanya selama ini, mereka memang pasangan suami istri, tapi seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap. Jarang bertegur sapa, hanya bicara kalau perlu saja.
"Tolong ambilkan itu!" Arya menunjuk sekotak kue kering yang tadi baru ia beli.
Ketika Nur akan mengambilkan itu, tiba-tiba perutnya kembali terasa mual.
"Nur! Kamu kenapa?" Arya bingung, dilihatnya Nur lari sambil membekap mulutnya sendiri.
Terdengar suara Nur yang mual muntah di dalam kamar mandi, bersambung.
Wajah Arya seketika berubah. Berubah jadi apa? Tanya pak Tarno, jadi Satria Baja Hitam RX apa ultramen/ultramilk apa power rangger heheheh ....
Pengumuman
Noveltoon lagi mengadakan battle di banner aplikasi. Mohon dukungan kakak semua, kirim voting buat Rahim Bayaran ya
... ada hadiah untuk rank teratas. Terima kasih. Semoga Allah balas kebaikan kalian semua. Suwun gaes.
Instagram Sept_September2020
__ADS_1
Fb : Sept September