
Suamiku Pria Tulen #106
Oleh Sept
Rate 18 +
"Matikan ponselmu!" bisik Kevin yang mengintip semakin banyak wartawan yang datang dan mengarah ke ruangan mereka. Ia kira sudah aman. Ternyata para wartawan mengejar keduanya. Seperti ingin meminta penjelasan dari Lea, mengenai fakta baru. Tentang foto-foto Lea yang saat ini sudah beredar.
"Ma, nanti Lea jelasin."
Tut Tut Tut
Lea mematikan ponselnya, karena Kevin yang menyuruh. Dan memang terdengar banyak langkah kaki yang mengarah ke ruangan mereka.
"Gimana ini? Mati aku ... papa bisa mematahkan semua tulang-tulangku!" keluh Lea yang panik.
"Tidak ada ayah yang seperti itu. Tapi entahlah, bila mungkin itu bukan ayah kandungmu. Semua bisa saja terjadi!"
Wajah Kevin mengeras, sebenarnya ia sedang menyindir Rama. Papa tirinya yang sudah menusuknya dari belakang. Menikahlah calon istrinya dengan sang adik, membuat Kevin sulit melupakan kejahatan keluarganya tersebut.
Lea yang tidak mengerti apa-apa, memilih membaca WA yang sudah banyak masuk ke ponselnya.
[LEA KAMU DI MANA? SHARE LOKASI!!! SEGERA!]
Tubuh Lea langsung lemas ketika membaca pesan singkat dari sang papa. Pasti papanya itu sudah geram. Tidak pernah Arya selama ini mengirim pesan dengan huruf kapital dari awal sampai akhir.
***
Lima belas menit kemudian.
Semua tempat sudah disterilkan. Wartawan yang semula lalu lalang mengejar-ngejar Lea dan Kevin sudah dibuyarkan oleh pihak keamanan. Conference pres ditutup, tentunya setelah melahirkan judul skandal baru.
Tok tok tok
Kevin langsung membuka pintu, pria berpakain serba hitam dengan earphones di telinga menatap Lea saat pintu terbuka. Ditatap seperti itu, tanpa banyak suara, Lea ikut bersama mereka.
"Kau yakin itu orang-orang papamu?" cegah Kevin. Setidaknya ia harus memastikan Lea aman.
Lea yang sudah berjalan beberapa langkah, menoleh sebentar dan mengangguk. Dan itulah kali terakhir pertemuan keduanya.
***
__ADS_1
Satu bulan kemudian.
Kasus Alea Pramudya, putri pemilik perusahaan terkenal dan memiliki nama besar akhirnya bisa diatasi. Hari itu juga foto Lea yang terlanjur beredar di media online dan dunia maya langsung terblokir otomatis oleh sistem. Arya memerintahkan tim IT khusus terbaik untuk menangani scandal sang putri. Selain untuk melindungi nama perusahaan, yang paling penting adalah melindungi Lea.
"Ayo turun, kita makan malam bersama."
Nur membelai rambut putrinya yang berbaring sambil memeluk guling. Lea tidak mau menjawab ajakan sang mama. Ia memilih pura-pura tidur. Lea berontak, ia protes. Namun, tidak ada yang mau mendengarnya.
Lea harus puas, karena sebulan ini dikurung di dalam rumah tersebut. Sebuah sangkar emas yang membuatnya jenuh. Biasa keluyuran kini kakinya terasa terpasung.
"Kamu marah sama papa karena tidak mengijinkanmu keluar?" tanya Nur kembali, sembari merapikan anak rambut Lea yang menutupi wajahnya yang cemberut. Nur tahu, Lea tidak tidur. Putrinya itu pasti pura-pura dan sedang merajuk.
"Sudahlah, kalau kamu patuh dan tidak aneh-aneh. Papa pasti membebaskan hukumannya."
"Kalian egois! Ini melangar HAM! Kalian mengurungku bagai tawanan!" sentak Lea yang sudah frustasi karena satu bulan full tidak bisa keluar rumah.
Nur sampai kaget, melihat kemarahan Lea. Selama ini Lea memang berbeda, lain dengan saudaranya. Lebih berani mengatakan perasaannya. Ia selalu berontak dan tidak patuh. Tapi, baru kali ini anak gadis itu membentak sang mama.
