Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Manusia Jahat


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #97


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ini yang terakhir! Lain kali aku nggak mau kaya gini!" ucap Dita setengah berbisik.


"Maaf, harus merepotkanmu."


Dita berjalan melewati Kendra menuju ke samping bibi, ia kesal pada laki-laki itu. Kok bisa mengundang tamu ke sana? Kali ini anggap ia sedang baik hati, untuk pertama juga terakhir, pikir Dita.


Saat suasana antara pasutri itu masih terasa dingin, tiba-tiba atasan Kendra muncul.


"Ken! Bisa minta air putih?" Bu Ayu menerobos masuk ke dapur. Sebenarnya ia sengaja. Penasaran sekaligus ingin melihat-lihat sebesar apa apartment anak buahnya itu, dan juga ingin tahu sosok istri Kendra. Kan dari tadi belum muncul sama sekali.


Bibi buru-buru membuka kulkas, ia kemudian mengulurkan air mineral kemasan pada bu Ayu.


"Terima kasih!" ucap bu Ayu dengan mata nanar.


Matanya hampir jatuh, meloncat keluar karena kaget. Sambil minum ia melirik perut Dita yang sudah sangat besar. Dengan wajah canggung, wanita itu pun pamit pergi untuk kembali berkumpul dengan rekan kerjanya.


Ruang tamu.


Kendra muncul bersama Dita, tentunya dengan jarak aman. Dita memang tidak suka dekat-dekat dengan suaminya itu. Ia menjaga jarak seolah Kendra memiliki penyakit yang menular.


"Sudah berapa bulan?" tanya rekan kerja Kendra yang paling tua.


"Tujuh," jawab Dita dengan tenang.

__ADS_1


Entah mengapa, niatnya tadi semua mau happy-happy. Makan-makan sambil mencandai Kendra tentang malam pertama pengantin baru tersebut. Tapi, apa yang terjadi saat ini.


Atmosphere di ruangan itu tiba-tiba saja menjadi canggung, dingin dan kaku. Padahal, sepanjang perjalanan. Mereka semua kompak membully Kendra. Kini semua seperti mulutnya sudah dijahit. Apalagi bu Ayu, menatap tajam ke arah parah anak buahnya. Seolah mengingatkan, jangan membahas kehamilan istri Kendra.


Akhirnya mereka makan malam seperti makan malam resmi di kedutaan besar. Tenang, rapi, tanpa suara. Benar-benar sesuatu yang mencanggungkan. Usai makan, semua pamit satu persatu. Dan Kendra mengantar sampai lift.


"Kami semua pulang dulu. Terima kasih jamuannya."


Bu Ayu pamit, ia pulang duluan. Diikuti para anak buahnya.


"Gue pulang dulu ya, Bro ...BTW Lo bener-bener gila!" seru salah satu teman baiknya di kantor sambil bercanda.


Kendra menatap tak enak. Teman-temannya pasti shock. Karena istri yang baru ia nikahi ternyata sedang berbadan dua. Mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi lontong.


Beberapa saat kemudian.


"Jangan, Tuan. Sudah mau selesai. Tuan istirahat saja."


Bibi tidak mau Kendra membantu dirinya, alhasil Kendra pun masuk ke kamarnya. Sendirian, tidur sendiri, mandi sendiri, makan pun sendiri. Semuanya ia lakukan sendiri. Hampir tidak ada bedanya, menikah atau bujang. Semua sama saja bagi Kendra.


Pagi harinya, suara cuitan burung terdengar merdu. Tapi berisik bagi Kendra. Semalam sampai larut ia tidak bisa tidur. Alhasil, pagi ini ia masih sangat mengantuk. Untung saja ini weekend. Ia bisa tidur sampai siang.


Nah, kalau weekend begini, Dita yang kerepotan. Mau keluar kamar tapi enggan bertemu dengan suaminya itu. Alhasil, ia kalau keluar kamar sudah mirip pencuri. Harus ngintip-intip terlebih dahulu.


***


Pukul 10, padahal tadi sudah makan banyak. Tapi Dita merasa lapar dan lapar. Sambil mengintip, dan terlihat aman. Dita buru-buru ke dapur.


"Mau aku buatkan sesuatu?"

__ADS_1


Dita kaget, ia memegangi dadanya. Ia kira di dapur tidak ada orang. Ternyata ada Kendra, dari wangi aroma kopi. Sepertinya suaminya itu sedang membuat kopi.


"Tidak! Terima kasih!" buru-buru Dita berbalik.


"Tunggu! Aku sudah selesai. Jangan merasa tidak nyaman karena keberadaanku!" Kendra berjalan melewati Dita. Tentunya dengan hati yang perih. Karena sepertinya Dita begitu sangat membenci dirinya.


"Kenapa aku nampak sepertinya orang yang kejam!" batin Dita. Ia kemudian membuka kulkas. Kemudian mengambil kotak brownies kesukaanya.


"Dia yang kejam. Bukan aku!" Dita memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Ia lakukan terus-terusan. Hingga mulutnya penuh.


"Dia yang jahat, kan?" gumam Dita. Ia makan sambil mengusap pipinya. Dita makan sambil menangis. Hormon ibu hamil membuat Dita gampang emosional. Emosinya tidak stabil naik turun dan banyak mellow.


***


Kediaman Pramudya.


"Bagaimana interview kemarin?" tanya Nur pada putrinya yang baru bangun tidur. Sudah pukul 10 pagi, anak perawan itu baru bangun.


"Gagal, Momm!"


"Gagal?" tanya Nur tidak percaya.


"Hem ... Mungkin perusahaan mereka butuh orang cerdas macam mas Kalen dan mbak Cua." Lea memasang wajah sedih dan pasrah. Tentunya wajah kesedihan yang palsu.


"Bicara apa sih kamu ini, tadi pagi ada telpon dari perusahaan itu. Kamu lolos seleksi awal kok. Malah senin depan sudah disuruh masuk."


"APAAAA?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2