
Suamiku Pria Tulen #71
Oleh Sept
Rate 18+
Setelah pergulatan sengit yang singkat, keduanya langsung mandi secara bergantian. Begitu Irna selesai, buru-buru ia keluar dari kamar itu. Irna mau memeriksa Kendra, apa anaknya itu baik-baik saja. Sedangkan Rama, ia masih seperti biasanya. Memasang muka dingin adalah ciri khas pria tersebut.
Setelah mencari-cari, akhirnya Irna menemukan kedua putranya. Kevin sedang sibuk main game di ponsel, dan Kendra sudah tidur terlelap di atas ranjang yang besar di kamar tamu.
"Terima kasih, Bik sudah menjaga putra saya," ucap Irna dengan canggung. Ia merasa tidak enak. Menitipkan anak-anaknya karena harus bergelut dengan Rama.
Kalau diingat-ingat ia jadi malu sendiri. Malu serta sebal secara bersamaan.
Beberapa saat kemudian, terdengar derap langkah yang makin dekat. Dari iramanya yang dinamis, Irna bisa menebak. Itu pasti Rama yang datang. Mengapa ia jadi deg degan sendiri? Itu hanya Rama. Ya, hanya Rama. Tapi, sekarang jantung irna jadi sedikit terpacu. Berdetak lebih cepat saat menyadari siapa yang akan datang.
"Ayo makan, kalian pasti lapar."
Irna tidak berani menatap mata Rama saat pria itu bicara pada dirinya.
"Ayo Kevin!" Rama kemudian mendekati putra pertama Irna. Mungkin ia mulai tahu caranya mendekati seorang wanita yang punya anak. Dekati dulu anaknya, baru kemudian ibunya.
Kevin hanya menatap sekilas lalu acuh kembali.
"Aku punya seperangkat alat game terbaru, dan hanya ada beberapa. Edisi terbatas, kau mau?"
Seketika mata jernih itu menatap dengan berbinar. Rama tahu, selain penyuka seni, putra pertama Irna sangat gila game.
"Ayo, ikut denganku!"
Tidak menunggu ajakan kedua. Kevin langsung mengekor pada Rama. Irna sampai heran, mengapa Rama banyak berubah. Apa bongkahan es sudah mencair?
***
Saat sarapan di meja makan yang sama, sejak tadi Irna mencoba bersikap biasa. Ia menyadari bahwa Rama terus saja menatapnya. Dan itu membuatnya tidak nyaman karena diperhatikan terus tanpa jeda.
Setelah sarapan selesai, Kevin langsung pergi ke kamarnya. Ia mau mencoba mainan baru pemberian Rama. Anggap saja itu sebagai suap untuk yang pertama. Sedangkan Irna, ia sedang bermain dengan Ken.
"Kau tidak kerja?" tanya Irna basa-basi ketika Rama duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Kau mengusirku?"
__ADS_1
"Ini tempat tinggalmu, mana mungkin aku mengusir pemilik rumah?" ucap Irna dengan canggung. Setelah kejadian tadi malam, ia memang merasa aneh. Ada rasa tidak biasa, hingga membuat Irna malu menatap dua bola yang terus tertuju padanya.
"Kalau bicara, tatap matanya. Aku lihat dari tadi pagi kau sama sekali tidak mau menatapku." Rama berdiri tepat di depan Irna. Seolah meminta wanita itu untuk menatap wajahnya bila mereka sedang berbicara.
Irna malah pura-pura bicara pada Kendra.
"Ken lapar nggak?" tanyanya sambil bermain dengan putranya. Dan Rama merasa dicuekin.
"Tadi habis makan, jangan mengalihkan perhatian," sela Rama.
Irna mendesis kesal.
"Sana ... berangkatlah kerja. Aku tidak akan kabur dari rumah ini!" cetus Irna kemudian.
"Jangan mengaturku!" ujar Rama galak. "Dan Berikan padaku! Aku juga ingin mengendongnya," tambah Rama sambil mengulurkan tangan.
Dengan sayang Rama meraih tubuh Kendra yang munggil.
"Tampan sekali," puji Rama lirih.
"Sama sekali tidak mirip denganmu," sahut Irna.
"Dilihat dari mana?" Irna mengeryitkan dahi. Memang kalau dilihat sekarang, wajah keduanya sama sekali jauh berbeda. Karena Rama sudah melakukan operasi plastik beberapa tahun silam.
Mengingat akan hal itu, Rama tersenyum kecut. Tiba-tiba teringat pikirannya tentang Arya. Bagaimana kabar pria itu?
"Awas jatuh!" teriak Irna.
Karena melamun memikirkan Arya, hampir saja Ken yang banyak tingkah terjatuh dari gendongan sang ayah.
"Sini ... berikan padaku saja." Irna meraih tubuh Ken kembali.
Rama pun duduk kembali, ia malah jadi melamun. "Sial!" umpatnya dalam hati. Bisa-bisanya masih memikirkan laki-laki lain.
"Aku masuk dulu, sepertinya Ken pup," ucap Irna yang menyadarkan Rama dari lamunannya.
"Hemm!"
Di dalam kamar tamu. Ketika sedang mengantikan popok Kendra, tiba-tiba ponsel Irna berdering.
Sebelum mengangkat telpon, Irna menatap ragu pada layar ponselnya. Apa dijawab atau tidak. Akhirnya ia mengabaikan saja. Tapi, nomor itu kembali menelpon.
__ADS_1
"Ada apa menghubungiku?" tanya Irna dengan ingin.
"Kau di mana?"
"Bukan urusanmu!"
"Apa Kevin di situ? Bisahkan aku bicara dengannya?"
"Jangan omong kosong! Tidak usah menghubungi aku lagi!"
"Na ... Nana!" teriak pria di seberang telpon.
"Aku mohon baik-baik, tidak usah menganggu hidup kami lagi!"
"Ayolah, Na. Aku hanya ingin bertemu putraku!"
"Jangan usik Kevin, bukankah dulu kau yang minta mengugurkan anak itu?"
"Na ...!"
Tut Tut Tut
Irna membanting ponselnya dengan kesal ke atas ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Irna takut, ayah kandung Kevin meminta hak asuh anak mereka.
"Siapa?" tanya Rama tiba-tiba. Rupanya sejak tadi Rama berdiri di ambang pintu dan sepertinya mendengar semua pembicaraan Irna di telpon.
"Bukan ... bukan apa-apa."
"Sepertinya kali ini kamu membutuhkan aku."
"Tidak, terima kasih!" jawab Irna ketus. Kesal pada ayah kandung Kevin tapi ia lampiaskan pada Rama.
"Aku bisa jamin, dapat mempertahankan Kevin agar tetap bersamamu."
Irna mendongak. Ia penasaran, mengapa Rama begitu yakin.
"Caranya?" Irna mengeryitkan dahi sembari menatap penuh tanda tanya.
"Menikah denganku."
Bersambung.
__ADS_1