Nur sampai shock, dan kebetulan Arya tadi ada di dekat sana. Arya berniat membebaskan hukumannya malam ini. Tapi, melihat betapa tidak sopannya Lea pada sang istri. Arya yang sudah tua langsung terpancing. Darahnya mulai melonjak naik drastis.
"LEAAA!" teriak Arya.
Lea dan Nur sampai tersentak. Arya tidak pernah semarah itu selama ini.
Lea menelan ludah, ditatapnya mata sang papa yang menyalak marah pada dirinya. Jujur, Lea sampai merinding.
"Sudah, Pa ...!" Nur mencoba mereda emosi sang suami.
"Jangan membela anak kurang ajar ini!"
Deg
Dada Lea langsung sesak, seperti ada yang mencengkram ulu hatinya.
"Paaa!" pekik Nur yang terkejut mendengar kata-kata Arya. Mungkin itu terdengar menyakitkan di telinga sang putri. Sebab Nur dapat menyaksikan kekecewaan di mata Lea. Gadis itu menatap nanar ke arah suaminya.
"Kenapa memelihara anak nakal seperti ini? Kenapa nggak Papa usir saja Lea? Papa pikir Lea suka hidup jadi anak Papa? Banyak aturan selalu dibandingkan dengan mbak Cua dan mas Kenan. Papa pikir Lea suka tinggal di sini?"
PLAKKK
"Paaa!" pekik Nur.
__ADS_1
Seketika mata Lea berkaca-kaca, ini adalah tamparan pertama dari sang papa. Kecewa dan sakit hati, Lea berlari keluar rumah. Ia menerobos penjaga yang menghadang. Tiba sampai di gerbang utama. Lea menendang pagar besi yang menghalangi aksi kaburnya.
Arya yang sudah keluar, mengangguk ke arah penjaga. Seolah mengatakan, biarkan putrinya itu keluar dari rumah. Begitu pagar terbuka, Lea pun menghilang di tengah gelap malam.
"Leaaa .... Leaaa!" Nur mau mengejar. Tapi ditahan oleh suaminya.
"Hentikan! Biarkan dia belajar di luar sana!"
"Papa kejam, setelah memukulnya sekarang Papa membiarkan ia di luar sana. Bagaimana nasibnya Pa. Di luar sangat bahaya!" Nur memukuli dada Arya. Ini semua karena Arya terlalu keras pada putrinya tersebut.
"Cukup! Masuk lagi ke dalam. Biarkan Lea belajar di luar sana!" Arya langsung masuk ke dalam. Wajahnya nampak marah dan kesal karena memiliki anak yang susah diatur serta berontak. Tapi, hatin kecilnya mencemaskan sang putri kesayangannya tersebut.
Begitu masuk kamar, ia menghubungi orang suruhannya.
"Pastikan dia aman. Jangan biarkan dia tahu kalau sedang diawasi."
"Baik, Tuan."
Setelah menghubungi orangnya, Arya langsung bersiap tidur. Melihat suaminya bisa tidur dengan tenang setelah apa yang terjadi. Nur marah-marah, ia akhirnya ikut merajuk dan memilih tidur di kamar Lea. Semalam ia menangis dan menghubungi kawan Lea satu persatu. Meminta untuk menahan Lea bila putrinya itu ke rumah mereka. Ia berpesan, untuk menyampaikan pada Lea. Bahwa mamanya akan segera menjemputnya.
***
Lea berjalan menyusuri trotoar. Tidak membawa ponsel tidak membawa uang, ia berjalan seperti gelandangan. Tidak jauh dari sana, sekretaris Willi mengamati sosok Lea dari belakang.
"Kenapa melambat? Ada sesuatu?" tanya Kevin yang sedang mengamati layar tap di pangkuannya.
"Tuan ... itu nona Lea, bukan? Untuk apa ia berjalan di pingir jalan malam-malam begini?"
Kevin semula acuh, tapi lama-lama penasaran. Ia pun melirik sekilas ke arah jendela.
"Apa kita hentikan mobilnya, Tuan?"
"Tidak! Terus saja!" jawab Kevin tanpa peduli.
Baru juga beberapa meter, Kevin langsung berubah pikiran.
"Stop!"
Chitttt
Willi mengerem mendadak. Setelah itu mobil mundur dan menghampiri Lea.
__ADS_1
"Masuk!" seru Kevin sambil membuka pintu dari dalam. Bersambung.